Batik dari Seni jadi Ekonomi

Batik bukanlah barang baru. Hampir semua orang indonesia terlebih lagi orang Jawa sudah barang tentu mengenal batik. Batik memang tidak berasal hanya dari Jawa saja, tetapi batik yang paling populer adalah batik Jawa. Batik Jawa sendiri berkembang tidak hanya di satu tempat melainkan berkembang di beberapa tempat yang terkenal seperti Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, Lasem, dan beberapa tempat lainnya. Oleh karena itu, penamaannya juga diberikan berdasarkan tempat produksinya. Batik berasal dari Yogyakarta disebut Batik Yogya, sedangkan yang berasal dari Surakarta kerap disebut batik Solo dan seterusnya. Masing-masing daerah tersebut memiliki perbedaan-perbedaan yang menjadi ciri khas. Ciri khas masing-masing daerah dapat berwujud dari motifnya.

Batik sebagai Karya Seni

Batik adalah salah satu karya seni tradisional masyarakat Jawa yang memiliki tradisi dan sejarah yang panjang dan kuat. Sebagai suatu karya seni, batik memiliki nilai-nilai estetis yang terkandung dari beberapa aspek. Salah satu aspek keestetisan itu terletak pada motifnya. Motif dalam batik sangat beragam. Dalam tradisi batik masa lalu, setiap motifnya memiliki gagasan, fungsi penggunaan yang tidak sembarangan. Ada motif yang hanya dipakai oleh raja, ada motif batik yang tidak boleh digunakaan untuk keperluan upacara kematian, dan lain sebagainya.

Teknik pembuatan batik turut menentukan nilai suatu batik. Di Jawa ada beberapa teknik umum yang digunakan dalam memproduksi batik. Pada mulanya teknik batik hanya satu yaitu teknik tulis. Dalam teknik tulis, membatik memiliki kesulitan yang lebih tinggi. Kain digambari satu demi satu hingga menghasilkan motif, baru kemudian diberi malam disesuaikan dengan warna yang diinginkan. Pewarnaan pada batik menggunakan pewarna alami misalnya untuk warna merah menggunakan daun jati. Keunggulan teknik tulis adalah batik yang berhasil dibuat tidak akan ada batik lainnya yang sama persis dengan batik itu. Sehingga bersifat langka dan memiliki nilai yang tinggi.

Selain teknik tulis, teknik cetak adalah teknik lainnya dalam proses membatik. Pada teknik ini, alat yang digunakan adalah pencetak yang bermotif seperti apa yang diinginkan. Pencetak biasanya terbuat dari logam. Cetakan dicelupkan ke malam yang sudah dicampuri pewarna, kemudian ditempelkan ke media membatik. Dalam teknik cetak, batik dapat diproses secara massal dengan cetakan yang sama. Oleh karena itu, umumnya batik cetak bernilai lebih rendah ketimbang batik tulis.

Batik Moderen

Saat ini istilah batik moderen menjadi populer seiring berkembangnya dunia batik di tanah air. Moderenisasi batik adalah salah satu upaya para pembatik untuk menjadikan batik lebih bernilai secara ekonomis. Moderenisasi tersebut  meliputi motif, media dan penerapan batik. Terkait dengan motif, saat ini motif batik di Jawa mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Para pembatik terus mengembangkan motif-motif moderen. Motif moderen yaitu penyesuaian motif-motif lama yang sudah ada dengan cara digabung untuk mendapatkan komposisi yang estetis. Tidak sekedar penggabungan semata, tetapi terdapat unsur intuitif yang digunakan oleh pembatik.

Penerapan batik juga berkembang. Batik yang dahulu hanya diterapkan pada jarik atau kain dan kemeja, saat ini diterapkan juga di berbagai benda. Mulai dari sepatu, tas, celana pendek, kolor, kaos, mobil, motor, plester, kertas kado, pernak-pernik, furnitur, dan masih banyak lagi.

