Kumpulan Puisi Jilid I

“Dikantin Asrama”

Oleh Rizky Ramadhani

 

melempar jenuh petiknya dalam ragu

alunan selentingan bernyanyi

berlari, meninggi, ikuti langkahnya

jiwaku ada masuk ke rasa

cinta, jiwa makna, suara

terus tertawa, senyum, dan teriakkan hatimu

 

 

 

 

“Ilham Tak Manja Seperti Kita”

Oleh Rizky Ramadhani

 

risaukan mataku lelah

berbisikku dalam hening

sepi, asramanya

 

jika kita tertawa bahagia karena ayah

bunda, maka kita dusta

udara ini terlalu manis untuk

para yang tertinggal

seakan menertawakan kita, anak mamih

 

manja, tak tahu diri

cetakan murahan kejenuhan

 

ini sebuah potret kita

semakin malam tetap terang

 

senyum, maniskan, rasa cinta

biarkan pucuk-pucuk bambu

mengeluh

seakan kita murka pada

sandaran. diam kau!

kita ini manja

 

 

 

“9111”

Oleh RR

 

ketika gamelan mengeluh

kepal jarinya hampa tanpa pola

tak terdengar

pada kerancuan suara ku bertanya

siapa mereka?

 

 

 

“Katakan Kau Bisa”

2 September 2010, oleh RR

 

asah penamu

malasku mengutuk otak

mataku memelas

ingin tahu mimpi nanti malam

terdiam bertulis dingin

tak melangkah menatap terus

 

harapku jangan kau tiru

panah ruangmu katakan kau tahu

jangan diam. berseterulah!

biar saja temanmu inginkan

pada sajak-sajak bungkammu

 

tetap tenang. rasakan celah itu

semakin tajam tak pelak kau masuk

tunggu, jangan berlama

pejamkan lagi

aku seirama

kita mulai dan kau bisa

 

 

 

“Tapal Senja”

2 September 2010, oleh RR

 

kita berdua, berdiskusi

pada alam seraya cinta

bungkam canda peluk asmara

merona, senja, barat kelabu

menanti waktu membunuhnya

kelak nanti, saat buta kita

bayangkan makna disana

 

 

 

“Bicara”

Oleh Rizky Ramadhani

 

ada orang yang membuang makan di mang engking

ada orang yang berdebat soal kemiskinan

ada orang yang teriak-teriak di DPR

ada orang yang berjam-jam bersua

ada orang yang menghabiskan dompetnya

ada orang yang bercinta di kempinski

 

tapi ada orang yang menangis kelaparan

ada yang membayar diri demi uang

ada yang menjual koran meski hujan

ada yang tak bisa kesekolah karena uang

ada yang tak kenal waktu demi nasi

semua itu ada

ada dalam catatan kita tanpa perduli

biarkan mereka hidup dalam hidupnya

 

 

 

” Apakah kita “

Oleh Rizky Ramadhani

 

sekarang aku adalah batu

tak tergerak, berpikir akan tanya

semakin lama semakin keras

menjawab tentang apakah kita

kita yang malang meratap tanya

siapa sebenarnya kita?

 

kita terlahir dan merangkak

pada jawaban yang tak terbantahkan

bahwa entah esok, kita adalah tanah

masih merasakan derap nafas

untuk berbuat dan tujukan tujuan

mari merenung soal hati, nilai, dan..

cinta

 

 

 

” Rindu Untuk-Mu”

Oleh Rizky Ramadhani

 

aku rindu

pada kehangatan

abadi

 

aku rindu

untuk mengabdi kepada Mu

 

rasanya terus rindu

tanpa ada yang

membayarnya abadi

 

aku rindu..

pada Tuhan

 

 

 

“Jalan Kita”

28 Oktober 2010 oleh RR

 

hujan turun lagi

masih dalam kebutaan-kebutaan

aku tak melihat sesuatu

tak bersuara, dan hening

 

mari berbicara soal jalan kita

ada yang berbelok, sebagian menoleh

beberapa persimpangan

tidak lepas, tidak kulihat

biarpun tahu, kita kan diam

cerah biarlah cerah

meskipun tak lagi tunjukan jalan

 

jalan kita berbeda

sulit untuk searah

 

 

 

Catatan :

Beberapa puisi diatas dibuat pada masa Saya kuliah semester pertama di Universitas Indonesia. Dibuat dalam buku-buku tulis yang tidak tertata.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: