SS : Sebuah Catatan Perjalanan (Part II)

PART II

SEBUAH PENANTIAN

 

Januari, bulan yang basah. Kecuali tahun-tahun ini cuaca jadi makin gak tentu. Untuk kali ini gue pastikan bulan ini hampir dipenuhi hujan terutama saat menjelang sore. Apalagi ini adalah masa liburan. Gue hanya di rumah saja menanti pagi, kemudian malam lagi, begitu seterusnya. Kadang gue coba membunuh bosen gue ya dengan ke warnet. Cari info tentang Sindoro-Sumbing, facebook-an, dan pastinya ini adalah waktunya gue cari teman untuk pendakian SS ini. Siapa yang bersedia untuk pendakian ini. Rasanya terlalu lemas kalau sampai rencana ini batal hanya karena tidak ada yang ikut. Gue harus bisa menjebloskan sesorang untuk bergabung dengan gue. Tanpa itu semua rasanya pendakian ini akan jadi mustahil. Terlebih gue ingat banget pelajaran mountaineering di Gasakpala dulu, bahwa pendakian itu hanya boleh dilakukan minimal sekali tiga orang

Pendakian minimal tiga orang itu bukanlah tanpa alasan. Perhitungannya sederhana, ketika salah satu pendaki mengalami celaka, sakit, atau bahkan tewas, maka satu pendaki akan turun ke bawah mencari bantuan, dan yang satu lagi menemani korban. Dalam kondisi sakit misalnya, seorang korban tidak boleh ditinggal sendirian karena akan sangat membahayakan. Kemungkinannya korban bisa tewas mendadak tanpa ada yang tahu. Korban akan sangat membutuhkan teman di sisinya, paling tidak jika temannya tidak bisa melakukan bantuan medis, temannya dapat menyemangati korban dan meyakinkan korban bahwa dia akan segera diselamatkan dan tentu saja selamat. Ketika korban sendirian maka tidak akan ada lagi dorongan motivasi. Ini sangat berbahaya seorang korban dengan kondisi drop secara fisik apabila mentalnya turut menurun dapat menyebabkan putus asa. Tidak hanya sampai disitu, hambatan alam bisa saja terjadi misal cuaca buruk, atau bahkan gangguan binatang liar yang akan memperburuk situasi. Oleh karena itu pendakian paling minim dilakukan oleh tiga orang.

Permasalahan sekarang adalah siapa yang akan gue ajak dalam rencana pendakian ini. Gue akan coba cari rekan pendakian dari temen sejurusan gue. Tentu saja faqih harus diajak. Dia anak wonosobo. Pasti lebih kenaldaerahnya. Sayangnya sebentar lagi dia akan pulang kampung. Apa dia mau.? Nanti gue bakal sms dia. Faqih sepertinya enggak hobi dengan naik gunung. Paling enggak gue akan coba cari info transportasi dan hal-hal lainnya dengan dia. Mungkin malam ini sms-nya.

“Qih, kowe neng ngendi? Wis bali?” Tanya gue dalam bahasa Jawa. Gak beberapa lama sms gue dibales lagi. “Gue lusa pulang ke Wonosobo ki. Kenapa” balasnya. Sial gue ajak ngomong Jawa malah dibales pake logat Jakarta. Gue sambung pake bahas jawa aja deh sekalian belajar. Mungkin karena di Wonosobo pake bahasa Jawa ngapak kali bikin dia agak sungkan pake bahasa Jawa. Mungkin juga emang dia males ngomong Jawa ama gue takut nanti guenya kebingungan. Gue cuma bisa ketawa dalam hati. “Aku arep menyang Wonosobo munggah Sindoro-Sumbing, kowe ngerti ora transportasine? Kowe melu aku ya?, bisa ta?” bales gue lagi. Agak lama sih dia jawabnya. Kebetulan saat itu gue lagi di warnet searcing gambar-gambar lokasi pendakian sindoro dan Sumbing.

Setelah sekian menit faqih baru bales lagi. Ah mungkin tadi dia sibuk sms kekasihnya. “Gue biasanya naek sinarjaya dari Pasar Minggu, berangkatnya jam 5. Kapan mau ke Wonosobonya? Gue gak bisa ikut kayanya” jawab faqih. Cepat saja gue bales “ tanggal 17 qih, ongkose pira? Omahmu adoh ora saka terminal wonosobo?”. Gak kaya tadi kali ini dia bales lebih cepat. “ Kalau AC harganya 75 ribu, tapi kalau ekonomi 60 ribuan deh. Enggak, rumah gue deket. Lo mampir aja.” tegasnya kepada gue. Buat gue ini adalah angin segar. Maklum kalu berdasarkan cerita Faqih waktu sebelum ini, dia pernah bilang kalau ke Wonosobo itu biasanya sampai di sana pagi hari jika dari Jakarta berangkat sore. Ini pasti akan jadi perjalanan yang melelahkan buat gue. Apalagi ini adalah perjalanan terjauh gue ke arah timur. Sebelumnya gue pernah waktu kecil ke daerah Purwokerto. Tepatnya saat saudara gue ada yang nikahan. Setelah itu gue gak pernah lagi. Untuk sementara Faqih mungkin enggak ikut mendaki tapi memungkinkan untuk berkunjung ke rumahnya terlebih dahulu. Paling enggak, gue bisa istirahat untuk kemudian melanjutkan pendakian ke tujuan utamanya, yakni Sindoro Sumbing. Wonosobo I’m coming!

Kalau fakih enggak mau maka gue harus cari teman yang lain. Tapi tetap fokus di teman yang sejurusan. Target berikutnya adalah Andra H, Wahyu, Dwi, atau para lelaki lainnya. Jadi gue to the point saja langsung diumumkan di facebook grup Sastra Jawa UI 2010. Grup ini gue yang buat, dan ternyata selama sekian bulang sangat efektif buat komuinikasi di jurusan tercinta ini. Oleh karena itu gue putuskan untuk membuat kiriman di grup facebook. Harapan gue paling gak ada minimal satu orang yang mau ikut. Sebagian dari teman-teman Sastra Jawa punya bekal pecinta alam. Wahyu misalnya, saat SMA di juga cukup aktif di pecintaalam sekolahnya. Konon dia pernah mendaki gunung Wilis di Jawa Timur. Secara geografis gunung itu memang dekat dengan kampungnya. Dia bukan anak Jakarta. Dia adalah mahasiswa daerah, asalnya dari kota Kediri di Jawa Timur. Dari situlah gue coba buat ajak dia. Gue sms dia, berharap dia mau ikut perjalanan kali ini. Gak lama dia bales, dia bilang bahwa dia gak bisa karena factor x. Gue juga gak begitu paham kenapa. Mungkin karena sedang gak ada uang, atau mau pulang kampung.

Mungkin Andra bisa jadi jawaban gue. Saat itu juga gue sms Andra untuk menanyakan apakah dia akan ikut gue ke Sindoro Sumbing dengan gue. Andra adalah teman yang paling dekat dengan gue di jurusan ini. Andra yang satu ini bukan Andra sahabat gue yang anak Gasakpala itu. Jadi teman gue bernama Andra ada dua. Yang ini namanya Andra Hidayat, seorang mahasiswa asal Lasem, Jawa Tengah yang mencoba mengambil Studi Jawa di Universitas tercinta. Dia orang yang hobi dengan olahraga. Paling jago kalau main futsal, Voli, Catur, dan masih banyak lagi. Jadi mungkin saja dia mau. Mendaki gunung juga termasuk olahraga. Segera gue sms dia. Tidak begitu banyak percakapan gue dengan dia. Intinya dia gak bisa. Lagi pula dia kurang begitu tertarik dengan tawaran gue untuk ke Sindoro Sumbing ini. Alasan pastinya gue gak begitu mengerti. Mungkin dia akan menikmati masa liburan kuliah ini di Kampungnya. Saat ini dia memang sudah pulang kampung. Dia pernah bilang, lebih enak tinggal dikampung, temannya banyak, dia bisa main bal-balan di kampungnya, atau sekedar menghabiskan waktu bersama keluarganya. Apalagi dia baru punya adik yang masih balita, sedang lucu-lucunya.Pasti dia rindu dengan kampungnya itu. Sudah beberapa bulan tidak pulang.

Saat ini gue sedang berada di warnet. Gue akan coba chat juga dengan beberapa teman yang memungkinkan untuk ikut. Salah satunya Galuh. Galuh Wulandari Sasongko adalah seorang mahasiswi asal tangerang yang menggunakan jilbab lantaran rambutnya yang agak kribo, macho sekali. Seumur hidupnya dia belum pernah pacaran, sempet sekolah di SMAN 3 Tangerang. Dia dulunya adalah Ketua OSIS, dia seperti lanang. Mungkin karena itu cowok-cowok tidak mau menjadi pacarnya. Jadi temannya lebih mengasikan. Galuh adalah cewek yang juga tertarik dengan kegiatan semacam ini. Gue gak tahu dia mau atau gak tapi ya dicoba saja. Dia pernah cerita bahwa dia sebenarnya belum pernah naik gunung. Menurut gue sih enggak masalah. Seseorang itu mampu mendaki bukan karena fisiknya yang oke, tapi mentalnya! Sekekar apapun badannya, kalau nyalinya ciut pasti akan menyerah.

Kebetulan saat ini galuh sedang ada di chatroom. Gue akan coba tanya ke dia barangkali dia berminat.”Gal, gue mau ke Sindoro Sumbing mau ikut gak?” tanya gue.Galuh itu remaja laptop, jadi anytime asal gue online selalu dia lagi dia lagi. Pasti dibales cepet olehnya. “Kapan emangnya”jawab galuh. “ Kira-kira tanggal 17 Jamuari gal. Lo mau ikut ga? Gue belum dapet teman”sahut gue. Gue agak panjang berbicara dengan dia. “Yah, masalahnya gue mau ke Kampung Inggris di Pare, Kediri”. Gue berpikir dalam hati, mungkin dia ke sana bersama Wahyu. Maka dari itu Wahyu gak mau ikut. Gue coba pastikan keberangkatannya itu, “Lo sama siapa aja ke sana? Ngapain? Emang kapan?” tanya gue beruntun. “Gue aja ini sekarang lagi di kereta ama si Dio. Rencananya nanti gue bakal ketemu Andra H, Wahyu sama Zeni. Gue mau les di sana” jawab galuh dengan kesan bangga dan senangnya. Sialan, jauh-jauh ke Kediri hanya buat les bahasa Inggris. Kaya di Jakarta gak ada saja. Pembicaraan itu masih berlanjut. Ternyata les disana biayanya murah sekali gak lebih dari 100ribu. Belum lagi biaya kos di sana, katanya, kos disana hanya 50ribu buat dua minggu. Rencananya mereka akan ngekos disana selama dua minggu. Ah senangnya jadi mereka sudah berangkat jalan-jalan duluan. Sementara gue? Belum ada kepastian satu orangpun yang mau ikut. Akhirnya percakapan lewat chat gue hentikan bersama kegalauan gue itu berhubung waktu sudah semakin malam.

Hari ini adalah hari yang semakin melelahkan, akan gue tutup malam ini dengan mimpi-mimpi baru. Tuhan, semoga malam ini gak akan ada mimpi tentang gunung yang terjal, hutan yang suram, atau senyum sahabat yang menyertai pendakian. Malam ini gue gak mau berharap banyak. Harapan gue cuma esok dan sedikit lusa lagi sampai ada seseorang yang mau menemani gue mendaki sebelum tanggal 17 Januari. Ini semua menjadi rumit buat gue, hasrat sudah terlalu menggebu dalam kalbu. Langit gak boleh jadi mendung karena tinggal harapan. Minimal tiga orang harus tercapai, atau tidak sama sekali. Gue sendiri jadi bimbang, tekad untuk tetap berangkat meracuni gue\, dan gue gak bisa mengelak. Gue harus berangkat bagaimanapun caranya. Mungkinkah gue berangkat hanya sendiri? Ya Tuhan, ini begitu berat! Semoga malam menenangkan jiwa yang menjadi payah ini. Pencarian rekan belum berhenti, masih ada teman Gasakpala, teman SMA, semoga ada jawaban yang berbeda di hari esok.

 

Teman-Teman Gasak Pala

Sekarang tanggal belasan bulan januari tahun 2011. Tidak ada yang istimewa di hari ini. Pagi tadi, seperti biasa, ada ucapan selamat pagi dari Rara, kekasih gue. Setiap pagi dia selalu mengucapkan selamat pagi sembari mengingatkan untuk gak lupa sarapan. Hal itu gue lakuin juga ke dia sebagai bentuk perhatian gue ke dia dan sebaliknya. Walaupun gue tau setelahbaca sms itu pasti tidur lagi gue atau dianya. Setiap pagi gue biasakan untuk nyapu sekeliling rumah, padahal gak banyak cowok yang mau melakukan ini. Kebanyakan dari oprang-orang malu karena kebiasaan nyapu halaman umunya dilakukan oleh kaum hawa. Seringkali gue dengar omongan dari tetangga atau orang yang lewat di halaman rumah gue yang menyindir seakan laki kok nyapu? Tapi itu sebagian saja, sering juga gue dapet pujian karena hal itu juga. Begitulah aktifitas pagi hari ini di tanggal belasan bulan Januari 2011.

Sepertinya Rara mulai menanyakan kembali kepastian ke Sindoro Sumbing. “Sayang, kamu tetep jadi berangkat ke Sindoro Sumbing tanggal 17 nanti? Aku dengar teman di jurusan belum ada yang mau ikut kamu ke Sindoro Sumbing?” begitu ujarnya. “Iya ra, aku juga belum tahu lagi nih jadi atau enggak, temen-temen jurusan gak ada yang mau, Geo yang waktu itu ada kemungkinan sekarang aku sms gak dibales-bales” sahut gue via sms sedikit cemas. Tentang Geo yang belum ada kepastian semakin meresahkan gue. Rasanya kalau sampai batal perjalanan ini keterlaluan. Geo udah gue coba sms berkali-kali tapi gak ada balesan, sementara ditelpon, telponnya tidak pernah bisa terhubung. Pikiran gue udah mulai bimbang dan gelisah. Bukan hanya masalah teman, masalah uang juga menjadi sebab.

Tanggal 17 udah tinggal beberapa hari lagi tapi uang belum kelihatan. Apa mungkin gue harus gunain uang beasiswa gue lagi untuk perjalanan kali ini? Padahal waktu gue gunain uang ini untuk beli sepeda saja sudah dimarahi orangtua. Apalagi untuk perjalan macam ini. Pasti gak akan setuju. Belum lagi pikiran orang tua naik gunung itu cuma buat hambur–hamburkan uang. Gak ada hasilnya. Lagi pula naik gunung itu penuh resiko. Tapi gue pernah ingat ada pepatah lama tentang naik gunung yang bisa jadi alasan perijinan orangtua. “Naik gunung itu tidak akan mengurangi atau menambah umur anda”, begitu pepatah lama. Kesimpulannya bahwa mati adalah takdir yang gak bisa dielakkan. Kalau ada orang mati digunung berarti memang sudah takdirnya demikian. Gak bisa dijadikan alasan penyebab kematian.