Batik yang Melirik Pasar

Sejak awal diciptakannya batik telah banyak mengalami perubahan. Pergeseran fungsi dan penggunaan batik turut mendorong ekonomisasi batik. Pada zaman dahulu, untuk menemukan motif batik saja orang harus melakukan semedi. Berbeda dengan sekarang, menemukan motif baru yaitu dengan melihat pasar. Motif seperti apa yang disenangi pasar, maka motif itulah yang akan dibuat. Selain itu, ide, dan nilai-nilai budaya dari batik itu sendiri cenderung pudar. Batik saat ini berlomba-lomba untuk lebih fashionable. Nilai-nilai artistik dan estetik diutamakan. Nilai-nilai religi, klenik, mulai ditinggalkan. Misalnya saja, motif batik yang digunakan hanya untuk seorang sultan saat ini bisa saja digunakan oleh orang biasa. Motif-motif yang sakral digunakan pada sofa. Tentu saja sudah bergeser dari fungsi sebelumnya. Sekarang, setiap orang bebas menggunakan motif batik mana yang ia sukai tanpa memandang lagi nilai-nilai budaya.

Meskipun demikian, melalui moderenisasi batik, batik kini memiliki kekuatan ekonomi yang luar biasa. Perekonomian masyarakat di daerah-daerah sentra produksi batik naik secara signikan.Industri batik mendorong perekonomian nasinal. Berdasarkan data Kementrian Perindustrian, selama tahun 2010 saja konsumen batik telah mencapai angka 72,86 juta jiwa di seluruh Indonesia. Tentu saja belum termasuk konsumen luar negeri. Dari jumlah itu, diketahui bahwa minat masyarakat terhadap batik semakin meningkat. Peningkatan itu terjadi setelah UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.

Meningkatnya minat masyarakat dengan batik seiring dengan kesadaran pelestarian budaya. Masyarakat mulai menyadari betapa pentingnya karya-karya budaya seperti batik setelah insiden pengakuan batik oleh Malaysia beberapa tahun silam. Klaim Malaysia atas batik secara tidak langsung menyadarkan arti penting batik dalam dunia budaya. Sebelum munculnya klaim Malaysia atas batik, masyarakat semakin meninggalkan batik. Batik menjadi sepi peminat, para pengrajin gulung tikar. Batik terkesan formal, norak, sehingga banyak orang merasa tidak percaya diri untuk menggunakannya.

Batik memang menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan yang baru. Berbagai industri batik dari skala kecil hingga besar bermunculan. Kekuatan ekonomi batik sendiri sudah teruji. Salah satu contoh pengusaha batik yang mengembangkan batiknya dari dulu hingga kini adalah Danarsih Santoso, pengusaha pemiliki usaha batik berlabel Danarhadi. Usaha yang ia dirikan saat ini telah memiliki 10.000 pegawai dengan 20 gerai yang tersebar diseluruh kota-kota besar di Indonesia.

Semenjak berhembusnya angin segar dengan adanya pengakuan UNESCO batik berkembang tidak hanya secara hilir. Dari hulu, industri canting juga meningkat tajam. Canting merupakan alat untuk menempelkan malam pada mori. Canting dibuat dari tembaga yang dibuat secara tradisional. Di Pekalongan misalnya, saat ini pengrajin canting sudah mencapai lebih dari 70 pengusaha. Kordinasi antar pengusaha serta minimnya pekerja membuat hambatan tersendiri para pengrajin.

Batik di Dunia

Dampak perkembangan batik secara ekonomi tidak hanya berskala nasional, tapi juga berskala dunia. Dari sisi ekonomi, ekspor batik ke luar negeri per tahun 2010 saja mencapai angka yang luar biasa yakni sebesar US$ 69 juta. Negara-negara tujuan ekspor antara lain Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Malaysia. Angka itu menunjukan bahwa pengakuan dunia atas batik Indonesia yang ditopang batik-batik Jawa sangat besar. Banyak orang asing yang tertarik menggunakan mempelajari hingga mengembangkan batik.

American Batik Desaign Competition yang diadakan di Hotel The Palace, San Francisco, Amerika Serikat, awal November lalu merupakan salah satu wujud promosi sekaligus pengembangan batik di luar negeri. Dalam acara itu, diadakan kompetisi membatik masyarakat disana. Mereka mengembangkan batik dengan motif-motif lokal yang ada di negaranya. Melalui kegiatan itu, masyarakat Amerika semakin tertarik terhadap dunia batik sehingga ingin mempelajarinya.

