Batik dari Seni jadi Ekonomi

Batik bukanlah barang baru. Hampir semua orang indonesia terlebih lagi orang Jawa sudah barang tentu mengenal batik. Batik memang tidak berasal hanya dari Jawa saja, tetapi batik yang paling populer adalah batik Jawa. Batik Jawa sendiri berkembang tidak hanya di satu tempat melainkan berkembang di beberapa tempat yang terkenal seperti Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, Lasem, dan beberapa tempat lainnya. Oleh karena itu, penamaannya juga diberikan berdasarkan tempat produksinya. Batik berasal dari Yogyakarta disebut Batik Yogya, sedangkan yang berasal dari Surakarta kerap disebut batik Solo dan seterusnya. Masing-masing daerah tersebut memiliki perbedaan-perbedaan yang menjadi ciri khas. Ciri khas masing-masing daerah dapat berwujud dari motifnya.

Batik sebagai Karya Seni

Batik adalah salah satu karya seni tradisional masyarakat Jawa yang memiliki tradisi dan sejarah yang panjang dan kuat. Sebagai suatu karya seni, batik memiliki nilai-nilai estetis yang terkandung dari beberapa aspek. Salah satu aspek keestetisan itu terletak pada motifnya. Motif dalam batik sangat beragam. Dalam tradisi batik masa lalu, setiap motifnya memiliki gagasan, fungsi penggunaan yang tidak sembarangan. Ada motif yang hanya dipakai oleh raja, ada motif batik yang tidak boleh digunakaan untuk keperluan upacara kematian, dan lain sebagainya.

Teknik pembuatan batik turut menentukan nilai suatu batik. Di Jawa ada beberapa teknik umum yang digunakan dalam memproduksi batik. Pada mulanya teknik batik hanya satu yaitu teknik tulis. Dalam teknik tulis, membatik memiliki kesulitan yang lebih tinggi. Kain digambari satu demi satu hingga menghasilkan motif, baru kemudian diberi malam disesuaikan dengan warna yang diinginkan. Pewarnaan pada batik menggunakan pewarna alami misalnya untuk warna merah menggunakan daun jati. Keunggulan teknik tulis adalah batik yang berhasil dibuat tidak akan ada batik lainnya yang sama persis dengan batik itu. Sehingga bersifat langka dan memiliki nilai yang tinggi.

Selain teknik tulis, teknik cetak adalah teknik lainnya dalam proses membatik. Pada teknik ini, alat yang digunakan adalah pencetak yang bermotif seperti apa yang diinginkan. Pencetak biasanya terbuat dari logam. Cetakan dicelupkan ke malam yang sudah dicampuri pewarna, kemudian ditempelkan ke media membatik. Dalam teknik cetak, batik dapat diproses secara massal dengan cetakan yang sama. Oleh karena itu, umumnya batik cetak bernilai lebih rendah ketimbang batik tulis.

Batik Moderen

Saat ini istilah batik moderen menjadi populer seiring berkembangnya dunia batik di tanah air. Moderenisasi batik adalah salah satu upaya para pembatik untuk menjadikan batik lebih bernilai secara ekonomis. Moderenisasi tersebut  meliputi motif, media dan penerapan batik. Terkait dengan motif, saat ini motif batik di Jawa mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Para pembatik terus mengembangkan motif-motif moderen. Motif moderen yaitu penyesuaian motif-motif lama yang sudah ada dengan cara digabung untuk mendapatkan komposisi yang estetis. Tidak sekedar penggabungan semata, tetapi terdapat unsur intuitif yang digunakan oleh pembatik.

Penerapan batik juga berkembang. Batik yang dahulu hanya diterapkan pada jarik atau kain dan kemeja, saat ini diterapkan juga di berbagai benda. Mulai dari sepatu, tas, celana pendek, kolor, kaos, mobil, motor, plester, kertas kado, pernak-pernik, furnitur, dan masih banyak lagi.

Batik yang Melirik Pasar

Sejak awal diciptakannya batik telah banyak mengalami perubahan. Pergeseran fungsi dan penggunaan batik turut mendorong ekonomisasi batik. Pada zaman dahulu, untuk menemukan motif batik saja orang harus melakukan semedi. Berbeda dengan sekarang, menemukan motif baru yaitu dengan melihat pasar. Motif seperti apa yang disenangi pasar, maka motif itulah yang akan dibuat. Selain itu, ide, dan nilai-nilai budaya dari batik itu sendiri cenderung pudar. Batik saat ini berlomba-lomba untuk lebih fashionable. Nilai-nilai artistik dan estetik diutamakan. Nilai-nilai religi, klenik, mulai ditinggalkan. Misalnya saja, motif batik yang digunakan hanya untuk seorang sultan saat ini bisa saja digunakan oleh orang biasa. Motif-motif yang sakral digunakan pada sofa. Tentu saja sudah bergeser dari fungsi sebelumnya. Sekarang, setiap orang bebas menggunakan motif batik mana yang ia sukai tanpa memandang lagi nilai-nilai budaya.

Meskipun demikian, melalui moderenisasi batik, batik kini memiliki kekuatan ekonomi yang luar biasa. Perekonomian masyarakat di daerah-daerah sentra produksi batik naik secara signikan.Industri batik mendorong perekonomian nasinal. Berdasarkan data Kementrian Perindustrian, selama tahun 2010 saja konsumen batik telah mencapai angka 72,86 juta jiwa di seluruh Indonesia. Tentu saja belum termasuk konsumen luar negeri. Dari jumlah itu, diketahui bahwa minat masyarakat terhadap batik semakin meningkat. Peningkatan itu terjadi setelah UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.

Meningkatnya minat masyarakat dengan batik seiring dengan kesadaran pelestarian budaya. Masyarakat mulai menyadari betapa pentingnya karya-karya budaya seperti batik setelah insiden pengakuan batik oleh Malaysia beberapa tahun silam. Klaim Malaysia atas batik secara tidak langsung menyadarkan arti penting batik dalam dunia budaya. Sebelum munculnya klaim Malaysia atas batik, masyarakat semakin meninggalkan batik. Batik menjadi sepi peminat, para pengrajin gulung tikar. Batik terkesan formal, norak, sehingga banyak orang merasa tidak percaya diri untuk menggunakannya.

Batik memang menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan yang baru. Berbagai industri batik dari skala kecil hingga besar bermunculan. Kekuatan ekonomi batik sendiri sudah teruji. Salah satu contoh pengusaha batik yang mengembangkan batiknya dari dulu hingga kini adalah Danarsih Santoso, pengusaha pemiliki usaha batik berlabel Danarhadi. Usaha yang ia dirikan saat ini telah memiliki 10.000 pegawai dengan 20 gerai yang tersebar diseluruh kota-kota besar di Indonesia.

Semenjak berhembusnya angin segar dengan adanya pengakuan UNESCO batik berkembang tidak hanya secara hilir. Dari hulu, industri canting juga meningkat tajam. Canting merupakan alat untuk menempelkan malam pada mori. Canting dibuat dari tembaga yang dibuat secara tradisional. Di Pekalongan misalnya, saat ini pengrajin canting sudah mencapai lebih dari 70 pengusaha. Kordinasi antar pengusaha serta minimnya pekerja membuat hambatan tersendiri para pengrajin.

Batik di Dunia

Dampak perkembangan batik secara ekonomi tidak hanya berskala nasional, tapi juga berskala dunia. Dari sisi ekonomi, ekspor batik ke luar negeri per tahun 2010 saja mencapai angka yang luar biasa yakni sebesar US$ 69 juta. Negara-negara tujuan ekspor antara lain Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Malaysia. Angka itu menunjukan bahwa pengakuan dunia atas batik Indonesia yang ditopang batik-batik Jawa sangat besar. Banyak orang asing yang tertarik menggunakan mempelajari hingga mengembangkan batik.

American Batik Desaign Competition yang diadakan di Hotel The Palace, San Francisco, Amerika Serikat, awal November lalu merupakan salah satu wujud promosi sekaligus pengembangan batik di luar negeri. Dalam acara itu, diadakan kompetisi membatik masyarakat disana. Mereka mengembangkan batik dengan motif-motif lokal yang ada di negaranya. Melalui kegiatan itu, masyarakat Amerika semakin tertarik terhadap dunia batik sehingga ingin mempelajarinya.

Referensi

http://suaramerdeka.com

http://www.tempo.co

http://bisniskeuangan.kompas.com/

http://economy.okezone.com

Filologi di Indonesia

Filologi di Indonesia

Oleh : Rizky Ramadhani, 1006700072 ( Mahasiswa Program Studi Jawa, Universitas Indonesia )

Rangkuman dari buku Pengantar Filologi Jawa oleh Karsono H. Saputra, Widya Sastra

 