Agak lama akhirnya Rara bales lagi, “aku sebenernya gak pengen ngelarang kamu untuk tetap berangkat, tapi aku jadi berat hati kalau harus melepas kepergian kamu ke sana sendirian” balas Rara seperti mencemaskan gue. Tanpa dia bilang gitu, gue juga mikirlah masa iya gue naik sendirian. Kalau dipikir-pikir sebenernya planning untuk naik sendirian mulai masuk akal juga sih. Ini bisa jadi plan B kalau-kalau ternyata benar gak ada teman yang mau ikut. Gue jadi tertarik untuk mendaki sendirian. Gue akan terlihat lebih ‘laki’ kalau bisa nyelesain dua gunung sendirian yang belum pernah gue daki sebelumnya. Taktiknya adalah sesampainya gue di basecamp nanti gue break dulu sampai ada pendaki yang bisa diajak untuk muncak bareng. Untuk saat ini masalahnya gue belum terlatih untuk itu dan itu terlalu beresiko. Misalkan untuk mendirikan tenda dalam kondisi normal saja gue belum bisa sendirian. Belum lagi kalau kondisi cuaca yang memburuk, pastinya sangat sulit. Gue gak mau insiden Surya Kencana terulang lagi.

Berbicara mengenai tenda gue baru sadar, ternyata barang-barang pendakian benar-benar belum disiapkan. Ini masalah yang cukup serius yang harus gue hadapi. Gue gak punya cariel, kompor, tenda, sepatu, yang gue punya sebenernya cuma baju ganti. Semua itu bisa diakali jika aja gue mau ke sekretariat Gasakpala untuk pinjam alat. Di sekretariat, peralatan pendakian lumayan lengkap. Hanya saja gue berat hati untuk minjam alat karena gue pernah menghilangkan beberapa barang Gasakpala yang sampai saat ini belum gue ganti. Sejenak gue akan melupakan dulu permasalahan itu. Gue pengen rileks untuk malam ini, menjelang tidur gue sempatkan waktu buat kekasih sekedar sms dan bercanda bersama. Untuk besok, gue akan ke Sekretariat Gasakpala, Andra yang anak Gasakpala juga, sms gue supaya datang ke sana untuk melatih anggota baru. Nah hari esok itulah kesempatan gue buat ngajak teman-teman di Gasakpala. “Selamat tidur sayang” sms gue ke Rara untuk menutup hari yang tanpa hasil.

Pukul delapan pagi gue bangun. Pagi ini gue harus segera membereskan urusan rumah karena gue akan lanjut berangkat ke SMA gue untuk menemani Andra mengajar materi pecintaalam. Selesai gue bereskan semua, gue segera berangkat naik angkutan umum. Satu jam lebih gue berangkat tiba di sana sekitar pukul sepuluh siang. Di depan sekolah terlihat beberapa guru yang dulunya bikin gue males. Gue putuskan masuk lewat pintu belakang, beruntung sekarang pintu belakang sedang dibuka. Sekretariat letaknya di gedung sekolah bagian bawah. SMA 46 sendiri memiliki gedung dua bagian, sisi atas, dan sisi bawah masing-masing dua lantai. Setibanya di secret, gue bertemulah dengan Andra yang sudah memulai pengajaran sejak beberapa menit yang lalu dan gue terlambat. Saat itu calon anggota hanya dua orang saja, beberapa tahun belakangan anggota menurun bahkan dua angkatan mental.

Di sekretariat gue cuma menambahkan beberapa penjelasan dari andra. Kebetulan materi yang sedang dipelajari yakni materi survival. Survival sendiri adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap pecintaalam. Melalui pembekalan materi survival diharapkan ketika dalam menghadapi kondisi sulit seperti kecelakaan, tersesat, atau kehabisan bekal, seseorang dapat bertahan hidup dengan memanfaatkan benda-benda disekelilingnya. Setiap anggota diajarkan bagaimana memanfaatkan tumbuhan untuk konsumsi, membedakan yang mana dapat dikonsumsi dan mana yang tidak. Tidak hanya itu, mereka diajari cara membuat bivak atau tempat berlindung saat kondisi suvive. Ada pokok-pokok survival yang harus diingat oleh setiap anggota berdasarkan singkatan kata survival itu sendiri.

 

S : Sadarilah sungguh-sungguh situasimu,

U : Untung malang tergantung ketenanganmu,

R : Rasa takut harus kau kuasai,

V : Vacum, atau kekosongan isilah dengan segera,

I : Ingat dimana kau berada,

V : Viva, hargailah hidupmu,

A : Adat istiadat harus dipetutu/ditiru,

L : Latih dan belajarlah selalu.