Referensi

http://suaramerdeka.com

http://www.tempo.co

http://bisniskeuangan.kompas.com/

http://economy.okezone.com

Filologi di Indonesia

Filologi di Indonesia

Oleh : Rizky Ramadhani, 1006700072 ( Mahasiswa Program Studi Jawa, Universitas Indonesia )

Rangkuman dari buku Pengantar Filologi Jawa oleh Karsono H. Saputra, Widya Sastra

 

  • Filologi di Indonesia merupakan bidang ilmu yang mempelajari tentang naskah dan teks lama. Kajian filologi terbagi menjadi dua bagian yakni kodikologi dan tekstologi. 
  • Kodikologi merupakan ilmu yang mempelajari  tentang wujud fisik naskah seperti alas tulis, sampul, tinta, rubrikasi, iluminasi, aksara dan lain-lain yang sifatnya dapat dilihat, diraba, dipegang, atau dirasakan. 
  • Tekstologi adalah kajian ilmu yang mempelajari tentang kandungan isi teks dari suatu naskah yang dinyatakan dalam bahasa atau tanda lain yang sesuai dengan jenis wacananya. 
  • Naskah dan teks merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Naskah merupakan wadah sedangkan teks berupa isi.
  • Untuk membaca suatu teks, seseorang harus menguasai tentang aksara serta ejaannya, memahami bahasa yang digunakan, memiliki pengetahuan budaya sehingga tidak terjadi kesalah pengertian isi teks. 
  • Antara teks tulis teks lisan dan karya seni lainnya kadang kala memiliki hubungan intertekstual. 
  • Teks ditulis berkemungkinan berpangkal dari teks lisan kemudian ditulis kemudian dilisankan kembali atau sebaliknya dari teks tulis kemudian dilisankan, kemudian ditulis kembali, dan seterusnya.
  • Perbedaan antara naskah dan buku terletak pada keberadaannya sebagai wujud suatu benda. Naskah bersifat khas dalam pengertian tidak ada duanya karena setiap naskah tidak ada yang sama persis meskipun dengan penulis dan jenis naskah yang sama.
  • Pengertian naskah dalam kajian sastra lama mengandung matra khas dan lama. Pengertian lama mengacu pada ketradisonalan wujud naskah yaitu terkait alas tulis, aksara, proses produksi yang memiliki matra jarak waktu dan jarak budaya. Istilah matra lama juga memiliki pengertian bahwa naskah berupa peninggalan tertulis
  • Perbedaan naskah dan prasasti sebagai peninggalan tertulis :
  • Naskah  beralas tulis yang umumnya mudah lapuk, berkemungkinan direproduksi, isinya kemungkinan berpanjang-panjang, kebanyakan bersifat fiksi, dan memiliki mobilitas yang cukup tinggi
  • Prasasti menggunakan alas tulis berupa benda keras seperti batu, tidak pernah digandakan, isinya pendek, biasanya berisi suatu perkara, isi merupakan fakta yang benar-benar terjadi, relative berada dilokasi semula kecuali keperluan tertentu
  • Alas tulis merupakan bahan yang ditulisi pada suatu naskah. Teknik pembuatan alas tulis beragam tergantung bahan dan teknologi yang dikuasai oleh masyarakat.
  • Bahan alas tulis yang umum digunakan dalam pernaskahan di Nusantara antara lain: daun nipah, rontal, bambu, kulit kayu, daluang atau dluwang.
  • Kertas eropa mulai digunakan di Nusantara setelah VOC masuk. Penggunaan kertas Eropa di Nusantara berkembang karena faktor kepraktisan dalam penyedian, proses penulisan, serta penjilidannya. 
  • Pada masa Jawa kuna tradisi pernaskahan juga mengenal karas dan pundak sebagai alas tulis.
  • Aksara, selain sebagai alat bantu komunikasi juga dapat menjadi sarana perekam cara berpikir, adat, norma, dan unsur budaya, yang dapat menjadi sarana dokumentasi budaya. Aksara naskah-naskah nusantara memiliki nuansa kedaerahan karena masing-masing aksara mewakili suatu daerahnya sendiri
  • Keragaman bahasa yang digunakan turut memperkaya tradisi pernaskahan Nusantara. Dengan memperhatikan bahasa yang digunakan suatu naskah, kita dapat memperkirakan dari lingkup mana serta dari masa kapan teks tersebut berasal.
  • Objek komunikasi suatu naskah adalah teks, dan bersifat searah. 
    • Pemahaman aksara diperlukan dalam membaca teks. Bentuk aksara, alfabet, ejaan yang digunakan suatu naskah berkemungkinan berbeda dengan saat ketika naskah dibaca. Kekhasan gaya dan corak penyalinan atau penulisan naskah turut memperkaya keragaman tradisi pernaskahan.
    • Bahasa merupakan sarana ungkap teks Sistem suatu bahasa berkemungkinan berbeda terkait sifatnya yang dinamis dari masa ke masa. Sehingga dibutuhkan adanya pemahaman bahasa dalam memahami teks.
    • Prosodi sastra juga dibatasi oleh ruang dan waktu, pemahaman kaidah sastra akan membantu pemahaman suatu teks. 
    • Pembaca teks masa lalu harus memahami konvensi budaya ketika teks tersebut diciptakan, sehingga  pembaca akan memahami isi teks secara utuh.
    • Teks pada dasarnya mengandung rekaman unsur budaya, serta memiliki keanekaragaman kandungan isi.
    • Pengelompokan isi teks berbeda-beda tergantung sudut pandang yang digunakan.
  • Pengetahuan mengenai kapan suatu teks ditulis membantu menafsirkan makna teks bersangkutan, atau malah sebaliknya.
  • Umur naskah dapat diketahui dari alas tulis, kolofon, dan kelopak naskah. Selain itu bisa juga dengan analisis kimiawi meskipun lebih sulit.
  • Umur teks dapat dicari dari manggala, tafsiran nama dan peristiwa sejarah yang termaktub, atau melalui perbandingan aspek kebahasaan.
  • Naskah nusantara banyak tersebar diberbagai negara di dunia, penyebabnya antara lain, perdagangan, hadiah kepada pihak tertentu, pemaksaan atau perampasan, atau bahkan penggabungan sebab-sebab tersebut.
  • Katalog merupakan daftar naskah yang disimpan oleh suatu lembaga. Informasi awal mengenai suatu naskah didapat dari katalog. Semakin luas informasi suatu katalog semakin baik pula katalog tersebut. 
  • Mata rantai proses penciptaan suatu teks berkemungkinan dari teks lisan kemudian menjadi teks tulis kemudian menjadi teks lisan lagi, kemudian menjadi teks tulis, dan seterusnya atau kebalikannya. 
    • Tujuan penciptaan suatu teks disesuaikan dengan situasi budaya ketika ketika suatu teks ditulis.
    • Teks kemungkinan ditulis untuk mencatat peristiwa yang terjadi pada saat itu. Selain itu kemungkinan juga ditulis atas perintah penguasa, persembahan, atau akumulasi dari berbagai alasan itu.
    • Penyalinan naskah atau reproduksi naskah menyebabkan suatu teks terawetkan.
    • Tradisi penyalinan teks terbagi menjadi dua jenis yaitu penyalinan terbuka dan penyalinan tertutup. Penyalinan terbuka adalah proses penyalinan yang dilakukan yang sifatnya tidak setia terhadap naskah induk yang disalinnya. Sementara itu, penyalinan tertutup adalah proses penyalinan yang ditulis sama persis dengan naskah induknya, meskipun berkemungkinan terjadi dittografi.
    • Alasan suatu naskah disalin yaitu untuk melestarikan teks dari suatu kepunahan, ingin memiliki teks, atas perintah pihak lain, atau alasan ekonomi.
    • Skriptorium adalah tempat berlangsungnya suatu penciptaan teks. Skriptorium terbagi menjadi dua bagian yaitu, skriptorium keraton dan skriptorium luar keraton. Skriptorium luar keraton contohnya pesantren dan mandala.
    • Skriptorium bersangkut paut pada unsur-unsur naskah dan isi teks, serta terkait pada umur naskah dan umur teks.
    • Pengarang adalah orang yang melahirkan suatu teks atau orang yang melahirkan karya pertama kali. Pengarang, dalam tradisi pernaskahan jawa disebut juga sebagai pujangga.