  • Filologi di Indonesia merupakan bidang ilmu yang mempelajari tentang naskah dan teks lama. Kajian filologi terbagi menjadi dua bagian yakni kodikologi dan tekstologi. 
  • Kodikologi merupakan ilmu yang mempelajari  tentang wujud fisik naskah seperti alas tulis, sampul, tinta, rubrikasi, iluminasi, aksara dan lain-lain yang sifatnya dapat dilihat, diraba, dipegang, atau dirasakan. 
  • Tekstologi adalah kajian ilmu yang mempelajari tentang kandungan isi teks dari suatu naskah yang dinyatakan dalam bahasa atau tanda lain yang sesuai dengan jenis wacananya. 
  • Naskah dan teks merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Naskah merupakan wadah sedangkan teks berupa isi.
  • Untuk membaca suatu teks, seseorang harus menguasai tentang aksara serta ejaannya, memahami bahasa yang digunakan, memiliki pengetahuan budaya sehingga tidak terjadi kesalah pengertian isi teks. 
  • Antara teks tulis teks lisan dan karya seni lainnya kadang kala memiliki hubungan intertekstual. 
  • Teks ditulis berkemungkinan berpangkal dari teks lisan kemudian ditulis kemudian dilisankan kembali atau sebaliknya dari teks tulis kemudian dilisankan, kemudian ditulis kembali, dan seterusnya.
  • Perbedaan antara naskah dan buku terletak pada keberadaannya sebagai wujud suatu benda. Naskah bersifat khas dalam pengertian tidak ada duanya karena setiap naskah tidak ada yang sama persis meskipun dengan penulis dan jenis naskah yang sama.
  • Pengertian naskah dalam kajian sastra lama mengandung matra khas dan lama. Pengertian lama mengacu pada ketradisonalan wujud naskah yaitu terkait alas tulis, aksara, proses produksi yang memiliki matra jarak waktu dan jarak budaya. Istilah matra lama juga memiliki pengertian bahwa naskah berupa peninggalan tertulis
  • Perbedaan naskah dan prasasti sebagai peninggalan tertulis :
  • Naskah  beralas tulis yang umumnya mudah lapuk, berkemungkinan direproduksi, isinya kemungkinan berpanjang-panjang, kebanyakan bersifat fiksi, dan memiliki mobilitas yang cukup tinggi
  • Prasasti menggunakan alas tulis berupa benda keras seperti batu, tidak pernah digandakan, isinya pendek, biasanya berisi suatu perkara, isi merupakan fakta yang benar-benar terjadi, relative berada dilokasi semula kecuali keperluan tertentu
  • Alas tulis merupakan bahan yang ditulisi pada suatu naskah. Teknik pembuatan alas tulis beragam tergantung bahan dan teknologi yang dikuasai oleh masyarakat.
  • Bahan alas tulis yang umum digunakan dalam pernaskahan di Nusantara antara lain: daun nipah, rontal, bambu, kulit kayu, daluang atau dluwang.
  • Kertas eropa mulai digunakan di Nusantara setelah VOC masuk. Penggunaan kertas Eropa di Nusantara berkembang karena faktor kepraktisan dalam penyedian, proses penulisan, serta penjilidannya. 
  • Pada masa Jawa kuna tradisi pernaskahan juga mengenal karas dan pundak sebagai alas tulis.
  • Aksara, selain sebagai alat bantu komunikasi juga dapat menjadi sarana perekam cara berpikir, adat, norma, dan unsur budaya, yang dapat menjadi sarana dokumentasi budaya. Aksara naskah-naskah nusantara memiliki nuansa kedaerahan karena masing-masing aksara mewakili suatu daerahnya sendiri
  • Keragaman bahasa yang digunakan turut memperkaya tradisi pernaskahan Nusantara. Dengan memperhatikan bahasa yang digunakan suatu naskah, kita dapat memperkirakan dari lingkup mana serta dari masa kapan teks tersebut berasal.
  • Objek komunikasi suatu naskah adalah teks, dan bersifat searah. 
    • Pemahaman aksara diperlukan dalam membaca teks. Bentuk aksara, alfabet, ejaan yang digunakan suatu naskah berkemungkinan berbeda dengan saat ketika naskah dibaca. Kekhasan gaya dan corak penyalinan atau penulisan naskah turut memperkaya keragaman tradisi pernaskahan.
    • Bahasa merupakan sarana ungkap teks Sistem suatu bahasa berkemungkinan berbeda terkait sifatnya yang dinamis dari masa ke masa. Sehingga dibutuhkan adanya pemahaman bahasa dalam memahami teks.
    • Prosodi sastra juga dibatasi oleh ruang dan waktu, pemahaman kaidah sastra akan membantu pemahaman suatu teks. 
    • Pembaca teks masa lalu harus memahami konvensi budaya ketika teks tersebut diciptakan, sehingga  pembaca akan memahami isi teks secara utuh.
    • Teks pada dasarnya mengandung rekaman unsur budaya, serta memiliki keanekaragaman kandungan isi.
    • Pengelompokan isi teks berbeda-beda tergantung sudut pandang yang digunakan.
  • Pengetahuan mengenai kapan suatu teks ditulis membantu menafsirkan makna teks bersangkutan, atau malah sebaliknya.
  • Umur naskah dapat diketahui dari alas tulis, kolofon, dan kelopak naskah. Selain itu bisa juga dengan analisis kimiawi meskipun lebih sulit.
  • Umur teks dapat dicari dari manggala, tafsiran nama dan peristiwa sejarah yang termaktub, atau melalui perbandingan aspek kebahasaan.
  • Naskah nusantara banyak tersebar diberbagai negara di dunia, penyebabnya antara lain, perdagangan, hadiah kepada pihak tertentu, pemaksaan atau perampasan, atau bahkan penggabungan sebab-sebab tersebut.
  • Katalog merupakan daftar naskah yang disimpan oleh suatu lembaga. Informasi awal mengenai suatu naskah didapat dari katalog. Semakin luas informasi suatu katalog semakin baik pula katalog tersebut. 
  • Mata rantai proses penciptaan suatu teks berkemungkinan dari teks lisan kemudian menjadi teks tulis kemudian menjadi teks lisan lagi, kemudian menjadi teks tulis, dan seterusnya atau kebalikannya. 
    • Tujuan penciptaan suatu teks disesuaikan dengan situasi budaya ketika ketika suatu teks ditulis.
    • Teks kemungkinan ditulis untuk mencatat peristiwa yang terjadi pada saat itu. Selain itu kemungkinan juga ditulis atas perintah penguasa, persembahan, atau akumulasi dari berbagai alasan itu.
    • Penyalinan naskah atau reproduksi naskah menyebabkan suatu teks terawetkan.
    • Tradisi penyalinan teks terbagi menjadi dua jenis yaitu penyalinan terbuka dan penyalinan tertutup. Penyalinan terbuka adalah proses penyalinan yang dilakukan yang sifatnya tidak setia terhadap naskah induk yang disalinnya. Sementara itu, penyalinan tertutup adalah proses penyalinan yang ditulis sama persis dengan naskah induknya, meskipun berkemungkinan terjadi dittografi.
    • Alasan suatu naskah disalin yaitu untuk melestarikan teks dari suatu kepunahan, ingin memiliki teks, atas perintah pihak lain, atau alasan ekonomi.
    • Skriptorium adalah tempat berlangsungnya suatu penciptaan teks. Skriptorium terbagi menjadi dua bagian yaitu, skriptorium keraton dan skriptorium luar keraton. Skriptorium luar keraton contohnya pesantren dan mandala.
    • Skriptorium bersangkut paut pada unsur-unsur naskah dan isi teks, serta terkait pada umur naskah dan umur teks.
    • Pengarang adalah orang yang melahirkan suatu teks atau orang yang melahirkan karya pertama kali. Pengarang, dalam tradisi pernaskahan jawa disebut juga sebagai pujangga.

Empang

Empang : Kearifan Lokal Yang Terlupakan
Oleh : Rizky Ramadhani, 1006700072

Kota Jakarta seringkali dikatakan sebagai kota dengan kehidupan yang keras. Berbagai etnis dengan latar belakang berbeda berbaur membentuk kebudayaan baru yang kemudian disebut sebagai kebudayaan urban. Setiap orang dituntut untuk mampu bertahan hidup. Cara masyarakat urban bertahan hidup sangat beragam diberbagai bidang, salah satunya di bidang perikanan. Masyarakat betawi misalnya, memiliki cara sendiri dalam memanfaatkan lahan untuk pembudidayaan ikan air tawar, yaitu dengan membuat empang.

Empang adalah ekosistem buatan tempat pembudidayaan ikan air tawar konsumsi seperti ikan mas, nila, gurami, lele, patin, dan lain-lain. Dari segi lokasi, empang pada umumnya dibuat di bagian cekungan kontur wilayah, atau lembahan yang umumnya dialiri sungai. Air sungai tersebut kemudian diarahkan ke empang melalui saluran irigasi. Empang biasanya dibuat tidak hanya satu tetapi beberapa buah dalam satu kawasan yang sama. Ukuran empang beragam disesuaikan luas dan kontur tanah. Dalam menjaga stabilitas pH air, empang dilengkapi dengan sistem sirkulasi air yang baik. Artinya, ada grojogan (semacam pancuran) air masuk, dan saluran air keluar, sehingga kualitas kesehatan air tetap terjaga.
Selain sebagai lahan mata pencaharian yang ekonomis, tanpa disadari empang ternyata merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat betawi. Empang yang semula hanya berfungsi sebagai tempat pembudidayaan ikan saja, kini di sadari memiliki fungsi sebagai penampung air saat musim hujan. Ketika air sungai meluap air akan dialirkan melalui saluran irigasi ke empang. Sehingga kelebihan kapasitas air di sungai dapat dipecah dan beban sungai menurun. Kondisi ini akan mengurangi kemungkinan terjadinya banjir yang kerap terjadi di wilayah Jakarta terutama saat musim hujan.

Tidak hanya berfungsi sebagai penampung air, empang juga kini memiliki fungsi rekreasi. Empang saat ini dikembangkan sebagai lahan pemancingan. Bagi para penggiat mancing, sarana pemancingan merupakan sarana yang efektif menghilangkan kepenatan sehari-hari. Tidak heran, saat akhir pekan pemancingan dipenuhi oleh para pemancing. Tentu saja hal itu menambah nilai ekonomi tersendiri pemilik empang.

Empang merupakan bentuk nyata upaya masyarakat betawi memahami dan memanfaatkan lingkungannya. Sayangnya, empang saat ini mulai terlupakan oleh masyarakat. Empang kini semakin tergusur oleh pembangunan pemukiman yang sangat pesat. Empang semakin sulit ditemui di kota Jakarta, hanya beberapa saja yang masih dipertahankan di daerah penyangga seperti Depok, Bekasi dan Tangerang. Itupun dengan kondisi yang memprihatinkan. Pasalnya, empang yang masih bertahan pada umumnya dibuat diatas tanah yang telah dijual kepada pengembang perumahan. Empang yang tersisa sudah bukan milik masyarakat sekitar sendiri, sehingga sudah dapat dipastikan cepat atau lambat juga akan tergusur berganti dengan bangunan perumahan minimalis baru.

Education in the High School and University

Rizky Ramadhani, 1006700072

I have seen several things in which education in the high school and the university are different. There are new students who can not adjust the various differences in high school and university life. It is important for student to know it. The difference in high school and university is learning system, curriculum, extracurricular, and student activity.

First, education and curriculum system in university and high school are different. In the high school, students just being a listener. Different with high school, in the university, students should be active learning. Student have a discussion forum and they can delivered their argument. Discussion forum in university more exciting than high school.

Second, based on the way of teachers teach, in high school, the teachers care on your assigments. Teacher would ask us if we not submit the assigments. On the other hand, in the university, teachers not care you submit your assigments or not. When you not submit your assigments, you will get a bad scores at the end of semester.

Third, extracurricular in university and high school are different. In high school, the students focus studying in class. Not many students want to join the extracurricular. On the contrary, in the university, many student join on extracurricular activity because extracurricular activity can support their studies. Moreover, the extracurricular activity can become valuable experience used to apply for a job.

However, education in the university and high school have the same ultimate goal which is to develop the knowledge to apply in the future.

Tim Formatur Sispala Jabodetabek

Tim Formatur

Tim formatur adalah panitia gabungan yang terdiri dari perwakilan berberapa Sispala di wilayah Jabodetabeka dipilih melalui pengangkatan berdasarkan kesepakatan Forum Sispala se-Jabodetabek yang memiliki tugas mengkordinasi, mensukseskan, menyelenggarakan, rencana pembentukan suatu wadah Sispala di wilayah Jabodetabeka, memiliki struktur yang terdiri dari Ketua, Sekretaris, Humas, serta Kordinator wilayah.

Tim Formatur Jilid II  ( Disepakati tanggal 22 Maret 2009 di SMAN 3 Jakarta )

Ketua                     : Rizky Ramadhani ( Gasakpala 46 )

Sekretaris              : Devy ( Palagasi )

Humas                   : Ferdy (Arimdam )

Korwil Jakut, Jaksel,Jakpus              : Ides (Sispala 79)

Korwil Jaktim                                       : Rusdi (Palasi)

Korwil Jakbar                                       : Santos (Sabhawana)

Korwil Tangerang                                : Tarie (Pasispala)

Korwil Bekasi                                       : Rorry

Korwil Bogor                                        : Tongo

 

Pertemuan-pertemuan Forum Sispala se-Jabodetabek

  • Pertemuan I (Dibawah kordinasi Tim Formatur Jilid I)

Waktu dan Tempat                            : SMAN 3 Jakarta, Setiabudi, Jakarta Selatan, 8 Maret 2009

Agenda  dan Hasil Forum                  : Silaturrahmi Sispala se-Jabodetabek dihadiri 28 Sispala, rencana pembentukan wadah Sispala. Agenda, mendengarkan presentasi Forsispal, Forum Siswa Pecinta Alam (Wadah Sispala diwilayah Jakarta Selatan beranggotakan 14 Sispala dipimpin oleh Esisspal SMA 49 Jakarta).  Hasil forum menyepakati untuk melakukan pertemuan ulang terkait dengan ketidakhadiran Forsispal saat itu.

  • Pertemuan II (Dibawah kordinasi Tim Formatur Jilid I)

Waktu dan Tempat                            : SMAN 3 Jakarta, Setiabudi, Jakarta Selatan, 22 Maret 2009

Agenda dan Hasil Forum                   : Mendengarkan presentasi Forsispal. Selesai presentasi, dilakukan voting untuk menentukan bagaimana kelanjutan rencana membentuk wadah sispala sejabodetabek, apakah dengan bergabung bersama Forsispal atau, membentuk wadah yang baru. Dilakukan voting dengan hasil 13 Sispala memilih membentuk wadah baru dan 12 Sispala memilih bergabung. Keputusan akhir yaitu membentuk wadah baru. Pada kesempatan itu pula, forum menyepakati pergantian Tim Formatur dari Tim Formatur Jilid I digantikan dengan Tim Formatur jilid II dengan posisi seperti dijabarkan sebelumnya kecuali Korwil Bogor yang belum terjamah.