Delapan kata kunci itu benar-benar harus diresapi dalam-dalam, karena suatu saat menjadi amat penting untuk diingat. Dalam kondisi survival, biasanya orang berada dalam situasi panik. Segalanya bisa terlupakan, otak tidak dapat bekerja secara baik, dan pada akhirnya kacau. Oleh karena itu, delapan kata kunci itu seperti jadi rambu-rambu saat menghadapi kebuntuan. Pada saat para calon anggota melakukan pendidikan mereka akan diajarkan secara praktek materi ini. Pada prakteknya, biasanya makanan mereka disita dan mereka dilepas untuk cari makan sendiri dari alam. Kadang cacing bisa menjadi menu uitama makanan mereka. Selain cacing mungkin yang umum adalah tanaman pakis, begonia, palem, onje, pisang, dan lainya disesuaikan kondisi lapangan. Bukan hanya soal makanan, mereka tidur di bivak yang mereka buat dari batang, dedaunan di hutan yang bisa dibuat seperti gubuk. Di sanalah mereka tidur. Semua pelajaran itu sangat bermanfaat kelak saat menghadapi situasi yang sebenarnya.

Andra nampak sibuk menjelaskan sub bagian yang menjelaskan tentang ular dan penanganan gigitan ular. Setelah itu giliran gue menjelaskan sub bagian jerat. Jerat atau perangkap hewan merupakan keahlian khusus yang tidak semua orang bisa termasuk gue sebenernya. Ya gue sih coba ajarkan sebisa dan yang gue tahu saja. Gue saja tahu jerat dari tivi bukan dari pelajaran kakak kelas dulu. Paling enggak, meraka dapat sedikit bekal. Sembari mengajar gak lupa tujuan utama gue datang ke Sekret yaitu buat ngajak rekan-rekan Gasakpala untuk ikut rencana pendakian gue ke Sindoro Sumbing.

“Ndra, gue pengen ke Sindoro sama Sumbing”, ucap gue ke Andra yang baru saja menjelaskan materi. “Terus kenapa?” Tanya balik dia yang pura-pura sok gak tahu maksud gue bilang seperti itu. “Ya gue ngajak lo. Ikut yu, gue belom ada temen lagi nih”, sahut gue sedikit merayu. “Emangnya kapan?”, Tanya dia. “ Tanggal 17 bulan ini” jawab gue singkat. Serdikit menghela nafas agak lama kemudian dia meneruskan, “gue sih pengen ki, tapi gue kayanya gak bisa. Tanggal 17 kan sudah tinggal besok, sementara gue gak ada uang ki, kecuali lo bayarin deh, gue ikut kalo gitu”, jawab Andra sambil tersenyum menggombal. Sial, buat diri gue sendiri aja udah keteteran, apalagi ngongkosin dia. “Yah, kalaupun ada gue juga ngepas ndra, terus Mentari gimana? Apa dia bisa ikut ya?” Tanya gue ke Andra. Andra itu sekarang lagi deket sama Mentari jadi dia lebih tahu dari gue.

Perlu diketahui bahwa gue, Andra, dan Mentari merupakan satu angkatan di Gasakpala, angkatan XXXI. Kami mulai kenal sebenarnya sejak di Rohis dulu. Andra posisinya sebagai divisi hutan dan gunung merangkap rock climbing. Dia adalah sosok cowok yang menyebalkan sebenarnya tapi sebenarnya baik. Sejak kegiatan pertama mulai pendidikan di gunung Salak, Andra selalu menemani gue di organisasi ini. Jumlah pendakian yang dia capai sementara inipun masih sama banyak. Bedanya, sekarang dia tetep melanjutkan aktifitas kepecintaalamannya di kampusnya. Dia kuliah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat. Dia mengikuti organisasi Mapala di kampusnya. Oleh karena itu, dari segi keilmuan dasar, mungkin gue sudah agak tertinggal.

Sementara itu, Mentari adalah sosok cewek yang tabah banget. Orangnya gak gampang ngeluh. Waktu jadi pengurus Gasakpala dulu, dia berposisi sebagai sekretaris merangkap bendahara juga. Kehidupan keluarganya agak kacau. Ayahnya sudah lama cerai, Mamahnya yang sekarang kerja. Rumahnya tidak jelas lantaran pindah-pindah terus. Gue salut sama dia, meski kehidupannya agak berantakan tapi dia bias tetap survive. Sekarang dia kuliah di jurusan kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Sama halnya dengan Andra, dia juga melanjutkan aktifitas kepecintaalamannya. Dia ikut Rimpala, organisasi pecinta alam di kampusnya. Berhubung saat ini dia sedang menjalani pendidikan dasar di organisasinya itu, dia jadi gak bisa ikut rencana gue ini. Lunturlah semangat gue buat mendaki Sindoro Sumbing. Tapi teman-teman di Gasakpla sudah gue beritahu tentang rencana gue itu termasuk sama pengurusnya yang saat itu Cuma ada Wedia dan beberapa orang calon anggota. Teman-teman yang diharapkan buat ikut ke sana malah gak ada yang bisa ikut. Kalau begini jadinya, maka plan B gue buat naik sendiri sepertinya bakal digunakan. Hati gue makin gelisah gak karuan. Buat gue, kalau sudah bertekad pantanglah untuk mundur. Kecuali dua hal, orangtua dan Tuhan.