Empang

Empang : Kearifan Lokal Yang Terlupakan
Oleh : Rizky Ramadhani, 1006700072

Kota Jakarta seringkali dikatakan sebagai kota dengan kehidupan yang keras. Berbagai etnis dengan latar belakang berbeda berbaur membentuk kebudayaan baru yang kemudian disebut sebagai kebudayaan urban. Setiap orang dituntut untuk mampu bertahan hidup. Cara masyarakat urban bertahan hidup sangat beragam diberbagai bidang, salah satunya di bidang perikanan. Masyarakat betawi misalnya, memiliki cara sendiri dalam memanfaatkan lahan untuk pembudidayaan ikan air tawar, yaitu dengan membuat empang.

Empang adalah ekosistem buatan tempat pembudidayaan ikan air tawar konsumsi seperti ikan mas, nila, gurami, lele, patin, dan lain-lain. Dari segi lokasi, empang pada umumnya dibuat di bagian cekungan kontur wilayah, atau lembahan yang umumnya dialiri sungai. Air sungai tersebut kemudian diarahkan ke empang melalui saluran irigasi. Empang biasanya dibuat tidak hanya satu tetapi beberapa buah dalam satu kawasan yang sama. Ukuran empang beragam disesuaikan luas dan kontur tanah. Dalam menjaga stabilitas pH air, empang dilengkapi dengan sistem sirkulasi air yang baik. Artinya, ada grojogan (semacam pancuran) air masuk, dan saluran air keluar, sehingga kualitas kesehatan air tetap terjaga.
Selain sebagai lahan mata pencaharian yang ekonomis, tanpa disadari empang ternyata merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat betawi. Empang yang semula hanya berfungsi sebagai tempat pembudidayaan ikan saja, kini di sadari memiliki fungsi sebagai penampung air saat musim hujan. Ketika air sungai meluap air akan dialirkan melalui saluran irigasi ke empang. Sehingga kelebihan kapasitas air di sungai dapat dipecah dan beban sungai menurun. Kondisi ini akan mengurangi kemungkinan terjadinya banjir yang kerap terjadi di wilayah Jakarta terutama saat musim hujan.

Tidak hanya berfungsi sebagai penampung air, empang juga kini memiliki fungsi rekreasi. Empang saat ini dikembangkan sebagai lahan pemancingan. Bagi para penggiat mancing, sarana pemancingan merupakan sarana yang efektif menghilangkan kepenatan sehari-hari. Tidak heran, saat akhir pekan pemancingan dipenuhi oleh para pemancing. Tentu saja hal itu menambah nilai ekonomi tersendiri pemilik empang.

Empang merupakan bentuk nyata upaya masyarakat betawi memahami dan memanfaatkan lingkungannya. Sayangnya, empang saat ini mulai terlupakan oleh masyarakat. Empang kini semakin tergusur oleh pembangunan pemukiman yang sangat pesat. Empang semakin sulit ditemui di kota Jakarta, hanya beberapa saja yang masih dipertahankan di daerah penyangga seperti Depok, Bekasi dan Tangerang. Itupun dengan kondisi yang memprihatinkan. Pasalnya, empang yang masih bertahan pada umumnya dibuat diatas tanah yang telah dijual kepada pengembang perumahan. Empang yang tersisa sudah bukan milik masyarakat sekitar sendiri, sehingga sudah dapat dipastikan cepat atau lambat juga akan tergusur berganti dengan bangunan perumahan minimalis baru.

Education in the High School and University

Rizky Ramadhani, 1006700072

I have seen several things in which education in the high school and the university are different. There are new students who can not adjust the various differences in high school and university life. It is important for student to know it. The difference in high school and university is learning system, curriculum, extracurricular, and student activity.

First, education and curriculum system in university and high school are different. In the high school, students just being a listener. Different with high school, in the university, students should be active learning. Student have a discussion forum and they can delivered their argument. Discussion forum in university more exciting than high school.

Second, based on the way of teachers teach, in high school, the teachers care on your assigments. Teacher would ask us if we not submit the assigments. On the other hand, in the university, teachers not care you submit your assigments or not. When you not submit your assigments, you will get a bad scores at the end of semester.

Third, extracurricular in university and high school are different. In high school, the students focus studying in class. Not many students want to join the extracurricular. On the contrary, in the university, many student join on extracurricular activity because extracurricular activity can support their studies. Moreover, the extracurricular activity can become valuable experience used to apply for a job.

However, education in the university and high school have the same ultimate goal which is to develop the knowledge to apply in the future.

Tim Formatur Sispala Jabodetabek

Tim Formatur

Tim formatur adalah panitia gabungan yang terdiri dari perwakilan berberapa Sispala di wilayah Jabodetabeka dipilih melalui pengangkatan berdasarkan kesepakatan Forum Sispala se-Jabodetabek yang memiliki tugas mengkordinasi, mensukseskan, menyelenggarakan, rencana pembentukan suatu wadah Sispala di wilayah Jabodetabeka, memiliki struktur yang terdiri dari Ketua, Sekretaris, Humas, serta Kordinator wilayah.

Tim Formatur Jilid II  ( Disepakati tanggal 22 Maret 2009 di SMAN 3 Jakarta )

Ketua                     : Rizky Ramadhani ( Gasakpala 46 )

Sekretaris              : Devy ( Palagasi )

Humas                   : Ferdy (Arimdam )

Korwil Jakut, Jaksel,Jakpus              : Ides (Sispala 79)

Korwil Jaktim                                       : Rusdi (Palasi)

Korwil Jakbar                                       : Santos (Sabhawana)

Korwil Tangerang                                : Tarie (Pasispala)

Korwil Bekasi                                       : Rorry

Korwil Bogor                                        : Tongo

 

Pertemuan-pertemuan Forum Sispala se-Jabodetabek

  • Pertemuan I (Dibawah kordinasi Tim Formatur Jilid I)

Waktu dan Tempat                            : SMAN 3 Jakarta, Setiabudi, Jakarta Selatan, 8 Maret 2009

Agenda  dan Hasil Forum                  : Silaturrahmi Sispala se-Jabodetabek dihadiri 28 Sispala, rencana pembentukan wadah Sispala. Agenda, mendengarkan presentasi Forsispal, Forum Siswa Pecinta Alam (Wadah Sispala diwilayah Jakarta Selatan beranggotakan 14 Sispala dipimpin oleh Esisspal SMA 49 Jakarta).  Hasil forum menyepakati untuk melakukan pertemuan ulang terkait dengan ketidakhadiran Forsispal saat itu.

  • Pertemuan II (Dibawah kordinasi Tim Formatur Jilid I)

Waktu dan Tempat                            : SMAN 3 Jakarta, Setiabudi, Jakarta Selatan, 22 Maret 2009

Agenda dan Hasil Forum                   : Mendengarkan presentasi Forsispal. Selesai presentasi, dilakukan voting untuk menentukan bagaimana kelanjutan rencana membentuk wadah sispala sejabodetabek, apakah dengan bergabung bersama Forsispal atau, membentuk wadah yang baru. Dilakukan voting dengan hasil 13 Sispala memilih membentuk wadah baru dan 12 Sispala memilih bergabung. Keputusan akhir yaitu membentuk wadah baru. Pada kesempatan itu pula, forum menyepakati pergantian Tim Formatur dari Tim Formatur Jilid I digantikan dengan Tim Formatur jilid II dengan posisi seperti dijabarkan sebelumnya kecuali Korwil Bogor yang belum terjamah.

  • Pertemuan Kecil I

SMA 3 Jakarta, April 2009

Membahas model wadah yang baru, disepakati membentuk wadah dengan format ikatan organisasi dengan konsekuensi adanya AD/ART organisasi serta menentukan tempat pelaksanaan Pertemuan III di Gasakpala, SMAN 46 Jakarta

 

  • Pertemuan Kecil II

SMAN 2 Pamulang, April 2009

Membahas konsep dasar AD/ART untuk dipersiapkan dalam pembahasan Pertemuan III di SMAN 46 Jakarta.

 

  • Pertemuan III

Waktu dan Tempat                            : SMAN 46 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,

10 Mei 2009

Agenda dan Hasil Forum                   : Agenda, membuat AD/ART organisasi berdasarkan konsep   yang dibahas sebelumnya. Pembahasan panjang dan rumit sehingga hanya berhasil memfiksasi AD-nya saja. ART dibahas pada pertemuan berikutnya.  Pertemuan III dihadiri 26 Sispala.

  • Pertemuan Kecil III

MAN 4 Jakarta, Pondok Pinang, Jakarta Selatan

Mempersiapkan dan mengkordinasi pertemuan ke IV di Bekasi.