  • Pertemuan Kecil I

SMA 3 Jakarta, April 2009

Membahas model wadah yang baru, disepakati membentuk wadah dengan format ikatan organisasi dengan konsekuensi adanya AD/ART organisasi serta menentukan tempat pelaksanaan Pertemuan III di Gasakpala, SMAN 46 Jakarta

 

  • Pertemuan Kecil II

SMAN 2 Pamulang, April 2009

Membahas konsep dasar AD/ART untuk dipersiapkan dalam pembahasan Pertemuan III di SMAN 46 Jakarta.

 

  • Pertemuan III

Waktu dan Tempat                            : SMAN 46 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,

10 Mei 2009

Agenda dan Hasil Forum                   : Agenda, membuat AD/ART organisasi berdasarkan konsep   yang dibahas sebelumnya. Pembahasan panjang dan rumit sehingga hanya berhasil memfiksasi AD-nya saja. ART dibahas pada pertemuan berikutnya.  Pertemuan III dihadiri 26 Sispala.

  • Pertemuan Kecil III

MAN 4 Jakarta, Pondok Pinang, Jakarta Selatan

Mempersiapkan dan mengkordinasi pertemuan ke IV di Bekasi.

  • Pertemuan IV

Waktu dan Tempat                            : SMAN 3 Bekasi, Mei 2009

Agenda dan Hasil Forum                   : Melanjutkan pembahasan AD/ART, menghasilkan AD/ART secara lengkap, termasuk lambang dan nama. Dihadiri perwakilan Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi dan tambahan Karawang serta Bogor. Tugas selanjutnya adalah mengesahkan atau mendeklarasikan wadah dengan catatan seluruh Sispala di wilayah Jabodetabeka harus mengetahui wadah serta kelengkapannya.

  • Pertemuan Kecil IV

MAN 4 Jakarta, Agustus 2009

Mempersiapkan forum selanjutnya sekaligus membentuk panitia buka puasa bersama Sispala Se-Jabodetabek tahun 2009. Panitia diketuai oleh Andanu Ibrahim dan pelaksanaan dilakukan di SMAN 46 Jakarta.

 

  • Pertemuan V ( Buka Puasa Bersama Sispala se-Jabodetabek)

Waktu dan Tempat                            : SMAN 46 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

12 September 2009

Agenda dan Hasil                                : Buka puasa bersama dan sosialisasi kembali rencana persiapan pengesahan dan deklarasi wadah Sispala. Disepakati untuk mencari informasi di Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia mengenai sudah ada atau tidak adanya wadah semacam ini, serta tata cara pendaftaran organisasi sekaligus sharing pendeklarasian wadah.

 

  • Pengiriman Delegasi ke Kementrian Pemuda dan Olahraga

Waktu dan Tempat                            : Kantor Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Senayan, Jakarta, September 2009

Agenda dan Hasil                                : Bertemu Staff kementrian Pemuda dan Olahraga bidang Pemuda dan Organisasi Kepemudaan. Respon kementrian menyambut baik rencana wadah Sispala. Pendaftaran wadah dapat  dilakukan dengan syarat melengkapi AD/ART yang sudah sah. Rencana pendeklarasian mengundang Menteri Pemuda dan Olahraga disetujui dengan syarat peserta harus mencapai seribu orang dan harus mengkonfirmasi jauh hari sebelum acara.

Kearifan Lokal Masyarakat Nusantara

Pada kuliah umum kebudayaan Indonesia Tanggal 15 September 2011, Prof. DR. Aris Munandar membahas secara lugas mengenai kearifan lokal. Dalam paparannya itu, kearifan lokal merupakan segala sesuatu yang baik yang dilakukan dan terus dilestarikan dalam suatu kebudayaan di masyarakat. Beliau menjelaskan bahwa kearifan lokal berawal dari masa prasejarah, yang kemudian menjadi semakin nyata ketika ada pengaruh asing. Keraifan lokal bersifat positif dan terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Kearifan lokal tumbuh dan berkembang di masyarakat, serta sangat berkenaan dengan berbagai aspek kebudayaan. Pada dasarnya kearifan lokal memiliki tiga prinsip dasar yakni, berlangsung dalam sejarah yang cukup panjang, terbukti positif dan ada manfaatnya, serta secara sadar kemudian dilestarikan.

Di Indonesia sendiri, kearifan lokal ada di dua bidang yakni maritim, dan agraris. Ragam kearifan lokal diantaranya dalam pertanian, etika sopan santun pergaulan, hidup berumah tangga dalam masyarakat, pemerintahan, kesenian, mata pencaharian, kesehataan atau pengobatan, dan lain-lain. Sifat kearifan lokal mencegah perbuatan yang tidak baik secara norma adat karena kearifan lokal merupakan pedoman dalam berprilaku masyarakat. H.G. Quaitch dalam kutipannya mengemukakan konsep lokal genius, “seperangkat karakter kebudayaan yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat akibat dari pengalaman kehidupannya selama ini”. Menurutnya, lokal genius memiliki dua elemen yaitu, pertama: segala nilai, konsep, dan teknologi yang telah dimiliki oleh suatu bangsa sebelum mendapat pengaruh asing, kedua: daya yang dimiliki suatu bangsa untuk menyerap menafsirkan. Jadi proses lokal genius kebudayaan penerima berawal dari kebudayaan asing lalu menghasilkan perpaduan.

Menurut J.L.A.Brandes mengemukakan tentang kepandaian penduduk Nusantara masa prasejarah sebelum datangnya pengaruh asing, bahwa penduduk nusantara memiliki tujuh kepandaian. Kepandaian penduduk Nusantara tersebut antara lain, telah dapat membuat figur boneka, mengembangkan seni hias, mengenal pengecoran logam, melaksanakan perdagangan barter, mengenal instrumen musik, memahami astronomi, menguasai teknik navigasi dalam pelayaran, menggunakan tradisi lisan dalam menyampaikan pengetahuan, menguasai teknik irigasi, serta telah mengenal tata masyarakat yang teratur. Pendapat ini kemudian diterima oleh para ilmuan karena Brandes melakukan penelitiannya tidak hanya pada satu daerah di Nusantara tapi beberapa daerah di Jawa serta Sumatra.

Masih dalam ruang lingkup kearifan lokal, Prof. Aris Munandar dalam kuliah umumnya juga membahas mengenai kebhinekaan. Menurutnya, kebhinekaan dapat terjadi karena beberapa hal. Faktor lingkungan, jarangnya komunikasi antar etnik, perbedaan akulturasi dengan budaya luar, dan perbedaan sejarah politik merupakan penyebab terjadinya kebhinekaan. Sementara itu, berbicara tentang kesinambungan budaya, beliau memaparkan bahwa lestarinya suatu kebudayaan itu memiliki tiga sifat yakni, disadari sebagai anasir kebudayaan yang penting untuk dipertahankan, tidak disadari melainkan terus diminati tanpa disadari oleh pendukung kebudayaan, dan kesinambungan yang disadari dan dianjurkan atau terpaksa.

Isu yang kemudian berkembang dewasa ini berkaitan dengan kearifan lokal adalah pencarian karakter bangsa dan pekerti bangsa. Saat ini bangsa Indonesia memiliki permasalahan yang sangat banyak. Banyak Anggota masyarakat yang berpaling dari tradisi kebudayaan warisan nenek moyangnya. Bentuk karakter dan pekerti bangsa sejatinya tersimpan dalam kearifan lokal. Sementara itu, kini budaya global terus menerjang tanpa bisa ditahan. Sebenarnya jawaban permasalahan itu dapat diselesaikan dengan mengembalikan abstraksi karakter dan pekerti bangsa yang kini mulai pudar. Ada sembilan abstraksi karakter dan pekerti bangsa yakni, sumber nilai: nilai adat bersumber dari nilai agama, nilai dasar hidup: malu serta tidak boleh dipermalukan, tertib sosial: keseimbangan dan harmonis, tenggang rasa, hubungan dengan sistem sosial, kehormatan diri, kepemimpinan: panutan dan keteladanan, etos kerja, sikap terhadap kelopok (orientasi kesukuan).

Perkembangan IPTEK Umat Islam dalam Kajian Alquran

Oleh Rizky Ramadhani, 1006700072

Berbagai macam ilmu, banyak sekali terdapat dalam Alquran. Umat islam seharusnya menyadari hal itu sejak dulu. Meskipun bukti kebenaran ayat alquran tentang iptek itu tidak ditemukan oleh umat islam sendiri, tapi paling tidak apa yang terdapat dalam Alquran itu benar adanya.Berikut beberapa ilmu pengetahuan yang terdapat dalam Alquran.

Madu adalah Obat.

“kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. 16:69)

Sebelum orang mempelajari iptek lebih jauh, alquran telah memberitahukan manusia bahwa madu merupakan obat bagi manusia.Sekarang, berdasarkan riset terbukti bahwa madu memang dapat menjadi obat berbagai macam penyakit.

Air Susu Ternak, Minuman yang Sehat.

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. 16:66)

Pada zaman dahulu, orang tidak mengira bahwa air susu ternak dapat diminum oleh manusia. Sekarang, air susu ternak menjadi minuman popular yang menyehatkan karena mengandung banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh.

 

 

Perkembangan Embrio dalam Rahim

 “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan sesuatu yang melekat dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. 23:14)

“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.” (QS. 32:9)

Dua potongan ayat diatas merupakan bukti bahwa alquran merupakan sumber ilmu pengetahuan termasuk dalam bidang kedokteran.

Peredaran Benda-benda Angkasa Dalam Garis Edarnya.

Ditegaskan bahwa masing-masing benda langit (bumi dan matahari) bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)

Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)

Dari berbagai macam ilmu pengetahuan tersebut, seharusnya umat islam bisa mengembangkan lebih jauh lagi dengan cara meneliti isi kandungan Alquran secara lebih teliti sehingga di masa depan umat islam tidak tertinggal lagi oleh orang-orang non muslim.

Nilai-Nilai Kebudayaan Produksi Jamu Rumahan Desa Nguter

Oleh : Nurani Dewi, Nurindah Wuriani, Patrisia Devitasari, Rizky Ramadhani

Penelitian Mahasiswa Sastra Jawa Universitas Indonesia Juni,2011

Perawakan Pak Slamet hari itu nampak masih gagah meskipun umurnya sudah berkepala enam. Rumahnya terlihat cukup besar diantara tetangganya. Perlengkapan isi rumahnyapun tergolong modern,  jauh dari kesan ndesa. Dua buah mobil yang terparkir di halaman depan rumahnya cukup menggambarkan keadaan ekonomi Pak Slamet saat ini. Di halaman rumahnya, terlihat beberapa bahan baku pembuatan jamu yang sedang dijemur. Pak Slamet Riyadi adalah salah satu pengusaha jamu dari Desa Nguter, yang terbilang cukup sukses membawahi usaha jamu rumahan merek Kresna. Pada mulanya, usaha jamu rumahan milik keluarga Pak Slamet  dimulai dengan skala kecil oleh pendahulunya kemudian baru diwariskan kepada beliau. Seiring berjalannya waktu, usaha jamu rumahan milik keluarganya berkembang hingga membawa Pak Slamet menjadi salah satu pengusaha jamu yang terbilang cukup sukses.  Kesuksesannya yang kini diikuti oleh para tetangganya merupakan proses panjang hasil keuletan selama ini mengurus usaha jamu rumahan.

Desa Nguter di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah  merupakan salah satu desa yang memiiliki beberapa rumah produksi jamu serta sentra distribusi jamu rumahan. Usaha produksi jamu rumahan di desa nguter pada mulanya dipelopori oleh beberapa rumah produksi. Diantara rumah produksi tersebut, yang  paling terkenal antaralain sabdo palon, jarwo, wisnu, dan kresna. Usaha jamu rumahan di Desa Nguter dimulai sekitar tahun 1965, kemudian berkembang pada tahun 1977 seiring terbentuknya wadah Koperasi Jamu Indonesia (KOJAI) di Sukoharjo. Meskipun Desa Nguter merupakan salah satu desa sentra produksi jamu, hanya segelintir orang saja yang menggeluti usaha produksi jamu. Kebanyakan dari masyarakat lebih memilih menjadi distributor hasil produksi jamu rumahan besar saja, dengan membuka toko skala kecil. Toko-toko tersebut dapat dijumpai di Pasar Nguter, sentra distribusi jamu rumahan desa Nguter.

Salah satu toko distributor  jamu rumahan di Pasar Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah

Meskipun usaha jamu di Desa Nguter tergolong stabil, bukan berarti tanpa ancaman. Serangan obat-obatan moderen, serta maraknya jamu dengan kandungan berbahaya, menjadi ancaman terbesar para pengusaha jamu saat ini. Tidak hanya itu,  ketersediaan bahan baku jamu juga kerap menjadi kendala utama terhambatnya proses produksi jamu. Bahan baku yang saat ini makin sedikit jumlahnya di pasaran, seiring berkurangnya lahan tanam dan perubahan musim menjadi penyebab terhambatnya pasokan bahan baku produksi. Dalam kondisi yang serba sulit ini, para pengusaha jamu dituntut untuk mampu menyiasatinya. Bertahan dan berkembangnya usaha jamu di Desa Nguter bukanlah tanpa alasan. Kemampuan bertahannya usaha jamu rumahan di Desa Nguter  ini ditopang oleh sikap jujur, pekerja keras, dan pantang menyerah para pengusahanya.

  1. 1.      Nrima Ing Pandum 

Menjadi pengusaha jamu berarti siap menghadapi segala resiko terburuk apapun terhadap usahanya. Jamu tidak laku merupakan resiko yang paling sering dihadapi oleh para pengusaha jamu. Tidak heran sering kali jamu yang tidak laku terjual, harus dibuang begitu saja. Jangankan untuk berharap mendapatkan untung, acap kali justru para pengusaha jamu ini harus menerima kerugian yang cukup besar.

Iklan sebagai sarana promosi guna meningkatkan nilai jual  jamu

Masalah seperti itu sudah biasa dihadapi oleh para pengusaha jamu. Hal semacam itu pantang dijadikan alasan untuk berhenti berusaha. Pak Slamet 67 tahun misalnya, tidak mau ambil pusing dengan masalah semacam itu. Menurut beliau, untung ruginya usaha jamu yang beliau jalani, sepenuhnya diserahkan kepada Yang Maha Kuasa. “Manusia itu tugasnya hanya berusaha semaksimal mungkin, lalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa,” ujarnya sembari mengingatkan filosofi Jawa ‘nrima ing pandum’.

  

Seorang penjual jamu di Pasar Nguter dengan sabar menanti pembeli

Nrima ing pandum secara tekstual berarti menerima segala sesuatu apa yang menjadi bagiannya. Menerima yang dimaksud bukan berarti menerima segala keadaan begitu saja, tetapi dengan kerja keras. Kerja keras dan pantang menyerah merupakan unsur dasar dalam sikap nrima. Apabila hasil kerja keras tidak seperti yang diharapkan, maka dengan besar hati manusia harus menerimanya. Kemudian diikuti sikap evaluasi diri, mengintrospeksi apa yang menjadi penyebab gagalnya suatu usaha.

Sikap nrima belakangan ini sering disalahartikan. Banyak orang berpikir bahwa nrima merupakan sikap pasrah tanpa usaha. Hal ini jelas keliru. Terkait dengan usaha jamu, para pengrajin jamu justru menyadari bahwa nrima adalah sikap percaya terhadap kekuatan diluar manusia yang turut menentukan jalan kehidupan. Tentu kekuatan yang dimaksud adalah kehendak Tuhan.  Dengan adanya sikap nrima dalam diri seseorang, maka akan menumbuhkan sikap pantang menyerah, sabar, ikhlas, dan jujur. Sikap-sikap tersebut akan membentuk karakter manusia yang gigih dan kuat, seperti yang ditunjukan oleh para pengrajin jamu di Desa Nguter. Karakter demikianlah yang akan membawa usaha jamu di Nguter terus bertahan dan berkembang.

  1. 2.      Becik ketitik ala ketara

Dalam menjaga eksistensi usaha jamu ditengah ketatnya persaingan antar produsen, salah satu hal yang harus dijaga adalah kejujuran. Pepatah Jawa yang diterapkan dalam hal ini adalah becik ketitik ala ketara yang artinya ‘yang baik akan terlihat yang burukpun akan terlihat buruknya’. Kejujuran dalam konteks ini adalah kejujuran mengenai komposisi jamu yang diproduksi. Beberapa merk jamu, diduga tidak konsisten dalam mempertahankan racikan jamu mereka. Seperti contoh, penggantian gula asli dengan pemanis. Cara ini memang dapat menurunkan biaya produksi namun memberikan efek tidak nyaman pada tenggorokan pasca konsumsi. Jika pemanis buatan yang digunakan adalah jenis aspartam, mungkin masih aman dikonsumsi oleh konsumen karena aspartam tidak menimbulkan efek negatif selama penggunaannya sebagai pengganti gula. Menurut kepala laboratorium biokimia pangan dan gizi IPB Prof.Dr.ir. Made Astawan MS mengatakan asparatam merupakan pemanis rendah kalori dengan kemanisan kurang dari 200 kali kemanisan gula (sukrosa). Keunggulan asparatam yaitu mempunyai energi yang sangat rendah, mempunyai cita rasa manis mirip gula, dan dapat digunakan sebagai pemanis pada makanan atau minuman pada penderita diabetes. Namun pemanis buatan yang digunakan oleh produsen jamu adalah jenis yang standartnya dibawah aspartan dan dijual dengan harga lebih murah namun dengan kualitas yang jauh lebih rendah. Setelah meminum jamu dengan pemanis buatan seperti itu, biasanya muncul rasa seperti serik dan gatal pada tenggorokan. Pada penderita dengan tenggorokan sensitif bisa menimbulkan batuk dan sakit tenggorokan. Bila hal ini terjadi terus-menerus maka tidak menutup kemungkinan konsumen beralih pada merk lain yang mempertahankan rasa gula asli dalam racikan jamunya.

Selain pemanis buatan, ada kasus lain yang patut untuk diwaspadai, yaitu desas-desus dicampurnya ramuan jamu beberapa merk dengan obat generik dengan dosis yang berlebihan. Sebagai contoh, untuk jamu pereda sakit kepala. Produsen yang tidak jujur mencampurkan obat sakit kepala buatan pabrik farmasi ke dalam jamu mereka. Obat semacam ini tentu lebih ampuh untuk menghilangkan sakit kepala sehingga jamu mereka pun lebih laku karena dianggap manjur menyembuhkan sakit kepala. Apalagi jika produsen memberikan dosis yang berlebihan pada satu bungkus jamu mereka. Misalnya, dosis normal sekali minum untuk obat sakit kepala adalah satu butir/ sekali minum. Untuk membuat jamu lebih manjur, produsen jamu meningkatkan dosis menjadi 150% -200%. Dengan kata lain, dalam satu bungkus jamu untuk sekali minum, telah dicampur 1 1/2 – 2 butir obat sakit kepala. Produsen yang curang tersebut semata-mata hanya memikirkan profit bagi usaha mereka namun tidak memikirkan efek jangka panjang yang mungkin diderita oleh konsumen.

Produsen jamu Joglo di solo sendiri mengaku tetap memepertahankan nilai kejujuran karena itu merupakan aspek yang sangat penting. Selain itu kejujuran sangat ditekankan sejak generasi awal jamu Joglo. Mereka mengedepankan kepentingan konsumen sehingga tidak mencampurkan bahan-bahan yang berbahaya dalam jamu produksi mereka. Hal tersebut dapat dilihat dalam transparansi mereka dalam produksi jamu. Pihak mereka tidak menolak bagi pihak yang ingin melihat proses produksi jamu mereka. Berbeda dengan beberapa produsen yang cenderung tertutup dan menolak memberikan keterangan mengenai proses produksi jamu.

  1. 3.      Sadumuk bathuk

Konsep Sedumuk Bathuk mempunyai makna yang sangat dalam. Sadumuk bathuk artinya selebar dahi. Meskipun hanya selebar dahi itu terdapat otak di mana kreasi, inovasi dan produksi manusia dikembangkan. Konsep ini digunakan oleh produsen jamu Joglo untuk menaikan pamor jamu, yaitu dengan melakukan sebuah kreativitas.

Kreativitas yang dilakukan berupa pembuatan berbagai macam jamu dengan khasiat yang baru. Penyakit jaman dulu denagna jaman sekarang sangatlah berbeda sehingga produsen Joglo membuat racikan jamu yang cocok dengan penyakit pada jaman sekarang seperti, jamu Sehat Wanita dan jamu untuk penyakit Diabetes.

Kretivitas tidak hanya melulu soal racikan dan khasiat jamu. Kemasan jamu Joglo juga mengalami perubahan. Sekarang kemasan jamu joglo lebih bagus dan rapi sehingga dapat menarik pelanggan jamu. Walaupun hal ini tidak terlalu mempengaruhi minat pembeli karena hal yang paling penting adalah khasiat dari jamu itu sendiri.

  1. 4.      Mempertahankan tradisi

Usaha jamu yang bertahan sampai sekarang, tidak lain adalah warisan dari leluhur yang dilestarikan. Dengan mempertahankan tradisi, khasiat dan kualitas jamu dapat dipertahankan. Meskipun kreatifitas dan inovasi juga sangat dibutuhkan, namun ada hal-hal dari jamu ini yang tidak bisa ditinggalkan. Seperti contohnya racikan jamu yang sudah paten, sebaiknya tidak diubah-ubah agar khasiatnya tidak menurun.   

  1. 5.      Alon-alon waton klakon

Bisnis jamu bukan bisnis yang selalu lancar namun terkadang pasang surut mengikuti perkembangan zaman. Apalagi dizaman yang sedang musimnya obat herbal, maka produsen jamu pun harus bisa bersaing dengan obat – obatan modern. Tak sedikit produsen jamu yang gulung tikar karena tidak bisa bersaing dengan produk obat buatan pabrik farmasi lainnya. Obat modern yang sekarang banyak beredar dan resep dokter yang selalu memberikan obat membuat jamu kurang dipercaya lagi dimasyarakat, sehingga para produsen jamu perlu bersabar untuk mmproduksi jamu sekarang ini.

Selain itu dalam membuat jamu pun proses yang dilakukan cukup rumit. Dimulai dari pencarian bahan-bahn pokok yang sekarang sangat sulit ditemukan karena lahan untuk menanam bahan – bahan jamu sudah berkurang ditambah lagi musim dan cuaca yang turut menentukan kualitas bahan yang tak menentu.

  1. 6.      Wani getih bakal merkulih

Seperti halnya membangun bisnis yang lain, membangun bisnis jamu juga membutuhkan sikap mental yang kuat. Salah satu sikap mental yang harus dimiliki adalah tidak mudah putus asa. Jika seseorang memegang prinsip wani getih bakal merkulih yang artinya ‘berani berdarah (berjuang dengan keras) akan mendapatkan hasil’ maka seseorang tidak mudah putus asa dalam berusaha. Dalam hal mengembangkan bisnis jamu tentunya muncul tantangan-tantangan yang harus dihadapi. Hambatan yang bisa menjadi masalah bagi produsen jamu diantaranya adalah:

  • Bahan baku yang kualitas-nya tidak bagus
  • Terbatasnya sinar matahari pada musim penghujan
  • Persaingan dengan produsen lain

Untuk mengatasi tantangan tersebut, seseorang tidak boleh putus asa dan harus selalu bekerja keras dan senantiasa mempertahankan prinsip wani getih bakal merkulih.