 

Harapan Terakhir

Sudah sejak pagi gue coba menghubungi Geo, tapi tetap gak ada respon. Beberapa sms udah gue layangkan kepadanya, sampai sekitar jam dua belas siang belum juga ada tanda-tanda akan dibalas. Geo adalah satu-satunya orang yang belum ada kepastian sama sekali buat ikut atau gak. Beberapa hari yang lalu, dia bilang dia akan pendidikan Aranyacala, apakah dia benar-benar sudah lupa tentang janjinya untuk mengabari lagi kalau dia bisa ikut atau enggak. Siang itu rasanya agak putus asa. Bayang-bayang mendaki sendirian jadi sulit. Gue belum pernah ke Sindoro atau Sumbing. Bagaimana kalau gue sendiri nanti tersesat, kehabisan bekal, atau kehabisan minum yang katanya susah air. Hal-hal semacam itu membuat gue agak paranoid. Gejala ini seharusnya gak terjadi. Menanti sesuatu yang gak pasti itu benar-benar gak enak. Pantas banyak pasangan yang memilih putus ketimbang hanya diberi harapan kosong untuk menunggu yang mungkin tak kembali. Begitulah cinta, sama halnya seperti menunggu teman yang gak kunjung ada yang mau.

Apa gue batalkan saja rencana gue ini? Apalagi persiapan pendukung seperti barang-barang utama belum ada. Keuangan belum jelas dari mana, belum lagi orang tua yang sejak gue bilang rencana gue ini udah melarang duluan. Tapi kali ini gue harus nego lagi sama nyokap. Gue yakin soal izin gue sendiri masih bisa diakalin. Tanpa berlama-lama, gue langsung ke nyokap gue. Gue bilang kalau gue mau ke Sindoro Sumbing. “ Ma, tanggal 17 Rama mau naik ke Sindoro Sumbing” ucap gue singkat berharap nyokap langsung ngizinin tanpa pikir panjang. “Hah? Mau naik gunung lagi? Duit dari mana? Udah apa jangan naik gunung mulu, Emak khawatir. Lagian kaya kebanyakan duit aja naik gunung mulu”, sahut nyokap resah. Raut wajahnya agak kaku seperti berat mengizinkan. “Siapa yang naik gunung mulu sih? Ini kan sudah lama Rama gak naik gunung, lagian bosen tau dirumah terus-terusan”, jawab gue coba mengelak. “Ah terserah deh”balas nyokap gue. Kalau gak diizinin gimana ya? Tanya gue dalam hati. Apa gue tetep nekat berangkat. Semoga aja kata ‘terserah’nya itu terserah yang cenderung mengizinkan.

Gue gak mau banyak omong sama nyokap maksud gue adalah kesannya gue bukan minta izin yang untuk dijawab iya atau tidak, tapi harus berkesan bahwa gue cuma mau memberitahukan informasi tentang rencana gue mau pergi, seakan-akan nyokap gak bias menolaknya. Agak maksa memang, maklum saja kita sebagai manusia harus bisa konsisten terhadap omongan, paling tidak berusaha menuju konsisten, kecuali takdir, ya mau bagaimana lagi? Akhirnya gue tinggalkan ruang tamu dan cabut ke warnet buat sekedar nambah-nambah info dan siapa tahu ada geo yang lagi chat.

Siang hari menuju jam dua, matahari ada diatas kepala, panasnya makin membakar kepala yang memang sudah panas. Sesampainya diwarnet, warnet penuh. Gue harus nunggu beberapa menit lagi. Di warnet berisi bocah-bocah ingusan yang lagi main game dan beberapa anak baru gede yang lagi facebookan. Gue gak tau gue ini tergolong yang mana. Kalau gue yang paling gede, maka gue jadi golongan T. Tua-tua keladi, sudah tua gak tahu diri. 15 menit gue tunggu keluar juga tuh bocah. Langsung gue buka facebook dan bener apa yang gue duga. Ada si Geo di chatroom! Pas banget. Gak pake buang waktu akhirnya langsung gue bicarakan dengannya soal rencana itu. “Ge, gimana? Tanggal 17 nih berangkat ke SS udah tinggal besok-besok. Lo ikut gak?” tanya gue buru-buru berharap dia bilang iya gue ikut. Jawabannya ternyata beda dari yang gue harapkan. “Aduh gimana ya ki, gue harus ikut pendidikan Aranyacala nih. Waktunya bersamaan dan gue bingung”, jawab geo yang mengecewakan gue. Mendengar kata-kata itu rasa senang atas harapan yang masih mungkin, jadi runtuh semua mendengar kebimbangan itu, bukan satu jawaban yang pasti. Bukan kata-kata itu yang gue harapkan. Tapi bisa apa gue? Terus gue mau marah memaksakan kehendak semacam ini? Terlalu egois kalau seperti itu. Harapan memang tidak akan pernah sama persis dengan kenyataan. Hadapilah semua dengan tenang. Tuhan pasti sudah membukakan suatu jalan yang harus gue raba-raba dulu celahnya.

“Yaudah gini aja, besok lo datang ke rumah gue, terserah jam berapa aja.Gue besok ada dirumah. Terus lo kenapa gak bisa dihubungin?” bales gue di chat itu. “ Yaudah kalau begitu, hp gue ilang coy, pas waktu itu gue balik dari kampus kecopetan di kereta. Besok dah gue certain. Gue ga ada alat komunikasi, tapi gue pasti datang. Lo stay aja di rumah”, balas Geo yang sebenernya ini lucu. Dalam hati gue, pasti nih orang melakukan hal bodoh lagi yang menyebabkan hp-nya ilang. Chat kali ini gue tutup. Intinya, besok geo bakal datang ke rumah gue. Di sini otak jahat gue mulai bekerja. Pepatah mengatakan, tak ada rotan akarpun jadi. Ini agak maksa untuk menggambarkan gue yang bakal berusaha jadi setan untuk pengaruhin pikirannya supaya gak ikut pendidikan Aranyacala dan memilih ikut pendakian Sindoro Sumbing. Gue tertawa dalam hati saat itu. Tujuan ke warnet hari ini sudah cukup, tapi di luar sepertinya hujan. Hujan lagi, hujan lagi. Gue jadi berpikir bagaimana nantinya kalau situasi cuaca masih hujan begini jika terjadi juga di Wonosobo. Meskipun daerah Jawa Tengah secara umum lebih kering dibanding Jawa Barat, tetap saja disana pasti musim hujan juga. Inikan bulan Januari! Sepertinya gue harus nanya Faqih soal kondisi cuaca di sana beberapa hari ini.

Tetes hujan telah berakhir seiring berakhirnya gue ngenet. Gue balik ke rumah hampir pukul enam petang. Selepas itu gue mandi, makan, dan sms-an dengan Rara. Hubungan gue dengan Rara yang baru dua minggu ini baik-baik saja. Semua masih terkendali. Hanya saja sejak tanggal 1 Januari gue belum bertemu lagi dengannya. Dia terlihat rindu terbaca dari gaya dia sms. Dia ingin bertemu, tapi dia kan gak boleh keluar rumah sama orangtuanya. Kalau gue yang harus main ke rumahnya itu gak seru. Menurut gue, ke rumah pacar itu harus jarang-jarang. Kalau belum ditanyakan sama orangtuanya jangan datang dulu. Kalau sering-sering nanti mereka bosan dan bakal berpikir negatif tentang kita. Biar saja orangtuanya kangen dengan gue dulu (mungkin gak ya). Menakhlukan wanita itu, harus juga menakhlukan orangtuanya. Terutama Ibunya. Soal pacaran biasanya kalau ibunya menyetujui, bapaknya akan turut menyetujui lantaran si bapak takut sama si ibu. Para ibu itu sangat senang kalau pacar si anak bawakan sesuatu. Pasti ibunya luluh. Wanita memang seperti itu, tapi semua itu kembali ke orangnya masing-masing. Memang pada dasarnya segala apapun di dunia ini pasti berujung dengan kata “kembali pada diri masing-masing”. Kata yang kehabisan kata untuk menjawab. Sayangnya pas tanggal 1 Januari lalu gue belum mempraktekan itu. Waktu itu gue lupa, jadi ya sudahlah lupakan saja sekalian.  Hari sudah mulai malam, semoga hari esok ada harapan baru.

Malam telah berakhir berganti pagi. Malam memang selalu lebih panjang saat libur seperti ini, karena bangun pasti pukul delapan. Hari ini tidak begitu jelas, selain nunggu Geo yang gak tahu bakal ke sini jam berapa. Membunuh waktu dengan berleha-leha, tidur, dan menonton televisi adalah hal yang makin membuat jenuh di liburan kali ini. Sampai beberapa jam akhirnya geo datang juga. Kedatangannya tanpa salam membuat kaget saja. Apalagi wajahnya lusuh penuh beban hidup. Wajahnya jadi agak kecoklatan menutupi kulit aslinya yang putih dan selalu dia banggakan itu, mungkin karena banyak pikiran dan tak terurus, kasihan. “Lo kenapa yo? Muka lo kusam banget, duduk sini” ucap gue mempersilahkan duduk. “Pusing gue nih, aduh gimana ya, gue gak tahu bisa ikut lo apa enggak. Masalahnya di tanggal yang sama gue juga mau pendidikan lanjutan Aranyacala ki. Gue bimbang sementara diklat Aranyacala juga gue agak males, apalagi 10 hari” jawab Geo seperti bimbang walau emang dari dulu dia juga orangnya bimbangan, dan gak punya pendirian. Kemana angin bertiup, ya ke sanalah dia melangkah. Gue hanya senyum dengan kata-kata polos dia itu. Belum gue bicara, dia terus melanjutkan omongannya yang meragukan itu. “Kayanya gue gak bisa, apalagi pas di gunung Limo itu gue udah janji sama temen cewek gue buat tetep ikut pendidikan lanjutannya” kata geo polos dan lugu seakan baru kenal sama cewek.