  • Pertemuan IV

Waktu dan Tempat                            : SMAN 3 Bekasi, Mei 2009

Agenda dan Hasil Forum                   : Melanjutkan pembahasan AD/ART, menghasilkan AD/ART secara lengkap, termasuk lambang dan nama. Dihadiri perwakilan Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi dan tambahan Karawang serta Bogor. Tugas selanjutnya adalah mengesahkan atau mendeklarasikan wadah dengan catatan seluruh Sispala di wilayah Jabodetabeka harus mengetahui wadah serta kelengkapannya.

  • Pertemuan Kecil IV

MAN 4 Jakarta, Agustus 2009

Mempersiapkan forum selanjutnya sekaligus membentuk panitia buka puasa bersama Sispala Se-Jabodetabek tahun 2009. Panitia diketuai oleh Andanu Ibrahim dan pelaksanaan dilakukan di SMAN 46 Jakarta.

 

  • Pertemuan V ( Buka Puasa Bersama Sispala se-Jabodetabek)

Waktu dan Tempat                            : SMAN 46 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

12 September 2009

Agenda dan Hasil                                : Buka puasa bersama dan sosialisasi kembali rencana persiapan pengesahan dan deklarasi wadah Sispala. Disepakati untuk mencari informasi di Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia mengenai sudah ada atau tidak adanya wadah semacam ini, serta tata cara pendaftaran organisasi sekaligus sharing pendeklarasian wadah.

 

  • Pengiriman Delegasi ke Kementrian Pemuda dan Olahraga

Waktu dan Tempat                            : Kantor Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Senayan, Jakarta, September 2009

Agenda dan Hasil                                : Bertemu Staff kementrian Pemuda dan Olahraga bidang Pemuda dan Organisasi Kepemudaan. Respon kementrian menyambut baik rencana wadah Sispala. Pendaftaran wadah dapat  dilakukan dengan syarat melengkapi AD/ART yang sudah sah. Rencana pendeklarasian mengundang Menteri Pemuda dan Olahraga disetujui dengan syarat peserta harus mencapai seribu orang dan harus mengkonfirmasi jauh hari sebelum acara.

Kearifan Lokal Masyarakat Nusantara

Pada kuliah umum kebudayaan Indonesia Tanggal 15 September 2011, Prof. DR. Aris Munandar membahas secara lugas mengenai kearifan lokal. Dalam paparannya itu, kearifan lokal merupakan segala sesuatu yang baik yang dilakukan dan terus dilestarikan dalam suatu kebudayaan di masyarakat. Beliau menjelaskan bahwa kearifan lokal berawal dari masa prasejarah, yang kemudian menjadi semakin nyata ketika ada pengaruh asing. Keraifan lokal bersifat positif dan terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Kearifan lokal tumbuh dan berkembang di masyarakat, serta sangat berkenaan dengan berbagai aspek kebudayaan. Pada dasarnya kearifan lokal memiliki tiga prinsip dasar yakni, berlangsung dalam sejarah yang cukup panjang, terbukti positif dan ada manfaatnya, serta secara sadar kemudian dilestarikan.

Di Indonesia sendiri, kearifan lokal ada di dua bidang yakni maritim, dan agraris. Ragam kearifan lokal diantaranya dalam pertanian, etika sopan santun pergaulan, hidup berumah tangga dalam masyarakat, pemerintahan, kesenian, mata pencaharian, kesehataan atau pengobatan, dan lain-lain. Sifat kearifan lokal mencegah perbuatan yang tidak baik secara norma adat karena kearifan lokal merupakan pedoman dalam berprilaku masyarakat. H.G. Quaitch dalam kutipannya mengemukakan konsep lokal genius, “seperangkat karakter kebudayaan yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat akibat dari pengalaman kehidupannya selama ini”. Menurutnya, lokal genius memiliki dua elemen yaitu, pertama: segala nilai, konsep, dan teknologi yang telah dimiliki oleh suatu bangsa sebelum mendapat pengaruh asing, kedua: daya yang dimiliki suatu bangsa untuk menyerap menafsirkan. Jadi proses lokal genius kebudayaan penerima berawal dari kebudayaan asing lalu menghasilkan perpaduan.