Menjadi produsen jamu tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Produsen jamu Joglo memakai konsep bahwa siapa yang berani berdarah akan mendapat. Orang yang berani mengadu nasib dalam arti mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu pasti akan berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan. Menjadi seorang produsen sangat diperlukan kerja keras dan ketelatenan . Kerja keras dan ketelatenan ini sangat diperlukan karena masalah yang dihadapi oleh produsen jamu cukup besar. Mulai dari bahan pokok yang sekarang sulit dicari, hal ini mengharuskan produsen jamu untuk lebih bekerja keras dalam mencari informasi dimanakah daerah yang masih memiliki bahan pokok jamu tersebut. Setelah menemukan daerah tersebut produsen harus meneliti apakah bahan tersebut termasuk dalam kualitas yang baik atau tidak. Jika kualitasnya kurang baik, produsen harus mencari daerah lain yang menghasilkan bahan pokok yang berkualitas baik karena bahan pokok sangat mempengaruhi khasiat jamu sendiri.

Harga bahan pokok yang berkualitas baik juga relatif tinggi sehingga mengaharuskan produsen untuk menaikan harga jual jamu agar nantinya tidak sampai gulung tikar. Harga jamu yang naik ini membuat sebagian orang enggan untuk mengkonsumsi jamu lagi. Selain masalah bahan pokok, masalah karyawan juga sering menjadi kendala. Terkadang produsen merasa kelebihan karyawan namun terkadang merasa kekurangan karyawan saat pesanan dan penjualan menurun. Masalah yang paling besar yang dialami para produsen jamu saat ini adalah jamu mulai tergeser dengan obat-obatan produksi pabrik farmasi yang dipercaya memberikan efek lebih cepat. Produsen jamu berupaya untuk mensejajarkan jamu dengan obat-obatan modern. Upaya yang dilakukan tentu harus menggunakan cara yang benar. Tidak menggunakan cara curang seperti mancampurkan obat-obat generik dalam racikan jamu. Masalah pemasaran juga cukup rumit.

SS : Sebuah Catatan Perjalanan (Part V)

PART V

WONOSOBO I’M COMING

            Gelisah, was-was, takut, bercampur senang mengawali perjalan kami ke Wonosobo, kota terdekat gunung Sindoro dan Sumbing. Rencananya kami akan bertemu Rara terlebih dahulu di Pondok Labu untuk sekedar memberi salam perpisahan. Dari rumah kami naik Angkot 61 menuju Pondok Labu. Perjalanan biasa-biasa saja. Hanya saja rasa gelisah dan takut tersebut membawa banyak pikiran negatif. Benar saja, begitu kami turun angkot, firasat buruk tersebut jadi nyata. “Kiri bang,” meminta pak supir berhenti. Tiba-tiba seorang polisi datang dan menilang angkot yang kami tumpangi. Wah, kok jadi begini? Dalam hati gue. Rupanya angkot tidak boleh berhenti ditempat tersebut alhasil supirnya kena tilang. Kami tak tega dengan pak supir. Gara-gara kami minta turun supirnya harus kena tilang. Tak seberapa dibanding ongkos yang kami bayar.

Belum selesai perkara supir angkot ditilang, berjalan sekitar lima langkah tiba-tiba tali cariel putus. “Braaak”, beban sekitar setengah berat badan gue langsung terasa lantaran tumpuan tali tinggal satu sisi. Posisi yang berada ditengah jalan karena akan menyebrang, membuat gue kualahan. Belum lagi soal kendaraan yang mengklaksoni kami. Geo rupanya ingin membantu tapi malah jadi ribet. Gue coba angkat cariel dengan cara memeluk, kemudian gue letakkan di tepi jalan tepat di tempat Rara menunggu gue. Nafas gue cukup ngos-ngosan. Degup jantung berdetak cepat bercampur rasa gelisah akan pikiran-pikiran negatif yang terus menghantui. Apalagi yang bakal terjadi setelah ini? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat gue merasa tidak nyaman. Bahkan gue tidak begitu memperhatikan Rara yang sudah menunggu gue sekitar setengah jam. Rencana untuk melepas kepergian dengan bahagia malah jadi perasaan sial yang tak kunjung sirna.

Rara mendekati kami mencoba membantu apa yang kami perlukan. Sepertinya Rara bingung dengan apa yang sedang terjadi. Niatnya untuk membantu gue malah gue balas dengan bentakan-bentakan kecil yang membuatnya sebal. Padahal dia sudah jauh-jauh hari mempersiapkan pelepasan kepergian gue tentu dengan izin orangtuanya yang sulit itu. Jelas saja gue bentak, suasana saat itu memang cukup emosional. Cariel putus, itu adalah gambaran terburuk perjalanan. Masalahnya cariel yang gue pakai itu cariel murahan dengan merek abal, mana bisa kuat? Bagaimana kalau saat pendakian besok talinya putus lagi atau bahkan yang lebih parah dari itu? Itu akan lebih berbahaya.

Dengan sigap gue langsung buka bagian head cariel gue. Di dalam head memang gue sudah persiapkan survival kit, semacam peralatan darurat saat kondisi survival. Jarum, benang sudah barang tentu termasuk bagian dari survival kit. Pelan-pelan gue coba jahit bagian tali yang putus tadi meskipun jahitannya tidak sempurna. Jahitannya sementara saja, niat gue saat di bis nanti akan gue jahit lebih kuat lagi. Rara dan Geo hanya bisa memandangi gue dengan cemas, sembari membicarakan soal kronologis kejadian tadi. Sementara gue sibuk menusuk-keluarkan jarum jahit diantara tali dan bagian bawah cariel.

Setelah gue rasa jahitan cukup kuat, gue harus segera melanjutkan titik poin keberangkatan yaitu Terminal Lebak Bulus. Tentu saja dengan pertimbangan jam keberangkatan bis yang mungkin saja sudah berangkat. Belum sempat berbicara panjang dengan Rara tapi gue harus mengakhiri pertemuan ini. Sore ‘terakhir’ bersama Rara harus segera diakhiri. Meskipun pertemuan ini hanya diisi oleh rasa emosi yang menyebalkan, tetap saja rasanya kami tak ingin berpisah. Sebelum berangkat, kami berjabat tangan. Tidak seperti biasa, tangannya menggenggam lebih erat, seakan tak ingin melepaskan kepergian gue itu. Gue gak bisa banyak bicara lagi. “Hati-hati yah”, pesan terakhir yang terucap dari mulutnya. “Iya sayang, doakan aku ya semoga bisa balik lagi dengan selamat, amin”, gue melanjutkan. Pertemuan itu akhirnya kami tutup. Gue dan geo segera naik angkot D02 yang kosong kemudian berangkat ke Lebak Bulus meninggalkan Rara yang melambaikan tangannya diakhir waktu perpisahan.

Di angkot gue masih terus kepikiran hal-hal negatif. Malah rasanya gue jadi ragu tentang perjalanan ini. Terpikir juga kalau rencana ini tidak jadi saja. Apalagi setelah kejadian cariel tadi semakin meyakinkan gue bahwa sial itu akan mengikuti terus perjalanan kami. Gue tertawa bercanda dengan Geo soal hal itu. Gue rasa Geo pembawa sial. Sambil tertawa dalam hati. Melintasi jalan T.B. Simatupang terasa sangat lancar, hanya sekitar 15 menit kami sudah tiba di terminal pemberangkatan, terminal Lebak Bulus. Turun di jalan masuk pemberangkatan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Geo sepertinya bingung, tergambar dari raut wajahnya yang linglung. Di sana kami disambut beberapa calo tiket yang menanyai akan kemana kami pergi. Gue hanya diam tidak mau menjawab. Sebelumnya, gue dan Geo sempat berkompromi soal kalau ada calo yang menawari tiket. Kami memilih diam sembari jalan terus ke arah tempat pembelian tiket resmi.

Kami hanya tertuju pada agen bus Sinar Jaya sesuai saran Fakih dan orangtua gue. Mungkin Sinar Jaya armadanya lebih banyak dan terpercaya. Kebetulan kali ini yang kami temui karyawan Sinar Jaya jadi kami langsung diantarkan ke tempat pembelian tiketnya. “Mau kemana mas?” tanya seorang wanita petugas penjualan tiket. “Wonosobo, mba. Yang AC masih ada?”, berharap yang AC masih tersedia. “Wah kalo yang AC baru aja berangkat. Tinggal ekonomi, berangkat jam tujuh malam. Bis terakhir!”. Gue dan Geo saling pandang, agak kecewa karena bisnya tidak AC. “Berapa harganya mba?”. “60 ribu aja mas”. Tanpa berpikir panjang lagi gue langsung bayar. Hemat 10 ribu, kalau naik AC harganya diatas 70 ribu. Tapi ya sudahlah yang penting masih ada bus.

Kami langsung diantarkan ke bus yang dituju. Yang membuat gue bingung kami memesan tiket untuk bus Sinar Jaya tapi kenapa petugasnya mengarahkan ke bus DMI. Jangan-jangan kami telah ditipu. Sebelah bus kami memang sederetan bus Sinar Jaya tujuan Kebumen dan sebelahnya lagi tujuan Pekalongan.Perasaan kami semakin menjadi tidak enak karena kami adalah penumpang pertama. Di dalam bus hanya ada supir, kondektur dan beberapa rekannya. Seorang cewek kami lihat berada diantaranya. Entah itu pacarnya atau siapa? Yang jelas mereka tertawa bersama-sama. Mereka nampak asik merokok malah bagian depan bus penuh oleh asap rokok yang mereka hisap. Mungkin saja mereka mabuk, entahlah gue harus buang pikiran negatif itu jauh-jauh. Meskipun demikian kami masih berpikir kenapa DMI.

Dengan beban cariel di punggung kami memilih bangku yang paling depan di sekitar bangku mereka berkumpul. Salah seorang dari mereka menyarankan kami untuk pindah di belakang saja. “Mas, duduknya dibelakang saja ya, soalnya itu nanti buat duduk sopir pengganti” Ujar seorang berambut gondrong, mukanya agak seram. Kami jadi was-was. Lagu dangdut mengisi ruang bus yang masih kosong itu. Sebenarnya saran Fakih kami naik bus Sinar Jaya dari Pasar Minggu bukan Lebak Bulus, tapi karena berangkatnya tadi telat, orangtua gue menyarankan dari Lebak Bulus saja karena armada di Lebak Bulus lebih banyak.

Cariel gue dan Geo langsung gue letakkan di tempat tidur sopir, bagian belakang bus secara bergantian. Hari memang masih terang tapi duduk di belakang lebih gelap karena sinar matahari terhalangi bus sebelah. Gue berbincang-bincang dengan Geo tentang ketakutan kami itu. Mumpung cahaya masih ada, gue manfaatkan untuk menjahit jahitan yang tadi belum sempurna. Pelan-pelan gue jahit dengan benang warna merah, sementara carielnya warna hitam jadi agak kontras antara jahitan dan tali. Sampai matahari benar-benar tenggelam belum ada seorang penumpangpun yang naik. Seorang berambut gondrong yang menyarankan kami pindah ke belakang menghampiri kami. “Mas, pintu belakangnya gak bisa dibuka ya, soalnya kemaren engselnya lepas jadi gak bisa ngonci”, kata mas gondrong itu. “Tapi gak ada motor disebelahnya kan mas? Sahut gue mencoba mengajak ngobrol. “Ya untungnya gak copot, mana lagi kenceng. Sekarang jadinya dikonci aja ini, biar gak bisa dibuka sekalian aja”, jawab mas gondrong.

Wah kebetulan sekali dalam hati gue. Gue pengen tanya deh soal DMI ini. “Kok kita dikasihnya bis DMI sih mas? Kan mesennya tadi Sinar Jaya?”. Oh itu, DMI itu anak perusahaan dari Sinar Jaya. Jadi ya sama aja naek Sinar Jaya sama DMI. Sinarnya udah abis soalnya”. “Oh kirain kenapa takutnya kita dibohongin aja”. “Enggak lah mas, jadi waktu dulu ada aturan perusahaan maksimal harus memiliki sekian bus, karena peminat Sinar Jaya cukup banyak, jadi supaya aman, perusahaan bikin perusahaan dengan nama beda”. “Oh gitu, tapi aman kan duduk dibelakang gini?”. Maksudnya aman?”. Ya misal rampok atau apa gitu?”. “Enggak mas santai aja pasti aman, kalian tinggal duduk santai aja nikmatin perjalanan kita, pasti kita anter ke tempat tujuan.Saya berani jamin” Obrolan itu lebih terasa wawancara, tapi Geo mencoba mengajak bercanda soal bahasa jawa dengan mas berambut gondrong itu. Rupanya orangnya asik juga gak seseram penampilannya.

Mas gondrong itu pergi meninggalkan kami menuju bagian depan bus. Gue kembali menyibukkan diri memperbaiki jahitan dengan penerangan senter yang gue bawa. “Yo, piso yang tadi mana?” tanya gue. “Ambil aja di head cariel gue”. Gue buka resletingnya, gue ambil pisau itu lalu gue kasih Geo agar pisau itu dikantonginya. “Yo, ini lo pegang aja. Buat jaga-jaga. Kalau ada yang macem-macem, tusuk aja!” perintah gue. “Hah, beneran lo?” Geo malah tertawa, begitupun gue.  Jahitan gue selesaikan, survival kit dan senter kembali gue masukkan ke tempat yang mudah diambil.

Herannya, setiap kali gue akan pergi jauh pasti selalu dibimbangi rasa ingin kencing. Yaudah, gue langsung cabut ke WC umum yang ada di terminal. Gue tinggalkan Geo sendirian. HP yang sejak tadi mati supaya menghemat baterai, akhirnya gue nyalakan, mencoba mengontak Rara. Di WC agak ramai juga, maklum masih maghrib jadi masih banyak yang mondar-mandir mengambil air wudhu.  Gue ingin solat, tapi berhubung ini sudah mau pukul tujuh, gue takut ditinggal bis. Jadinya galau sendiri. Hati jadi tidak tenang karena belum solat.Kembali lagi gue masuk ke dalam bus. Geo sepertinya masih asik dengan musiknya sendiri. Meskipun speaker bus dibagian depan mendendangkan lagu dangdut, di gak mau kalah dengan speaker kecil komputer yang dihubungkan dengan i-pod nya. Lagunya tidak lain adalah agu pesenan gue sebelum berangkan. Mulai dari steven and coconut trees, sampai the beatles menemaninya.

SS : Sebuah Catatan Perjalanan (Part IV)

PART IV

HARI-HARI MENJELANG KEBERANGKATAN

 

            Tanggal 20 Januari di tahun 2011 gue ada janji dengan Rara. Rencananya kami akan bertemu di Pondok Labu lalu naik angkutan bareng ke Blok M buat menikmati hari yang bisa saja gue gak bakal kembali. Namanya naik gunung, pasti banyak resikonya, termasuk resiko terburuk mati. Oleh karena itu gue bermaksud menghabiskan waktu bersama kekasih gue, Rara yang mungkin ini kesempatan terakhir bersamanya sebelum mati. Apalagi hampir semua teman gak yakin kalau gue bisa balik dengan selamat. Musim badai, berdua pula, bagaimana bisa selamat? Mungkin itu pikir mereka, tapi gue yakin bahwa umur gue tidak berakhir di Sindoro ataupun Sumbing.

Jam 11 Rara sudah sampai di PL rupanya. Sementara gue masih diangkot. Kasihan dia harus menunggu pasti panas sekali di sana. Untungnya Rara orangnya sabar dan pengertian. Apa yang gue mau, Alhamdulillah dia selalu mengerti. Apalagi dengan rencana gue naik Sindoro dan Sumbing ini dia malah mendukung. Kebanyakan dari pacar, ngelarang hal-hal yang semacam ini, tapi dia gak, beruntunglah memiliknya. Meskipun dia gak cantik dan gak jelek juga kok. Biasa saja, tapi justru yang biasa-biasa saja itulah yang luar biasa. Kadang memang guenya saja yang dablek, kurang perhatian ke dia. Gak lama akhirnya gue sampai jugalah di PL dan bertemu dengannya. Dia pakai baju yang gue suka. Gue senanglah, apalagi sudah berapa hari kami gak bersua sekedar ngobrol atau bicara hati. Terakhir bertemu tanggal 17 yang lalu gue ajak dia jalan ke Cinere. Oh ya, gue lupa. Waktu hari jadi kami tanggal 1 Januari 2011 itu, pagi harinya gue ke rumahnya. Gue sempat memberikan dia sesuatu. Sesuatu yang gue buat sendiri. Jadi pas tanggal 1 Januari itu gue kasih gambar edelweiss buatan gue sendiri. Sepele sih memang, tapi dia senang dengan hadiah itu. Gambar itu gue kasih bingkai warna hitam berkesan elegan lalu gue bungkus kertas kado dan gue ikat dengan pita merah. Sederhana memang tapi harapannya tidak sesederhana itu. Melalui gambar edelweiss itu gue berharap suatu hari gue bisa mengajaknya melihat bunga edelweiss yang sesungguhnya. Ya, edelweiss si bunga keabadian. Oh romantisnya. Gue juga kepikiran kelak saat gue mendaki ke Sindoro dan Sumbing akan gue persembahkan foto edelweiss malah berharap bisa memetik bunganya meskipun gue tahu itu dilarang.

“Ra, gimana kabarnya?” kata pertama yang muncul menyambutnya dengan manis. Gak langsung bicara, Rara hanya tersenyum memandang gue. “Baik kok, kamu sendiri gimana?”.”Baik juga kok”, tambah gue. Sapaan semacam ini gue rasa perlu untuk menunjukan rasa perhatian. Dalam cinta, perhatian merupakan stimulus yang penting agar pasangan kita tidak merasa kurang diperhatikan, dan bakal membuatnya jadi malas dengan kita. Padahal sermua itu hanya basa basi yang sudah basi! Gue dan Rara jalan dan segera naik metro ke arah Blok M. Disepanjang jalan itu kami berbicara banyak, mulai cerita tentang liburannya yang dirumah saja, serta soal gue yang menitipkan urusan kuliah saat pendakian nanti. Setelah sekitar satu jam lebih akhirnya kami sampai di kawasan Blok M.

Tempat yang kami tuju adalah sinema 21 di Blok M Square. Rencananya gue akan nonton, meskipun gak tahu film apa yang ada di sana. Ternyata adanya hanya film horor lokal. Gue sudah hafal kalau film macam ini pasti isinya 33,3% menakutkan, 33,3% komedi, dan 33,3% sisanya bokep. Memang film horror lokal selalu seperti itu. Meski menjenuhkan tetap saja banyak yang nonton, termasuk gue. Pertunjukan film berlangsung sekitar satu setengah jam. Rara nampak menikmati sekali film yang sedang ditonton itu. Dia tertawa terpingkal-pingkal sesekali ketakutan dan kaget-kagetan sebagai efek music yang diseting seperti itu disemua film horror. Hingga sampai filmnya berakhir rasanya tidak ingin pulang. Bukan apa-apa, ini kan hari ‘terakhir’ bisa jalan sama Rara. Siapa yang tahu kalau nanti mati di Sindoro atau Sumbing. Gue bilang sama Rara, “Ra, nonton lagi yuk? Satu film lagi deh”. Sebenarnya gue cuma bercanda, eh Rara menanggapinya dengan serius. Akhirnya untuk kedua kalinya kami nonton. Film yang kami tonton selanjutnya berbeda genre. Kalau tadi dibuat tegang dengan efek music dan penampakan busuk itu, kini kami akan dibuat agak mellow. Maklum, film kedua bergenre romance jadi ya agak-agak gimana gitu. Awalnya biasa saja, dan tidak terjadi apa-apa, tapi lama-lama suasana hati kami berdua jadi agak sendu rupanya. Hingga film kedua yang kami tonton hampir berakhir. terjadilah sesuatu. Rara mencium pipi gue dari kursi sebelah kiri. Rasanya deg-degan bercampur  kaget. Mungkin muncul rasa takut kehilangan olehnya, karna ini hari ‘terakhir’ jalan. Tangannya memang menggenggam kuat tangan gue seakan gak mau melepas kepergian. Disaat detik-detik penghabisan film akhirnya gue beranikan diri untuk membalas ciumannya yang tadi. Gue cium keningnya dengan lembut. Kata orang, ciuman dikening itu pertanda sayang. Semoga ciuman itu bisa menenangkan kegelisahannya sebelum gue berangkat.

Selesai nonton kami masih terus berbincang-bincang panjang, lalu melanjutkan makan di salah satu tempat makan disana, kemudian pulang sekitar jam 5 sore naik metro seperti waktu berangkat tadi. Rencananya habis magrib gue akan bertemu Wedia, ketua GP yang sekarang untuk mengambil cariel Geo yang sesuai janjinya bakal dia balikin hari ini. Perjalanan bersama Rara bakal berpisah lagi di Pondok Labu nanti. Dia akan langsung pulang maklum orangtuanya termasuk yang susah menerima anak yang pulang malam. Menurut orangrtuanya Magrib adalah waktu masuk malam dan Rara harus segera pulang. Di sepanjang perjalanan pulang lagi-lagi kami benar-benar menikmati hari ini. Sore itu kami habiskan dengan perbincangan kasual sesekali bercanda dan tertawa. Oh indahnya. Tak lupa gue minta doanya demi kesuksesan rencana gue ke SS. Setibanya di Pondok Labu gue pisah dengan Rara dan gue akam menunggu Wedia di Toko Lauser sekalian mau beli barang. Apakah itu jalan kami yang terakhir? Entahlah hanya Tuhan yang tahu jawabnya. Gue antarkan dia hingga naik angkot yang mengarah ke rumahnya. Hingga angkotnya berangkat baru gue tinggalkan dia dan menutup kenangan manis hari itu bersamanya.

Sampailah gue di toko Lauser Pondok Labu. Kali ini gue gak mau berlama-lama gue pastikan harga gasmate. Ternyata harganya benar 125 ribu dan gak bisa kurang. Berhubung gue gak mau rugi, akhirnya gue tinggalkan toko Lauser, pindah ke toko outdoor yang dibelakang pasar. Apalagi Wedia lama sekali belum sms lagi. Jaraknya agak jauh juga sekitar 800meter dari toko Lauser. Capek juga jalan dari Lauser ke sini dalam hati gue dengan nafas setengah ngos-ngosan. Langsung gue masuk toko ini dan di dalam ada dua orang pramuniaganya. Toko ini agak kecil dan paling kecil diantara toko-toko outdoor yang sebelumnya gue kunjungi. “Gasmate berapa bang”, Tanya gue ke abangnya. “Kalo gasmate 125 mas, itu doang tapi tinggalan satu”. “Kalo trangia?”. “Trangia lagi kosong mas”. “Ada tuh paraffin.” Sialan abangnya gue nanya trangia sama gasmate malah ditawarin paraffin yang menyedihkan itu. “Yaudah deh bang nanya-nanya dulu aja”. “Oh iya silahkan gapapa,” ujar pramuniaganya.

Keluar dari toko itu HP bergetar. Gue lihat ternyata sms Wedia. “Gue dah sampe PL”. Cepat saja gue bales lagi, “Tunggu gue di Lauser”. “Oke kak”. Segera gue melengkah lagi 800 meter, balik ke toko Lauser. Di meter ke-480, gue berhenti sejenak ke ATM BRI samping pasar. Gue ambil lagi uang sebesar 200ribu untuk beli kompor. Selesai transasksi di ATM gue keluar dan melangkah 320 meter lagi sampai di toko Lauser. Dari luar sudah kelihatan motor Mio yang bawa cariel. Wah ini pasti wedia, ucap gue dalam hati. Tapi kok carielnya ditinggal begitu saja, orangnya pasti masuk toko. Benar saja dia ada di dalam lagi memilih-milih sandal gunung. “Carielnya itu di depan?” Tanya gue ke Wedia. “Iyaa yang itu, kenapa?”. “Sembarangan banget ditaro diluar gitu aja. Ada yang nyolong aja!” ujar gue sedikit menekankan. Sambil berkata demikian gue berjalan ke tempat kompor-kompor di pajang. “Bang minta gasmatenya deh satu. Bener gak bias kurang tuh 125?”. “Gak bisa mas, jadi nih?”, jawab abangnya sambil tersenyum.

Di toko Lauser ini ada juga seorang bapak berusia muda yang sedang mengajak anaknya untuk beli daypack. Oleh karena itu abang pramuniaganya juga cukup sibuk. “Coba dulu deh bang bias gak. Tapi yang masih di dalem kotak itu,” kata gue sembari menunjuk gasmate yang masih didalam kardus. “Bentar saya pasang dulu gasnya”. Setelah dipasang gasnya gak nyala malah berbau saja. Sepertinya kompornya rusak. Penasaran dengan hal itu abangnya tukar pakai gasmate yang dikotak lainnya. Setelah dicoba hasilnya sama saja. Kompor gak menyala. “Biasa mas, kalo gasmate memang suka kayak gini,” ujar si abang. “Yang tadi dipajang aja bang bias gak?” ucap gue. Dengan sigap abangnya langsung mencoba gas yang tadi sudah gak terbungkus. Ternyata malah nyala. “Yuadah yang itu aja bang gapapa. Selesai dicoba, kompor langsung dibungkus dengan covernya yang berwarna kuning. Gue serahkan uangnya 125 ribu dan dikembalikan 25 ribu karena gue gunakan tiga lembar uang 50 ribuan. Wedia turut menyaksikan transaksi kali ini.

“Gak sekalian gasnya mas?,” ujar si abang menawarkan gas bermerk wonderfuel. Sayangnya gue gak begitu sreg dengan merk wonderfuel. Gue lebih tertarik dengan merk hi-cook. Wonderfuel disini dipatok harga 14ribu gak bisa kurang. Sementara untuk hi-cook disini gak ada, tapi pas gue lihat di toko outdoor yang sebelumnya hi-cook ada tapi dikasih bandrol yang sama yaitu 14 ribu per botolnya. Padahal menurut si abang di Lauser, kalau kita beli gasnya di toko besar macam carrefour kita bisa dapat harga 12ribu selisih 2ribu dari harga toko outdoor. Berhubung gue malas berlama-lama akhirnya gue tetap lanjutkan jalan ke toko outdoor yang di belakang pasar tadi. Melihat motor si Wedia yang nganggur, yaudah gue nebeng saja ke toko yang tadi dari pada harus jalan kaki bikin lemas.

Sampai di toko outdoor tersebut langsung gue tawar 5 buah botol tadi seharga 60ribu, trapi sayang abangnya menolak. Dia juga gak bisa menurunkan harga, karena harganya sudah pas. Gak mau banyak bacot, akhirnya gue kasihlah uang 100 ribu dan dikembalikan dengan uang 23 ribu. Saat melakukan transaksi abangnya sempat menanyakan sesuatu. “Mau kemana emangnya mas? Belanja banyak banget gasnya,” ujar si abang. “Mau ke Sindoro Sumbing bang”. Wah nekat banget lo mas, temen gue aja kemarin dari sana kena badai. Berapa orang? dari kampus mana?”. “Engga bang kita dari temen SMA aja lagi pengen jalan. Berdua doang sih”. “Wah nekat lo bro musim badai begini. Gue pesen ati-ati aja deh disana”. Gue tinggalkan toko outdoor itu dan nebeng sama Wedia sampai gang depan yang ada angkotnya. Malam itu akhirnya gue pulang dengan kelengkapan alat yang hampir 90%. 10%nya lagi sepatu buat Geo belum ada. Wedia menyarankan sepatu yang satu lagi mungkin bisa pinjam dengan Nanan. Waktu pendakian ke Ciremai, gue memang menggunakan sepatu Nanan. Gue minta nomer Nanan sama Wedia, lalu kemudian pulang ke rumah.

Sekitar setengah jam gue sudah sampai rumah. Jalan di Cinere lebih lengang dari biasanya, makanya gue bisa sampai lebih cepat. Begitu di rumah, gue langsung sms Nanan menanyakan sepatu trekking miliknya. “Nan, lo ada sepatu trekking gak? Gue pinjem dong”. Agak lama Nanan baru balas lagi “Gue gak tau ki, yang terakhir make siapa? kayanya ada, tapi gue belom cari lagi di rumah, emang lo mau kemana?,” balas Nanan. “ Gue mau ke Sindoro Sumbing, lo mau ikut gak?,” balas gue lagi. “Kapan emangnya ling”. Nanan manggil gue caling. Caling adalah nama Gasakpala gue, singkatan dari calon anggota keeling. Nama itu dikasih oleh Bang Tolang waktu pendidikan dasar di GP dulu. “Senen berangkat Nan, makanya kalo bisa besok lu kabarin ada apa enggaknya, tolong banget ya. Gue gak tau harus pinjem kemana lagi sepatunya. Kalo ada besok gue ambil”. “Wah mendadak banget gue gak bisalah, yaudah besok lo sms gue lagi aja, nanti gue cari dulu,” balas Nanan seperti ada titik terang dari masalah sepatu. “Oke Nan, siplah, besok gue sms lagi,” ujar gue menutup komunikasi malam itu. Suasana keberangkatan semakin terasa. Persiapan semakin lengkap. Satu persatu masalah peralatan bisa diatasi.

Sepatu Busuk

Esok harinya gue sms Nanan lagi. Sekitar sore hari gue coba sms Nanan untuk menanyakan soal sepatunya. “Nan, gimana sepatu? Ketemu gak?,” Tanya gue lewat pesan singkat. Gak sabar rasanya ingin mendengar jawaban yang mnenyenangkan darinya. Tapi satu jam belum juga ada balasan. Saat seperti inilah gue mulai cemas. Gue rasa gue butuh plan B. Kalau sampai Nanan gak punya sepatu, sepatu siapa lagi yang bakal gue pinjam. Gue mulai membayangkan pendakian sebelum-sebelumnya. Saat di Ciremai Fany pakai sepatunya sendiri, sekarang sudah gue pegang. Andra pakai punya OB, tapi sekarang sudah hancur sepatunya, Mentari gue lupa pakai punya siapa, dia memang punya sepatu sendiri dan baru, tapi sekarang kan dia sibuk pendidikan di Bogor. Jadi Mentari gak mungkin meminjamkan. Lalu siapa lagi? Oh iya, gue baru ingat kalau Wedia pakai sepatunya ka Asih. Kalau saja sepatunya ada, boleh juga tuh jadi plan B-nya. Okelah, gue coba sms Wedia siapa tahu beneran masih ada. “Wed, ada sepatu trekking gak lo?,” kata gue. Lima menit dia langsung balas, “Ada, yang punya ka Asih itu, tapi kecil. Mau pinjem?,” tanyanya. “Iya deh, Nanan gak pasti soalnya. Nanti malem gue ambil deh ke Ciputat,” balas gue. “Yaudah nanti sms aja kalo mau ngambil. Eh iya sekalian ini ada titipan kak,” balas Wedia. “Titipan apa wed?”. “Titipan deh pokoknya,”tegasnya bikin sebal saja jadi penasaran. “Yaudah nanti sekalian gue ambil Wed”.

Hari menjelang sore hampir maghrib. Menjelang maghrib Nanan baru bales sms lagi. “Sori nih ling, tadi gue di bengkel gak bawa HP. Kayanya gak ada deh ling,” balas Nanan. Benar juga dugaan gue. Kayanya emang beneran gak ada. Ya sudahlah pinjam sama Wedia saja. Sekitar satu jam kemudian Nanan malah sms lagi “eh ling, ketemu nih spokatnya”. Belum gue sms wedia bilang jadi, eh dia sms duluan. “Yaudin, gue ambil sekarang dah ye?” balas gue. “Tapi kondisinya busuk. Parah banget, belom dicuci dari waktu di Ciremai setaun lebih. Lo tetep mau?” ujarnya. Gila juga kalau waktu di Ciremai kalo gak salah Mentari yang makai. Gue baru inget.Gak kebayang deh bentuk sepatunya sekarang kayak apa. Padahal Ciremai sudah berlalu hampir satu setengah tahun yang lalu. “ Yaudah deh Nan, abis maghrib gue cabut kerumah lo. Gue lupa persisnya rumah lo nanti pas sampe gue tunggu di Alfamart yang deket rumah lo itu”. Sip ling, entar sms aja kalo dah sampe”.

Seusai solat maghrib gue langsung pinjam motor kakak dan cabut ke rumah Nanan arah Legoso, Ciputat. Sebelum berangkat gue bilang sama Wedia gak jadi pinjam sepatu, dan akan mengambil titipan itu setelah dari tempat Nanan. Cabutlah gue menuju rumah Nanan. Jarak kalau naik motor gak begitu jauh, sekitar 15 menit gue sudah tiba di Alfamart yang gue maksud deket rumah nanan itu. Gue sms Nanan, dia bilang dia sudah jalan tapi kok sampai 10 menit belum nampak juga batang hidungnya. Gue jalankan motor ketempat yang gue rasa itulah gang rumahnya. Pas gue sms dia bilang dia di bukit amanah. Sontak gue bingung. Bukit Amanah dimana ya? Waktu gue Tanya orang dia bilang lurus sampai pertigaan belok kiri. Saat gue ikutin petunjuk itu orang dan benar kalau itu bukit amanah tapi Nanan kok gak ada. Padahal dia bilang di pertigaannya persis. Gue sms lagi, “Lo dimana deh nan? Gue di ruko Bukit Amanah”. “Lo balik arah ling, kata lo tadi di Alfa, sekarang gue di Alfa”. Yaaah ternyata dia malah di Alfa lagi sekarang. Gue langsung kea rah Alfa dan masih gak ada juga. HP gue tiba-tiba getar dan itu nomer Nanan. “Halo, apaan Nan?”. “Lo balik arah, gue dibelakang lo!”. Gue puter balik, Nanan terlihat menenteng bungkusan plastik warna putih.

“Ini ling pesenan lo, tapi lo liat aja deh kondisinya begini.” Kata Nanan memperlihatkan sepasang sepatu kotor dengan tanah kering yang menempel. Sepatunya kaku sekali saat gue coba pegang. Mungkin sudah berjamur. Bentuknya saja garing kayak kerupuk tinggal goreng. “Buset dah parah banget ini sepatu,” ujar gue. “Lah, bukannya lo yang make waktu di Ciremai?”. “Ah kayanya bukan kelakuan gue nih Nan, lupa gue”. Sebenarnya gue sendiri lupa antara gue atau mentari yang melakukan. Mau ngakuin juga gak enak sama Nanan. “Yaudah jadinya sepatu aja nih ling?”. “Iya nan, gue langsung ke tempat wedia dulu dah ada titipan. Makasih banyak ya Nan”. “Iye ling selow, yaudah ati-ati lo disono,” kata Nanan.