Menurut J.L.A.Brandes mengemukakan tentang kepandaian penduduk Nusantara masa prasejarah sebelum datangnya pengaruh asing, bahwa penduduk nusantara memiliki tujuh kepandaian. Kepandaian penduduk Nusantara tersebut antara lain, telah dapat membuat figur boneka, mengembangkan seni hias, mengenal pengecoran logam, melaksanakan perdagangan barter, mengenal instrumen musik, memahami astronomi, menguasai teknik navigasi dalam pelayaran, menggunakan tradisi lisan dalam menyampaikan pengetahuan, menguasai teknik irigasi, serta telah mengenal tata masyarakat yang teratur. Pendapat ini kemudian diterima oleh para ilmuan karena Brandes melakukan penelitiannya tidak hanya pada satu daerah di Nusantara tapi beberapa daerah di Jawa serta Sumatra.

Masih dalam ruang lingkup kearifan lokal, Prof. Aris Munandar dalam kuliah umumnya juga membahas mengenai kebhinekaan. Menurutnya, kebhinekaan dapat terjadi karena beberapa hal. Faktor lingkungan, jarangnya komunikasi antar etnik, perbedaan akulturasi dengan budaya luar, dan perbedaan sejarah politik merupakan penyebab terjadinya kebhinekaan. Sementara itu, berbicara tentang kesinambungan budaya, beliau memaparkan bahwa lestarinya suatu kebudayaan itu memiliki tiga sifat yakni, disadari sebagai anasir kebudayaan yang penting untuk dipertahankan, tidak disadari melainkan terus diminati tanpa disadari oleh pendukung kebudayaan, dan kesinambungan yang disadari dan dianjurkan atau terpaksa.

Isu yang kemudian berkembang dewasa ini berkaitan dengan kearifan lokal adalah pencarian karakter bangsa dan pekerti bangsa. Saat ini bangsa Indonesia memiliki permasalahan yang sangat banyak. Banyak Anggota masyarakat yang berpaling dari tradisi kebudayaan warisan nenek moyangnya. Bentuk karakter dan pekerti bangsa sejatinya tersimpan dalam kearifan lokal. Sementara itu, kini budaya global terus menerjang tanpa bisa ditahan. Sebenarnya jawaban permasalahan itu dapat diselesaikan dengan mengembalikan abstraksi karakter dan pekerti bangsa yang kini mulai pudar. Ada sembilan abstraksi karakter dan pekerti bangsa yakni, sumber nilai: nilai adat bersumber dari nilai agama, nilai dasar hidup: malu serta tidak boleh dipermalukan, tertib sosial: keseimbangan dan harmonis, tenggang rasa, hubungan dengan sistem sosial, kehormatan diri, kepemimpinan: panutan dan keteladanan, etos kerja, sikap terhadap kelopok (orientasi kesukuan).

Perkembangan IPTEK Umat Islam dalam Kajian Alquran

Oleh Rizky Ramadhani, 1006700072

Berbagai macam ilmu, banyak sekali terdapat dalam Alquran. Umat islam seharusnya menyadari hal itu sejak dulu. Meskipun bukti kebenaran ayat alquran tentang iptek itu tidak ditemukan oleh umat islam sendiri, tapi paling tidak apa yang terdapat dalam Alquran itu benar adanya.Berikut beberapa ilmu pengetahuan yang terdapat dalam Alquran.

Madu adalah Obat.

“kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. 16:69)

Sebelum orang mempelajari iptek lebih jauh, alquran telah memberitahukan manusia bahwa madu merupakan obat bagi manusia.Sekarang, berdasarkan riset terbukti bahwa madu memang dapat menjadi obat berbagai macam penyakit.

Air Susu Ternak, Minuman yang Sehat.

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. 16:66)

Pada zaman dahulu, orang tidak mengira bahwa air susu ternak dapat diminum oleh manusia. Sekarang, air susu ternak menjadi minuman popular yang menyehatkan karena mengandung banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh.

 

 

Perkembangan Embrio dalam Rahim

 “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan sesuatu yang melekat dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. 23:14)

“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.” (QS. 32:9)

Dua potongan ayat diatas merupakan bukti bahwa alquran merupakan sumber ilmu pengetahuan termasuk dalam bidang kedokteran.

Peredaran Benda-benda Angkasa Dalam Garis Edarnya.

Ditegaskan bahwa masing-masing benda langit (bumi dan matahari) bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)

Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)

Dari berbagai macam ilmu pengetahuan tersebut, seharusnya umat islam bisa mengembangkan lebih jauh lagi dengan cara meneliti isi kandungan Alquran secara lebih teliti sehingga di masa depan umat islam tidak tertinggal lagi oleh orang-orang non muslim.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.