Jarak antara rumah Nanan dengan rumah Wedia dekat. Wedia letaknya di dekat fly over Ciputat, sementara Nanan di dekat legoso. Kira-kira 15 menit dari tempat Nanan, gue sampai di gang masuk rumah Wedia. Gue tunggu dia di Gang depan biar gak lama. Pas sampai di depan gang, gue langsung kasih kabar ke dia kalau gue sudah sampai. Wedia lama sekali, gue sudah sebel rasanya untuk nunggu dia yang gak muncul-muncul juga. Gue itungin satu-persatu orang yang keluar gang, berharap hitungan kesekian adalah dia. Jenuh menunggu gue sms terus biar dia segera ke mari. Akhirnya dia muncul juga dengan kantong plastik yang gue gak tahu isinya apa. “Ini titipannya? Dari siapa Wed?”. Belum sempat dia jawab, dia sudah memberikan kantong plastik itu ke gue. Gue longok ternyata isinya beberapa logistik yang lumayan. Isinya itu 1 botol lemon water, 1 botol orange water, 1 kotak choco chips,  1 bungkus biskuit togo, dan beberapa bungkus biskuit lainnya. “Wah, ini buat gue nih?,” tanya gue sambil tertawa. “Iya udah bawa aja sono lu pergi, ga usah banyak tanya”, jawab Wedia menyebalkan. “Beneran nih?” kata gue. “Iya, udah sana”. Wah gue gak nyangka si wedia nambahin logistik. Barang semacam ini memang gue butuhkan untuk menghemat biaya konsumsi. “Lo mau nitip apa?”, tanya gue. “ Mercandhise aja kak, apa kek terserah lo deh, emblem juga boleh,”kata Wedia. “Oh, yaudah kalau ada ya..”. “Iya kak, ati-ati lo disana”. “Yaudah gue cabut wed, makasih ya”. Iya sama-sama”.

Sebenarnya gue juga kepikiran apa maksud dia dengan memberikan ini semua. Mungkin dia khawatir karna gue nekat naik berdua di musim ini. Masalahnya, wedia itu mantan gue juga. Gue sama dia pernah berhubungan waktu gue kelas 3 SMA dulu. Semoga saja dia gak ada perasaan apa-apa ke gue, murni karena iba melihat nasib gue ini.Amin. Kalau saja Rara tahu soal gue ketemu mantan gue ini, sampai dikasih titipan makanan segala, pasti dia bakal cemburu. Jadi lebih baik gue diam-diam saja ke Rara. Meskipun gue tahu gue gak ada perasaan apa-apalagi ke Wedia. Suatu hari kalau Rara tahu, mungkin dia akan marah. Semoga saja gak sampe marah. Lagi pula gue juga gak macam-macam.

Tiba dirumah gue langsung bersihkan sepatu Nanan itu. Sepatunya harus disol terlebih dahulu karena beberapa bagian sudah copot lemnya. Karena besok adalah hari keberangkatan, jadi gak mungkin sempat untuk nyuci sepatu dulu. Otomatis gue hanya bisa mengelapnya sebersih mungkin. Rencananya besok pagi sepatunya bakal disol di Pondok Labu. Sekalian belanja logistik bareng Geo. Kayanya besok bakal borong banyak. Malam ini akan jadi malam ‘terakhir’ di rumah. Besok pagi gue dan geo belanja. Siang harinya packing, dan sore berangkat. Wonosobo, I’m coming. Aaaah.. Sindoro, Sumbing

Hari Ini Kita Berangkat

Entah semalam mimpi apa, gue gak nyangka bahwa hari ini gue bakal berangkat ke Wonosobo untuk mendaki dua gunung sekaligus Sindoro dan Sumbing bersama rekan sekaligus sahabat gue, Geovani Suryajaya. Seharusnya hari ini adalah hari yang paling gue nantikan, tapi tampaknya pagi ini gue malah bermalas-malasan. Bangunpun sudah kesiangan. Jam 8 gue baru mandi lalu bersiap jemput Geo ke rumahnya lalu packing di rumah gue. Gak lama gue langsung meluncur kerumahnya. Sebelumnya gue sudah sms supaya dia tunggu di depan rumahnya. Sesampainya dirumahnya, Geo menyambut gue dengan senyumnya. Bajunya nampak rapih, dengan  menggunakan tas selempangan dan terselip jaket warna hitam. Sementara dia juga membawa tas gendol berwarna hitam. Gue membalas senyumnya namun agak sedikit tertawa. “Nih jaket yang lo pesen, gue bawa dua,” ucap geo memberikan jaket putih kusam. “Yaudah lo pegang aja, nanti di rumah aja,” kata gue mengembalikan jaket itu.

Dengan bersemangat dan yakin tak ada yang tertinggal gue tancap langsung menuju rumah gue. Kira-kira sekitar satu kilometer, geo menyuruh gue berhenti. “Tunggu ki!” Geo menepuk punggung gue. Segera gue hentikan laju motor dan menepi. “Kepnapa coy? Ada masalah?,” gue gak mengerti maksud Geo apa. Geo terdiam sejenak lalu balik bertanya. “Pas tadi kita jalan, lo ngeliat gue bawa jaket dua kan?”. “Kayanuya sih, tapi gue lupa”. Geo mulai menunjukan kepanikan. “Wah gawat kayanya jaketnya jatoh. Soalnya seinget gue tadi gue bawa jaket item yang gue selipin di tas”. “Jadi, maksud lo, jaket lo jatuh pas lagi jalan barusan, gitu?”. “Kayanya, yaudah coba kita balik lagi kita sisir jalanan siapa tahu masih ada”.

Bergegas gue putar arah. Kali ini agak ngebut, maklum diburu waktu. Mata terus menatap tajam setiap sudut-sudut jalan. Barang kali ada seseorang yang mengambilnya lantas melihat kita lagi akan dikembalikan. Gue gak yakin ada orang sebaik itu. Pasti kalaupun ada yang melihat, akan diambil untuk dibawa pulang. Sekarang ini kan jarang ada orang baik seperti itu. Sampai gue ke titik semula berangkat, pencarian tidak menemukan hasil sama sekali. “Coba lo periksa di dalem rumah lo, siapa tau ketinggalan,” ujar gue. Lima menit kemudian Geo muncul lagi. Dia mulai kesal karena di dalampun tak ia temukan. “Udahlah yo, ikhlasin aja. Bukan milik lo mungkin. Udah beli baru aja, duit banyak juga”, ucap gue tersenyum memberi harapan. Yaudah deh kita lewat jalan yang tadi aja ki, siapa tau masih ada harapan ketemu. Kalo gak ada baru kita beli aja nanti. Yang jelas hari ini kita berangkat, dan kita harus menyambutnya dengan suka cita tanpa beban pikiran”. Geo kembali naik motor perjalanan berlanjut kerumah gue tanpa menemukan jaket itu.

Pagi-pagi sudah sial, apalagi yang akan terjadi nanti. Sepertinya bakal banyak kesialan di hari ini. Pikiran-pikiran itu merasuk dan menakuti setiap langkah. Apalagi perjalanan mulai hari ini akan dimulai. Kalau kami tak selamat di Sindoro atau Sumbing nanti bagaimana. Rasa takut semacam itu menjadi momok yang membawa kebimbangan. Di rumah gue Cuma sebentar untuk naruh barang Geo saja. Setelah itu bawa sepatu Nanan yang busuk itu untuk di sol di pasar. Sekarang saatnya belanja. Geo langsung menitipkan sepatu tersebut ke abantg-abang sol. Tololnya dia malah Tanya harga duluan. Abangnya langsung matok harga dua puluh ribu. Malah ditawar sepuluh ribu gak dapet, jadinya lima belas ribu. Padahal saat gue ngesol sepatu disitu bayar sepuluh ribu saja. Masalahnya waktu itu gue bayar pas diakhir setelah solan jadi. Payah deh si Geo.

Sambil menunggu sol sepatu selesai gue dan Geo belanja di salah satu swalayan besar di Pondok Labu. Logistik yang gue kami borong banyak sekali, minuman dari kopi, the susu, gula masih banyak lagi. Air mineral 3 botol besar dan minuman pulp jeruk kami beli ukuran besarnya. Tidajk ketinggalan makanan pokok seperti minyak goreng, sayuran, baso, ikan teri. Ikan teri adalah makanan favorit kami saat mendaki. Berbagai snack kami beli hingga total belanjaan hampir dua ratus ribu untuk dua orang. Puas sekali kami belanja. Meskipun sadar bahwa uang yang dipakai uang rakyat, uang beasiswa bidikmisi. Menyesal tapi butuh.

Usai belanja gue ke pasarnya untuk cari kantong sampah besar, kertas nasi, dan plastik kecil. Sementara itu Geo langsung mengambil sepatu yang sudah disol. Kembali bertemu di parkiran kami lanjut pulang untuk packing. Rencananya usai packing, kita akan berangkat. Tiba dirumah sudah lebih zuhur. Sepertinya kami akan terlambat. Target awal kita ke terminal Lebak Bulus setelah ashar, tapi kenyataannya selepas solat zuhur kami baru mulai packing. Bahayanya, kalau sampai kemaghriban belum tentu kita dapat bis ke Wonosobo. Masalahnya kita belum pesan tiket. Packing dimulai, semua barang bawaan digelar dan satu persatu dimasukan, ditata seperti apa yang telah diajarkan saat pendidikan pecinta alam.

Sedang sibuk-sibuknya packing, Mang Gele dating. Panggilan gue kepada paman gue itu. Dia juga seorang pendaki. Sudah banyak gunung yang ia daki di Indonesia. “Bawain gue edelweiss ya!”ujarnya agak memaksa. Sebetulnya hasrat ingin membawakan edelweiss untuk Rara saja sudah membawa kebimbangan bagi gue, sekarang malah ditambah satu pesanan lagi. Astaga, idealisme melawan kebutuhan lagi-lagi terjadi. “Yaudah liat nanti aja deh Mang”,jawab gue. Gue gak berani menolak permintaan itu. Di bidang naik gunung, dia lebih tahu banyak dibanding gue. Berusaha memecahkan suasana, gue ajak ngobrol soal medan Sindoro Sumbing. Menurutnya kalau kami bias mencapai keduanya itu cukup hebat.

Medan Sindoro dan Sumbing sangat berat. Untuk mencapai kedua puncaknya, kita harus melewati jalan yang sangat curam dan berbatu tidak jauh berbeda dengan Ciremai. Dia katakana bahwa rencana kami agak nekat. Masalahnya ini musim hujan. Sudah beberpa minggu hujan terus membasahi bumi. Musim hujan tidak begitu bagus untuk mendaki. Besar kemungkinan kami akan menemukan badai gunung yang kerap terjadi di musim penghujan. “Kalau lo mau cepet ya lo lewat jalur lama saat di sumbing nanti. Jalannya langsung bablas lurus tapi curam” nasihatnya mendoakan supaya kami semua selamat.

Adzan ashar pertanda gue harus menyelesaikan packing ini. Gue bantu geo menata beberapa barang yang sulit dimasukan ke dalam cariel. Dengan senang hati akhirnya packing beres setengah jam dari waktu ashar. Solat ashar, mandi, kemudian gue dan Geo pamit kepada orangtua gue. Mereka tidak bisa menahan keinginan gue untuk naik gunung. Mereka hanya bisa berpesan agar kami berhati-hati. Terutama nyokap gue khawatir dengan kondisi cuaca buruk. “Banyak-banyak doa, dzikir ya nak”, kata-kata terakhir nyokap gue sebelum gue tinggalkan rumah. Akhirnya setelah semua beres, rencana yang gue sudah nantikan belakangan ini tercapai juga. Gue berangkat ke Sindoro dan Sumbing untuk mendaki bersama seorang kawan gue Geo. Selamat tinggal rumahku.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.