Haduh, ini orang kok sampai segitunya, sampai akhirnya dia cerita tentang saat dia pendidikan di gunung Limo. “Jadi saat gue di gunung Limo tuh gue sekelompok sama seorang cewek. Nah dia itu baik sama gue. Malah dia yang nolongin gue saat gue jatuh, padahal yang lain ninggalin gue gitu aja. Pas gue jalannya lama dia juga yang nunggu gue. Yang bikin gue malu adalah saat turun gunung itu loh, gue turunnya merosot-merosot di jalanan. Pantat kotor semua, padahal kayanya dia gak kaya gue gitu, salut gue sama dia. Makanya gue gak enak sama dia kalau sampai gak ngelanjutin pendidikan. Gue sudah terlanjur janji sama dia”, cerita Geo kepada gue. Gue rasa Geo jatuh cinta kali nih sama tuh cewek. “Ya Allah ge, masa cuma karena itu lo ngebiarin gue naik sendirian? Kalau gak ada yang ngikut gue bakal nekat naik sendiri nih, ayolah ge!” sahut gue sedikit merayu, barangkali hatinya jadi luluh. “Oh iya sih, gue juga lagian gak boleh lebih dari seminggu buat naik gunung sama nyokap gue” tegasnya yang memancarkan hawa tergoda omongan gue.

Gue rupanya harus cari alasan tambahan nih buat memperkuat pengaruh busuk gue ini. “Bener ge, gila lo sepuluh hari lo pasti bakal dikerjain habis-habisan sama senior lo, dan makanan lo pasti turut disita, harus makan gak enak lo selama sepuluh hari, ajegile lo. Lo tahu kan lo bakal gunain kompor parafin yang bau penderitaan itu, serta nasi aron gosong yang bakal lo makan?”, tambah gue semakin membuatnya bimbang. Geo Nampak senyum-senyum saja. Wajahnya yang tadi lusuh kini berseri-seri. “Coba lo pikir, kalo lo ke SS sama gue, pasti gak akan ada parafin, gak ada nasi gosong, dan kita akan senang-senang disana. Gak akan ada yang nyuru lo push-up apalagi yang ngebentak-bentak saat lo tidur nyenyak”, tegas gue mencoba merayunya lagi. Rayuan kali ini sepertinya akan berhasil. Rayuan-rayuan tadi mulai bereaksi di otaknya itu. Dia mulai senyum-senyum seperti melihat suatu hidayah. Gue turut senang melihatnya. “Baiklah kalau emang seperti itu gue akan pertimbangkan, Besok gue bilang deh sama senior di Aranyacala bahwa gue gak ikut. Gue bisa beralasan orang tua. Terus soal janji gue ke cewek itu bagaimana?”, Tanya Geo balik. “Ya elah Ge, lagian kayak tuh cewek ngarepin lo aja, masih ada tiga milyar dua puluh satu cewek di dunia ini, ingat apa kata The Panasdalam Band!”, ujar gue menambah keyakinannya. Dia malah tertawa kalau inget lagu-lagu The Panas dalam Band. The Panasdalam Band adalah salah satu band favorit gue dan dia pas waktu SMA. Lagu-lagunya tolol semua, bisa dicari dengan mudah di internet.

Akhirnya geo luluh juga. Senangnya, sepertinya rencana ke Sindoro Sumbing bakal berhasil.Tinggal menghitung mundur 3 hari sebelum tanggal 17 saja. “Oh iya soal barang gue belom ada tenda, cariel, sepatu, kompor, masih banyak deh” ujar gue kepadanya. “Ah kalau itu nanti bisa diakalin, yang penting gue harus bilang batal dulu sama anak Aranyacala” jawab Geo. Pembicaraan gue terus berlanjut mulai soal gambaran umum gunung Sindoro dan Sumbing, barang-barang yang harus disiapkan, sampai soal hp-nya yang hilang di kereta. Dia menceritakan kalau beberapa hari yang lalu saat dia pulang kampus, seperti biasa dia naik KRL dari stasiun Juanda ke arah Depok. Kebetulan antara ruamah gue dan Geo sama-sama di Depok. Dia di daerah Tanah Baru dan gue di daerah Cinere. Singkat cerita, saat dia naik KRL hp-nya diletakkan di dalam tas. Di tengah perjalanan dia merasa ada yang meraba tas nya. Sampai pada saat turun baru sadar ternyata tasnya sudah dirusak dan hp-nya gak ada. Hp-nya lumayan keren, saying kalau harus dicopet. Geo memang gak biasanya naik di dalam gerbong. Biasanya dia naik di atap kereta atau di sambungan gerbong, malah kadang bergelantungan di pijakan sambungan gerbong paling belakang. Begitulah kesehariannya menghadapi Jakarta yang sudah kejam dari dulu.

“Oke, kalau kita sudah fiks untuk berangkat tanggal 17 sekarang gimana nih soal alat? Masalahnya gue gak mau pinjem GP, gak enak banget udah ngilangin tenda bagong”, lanjut gue membahas soal peralatan yang sama sekali belum disiapkan itu. “Besok dah kita cari semua barang yang masih kurang. Lo ada duit gak?”, tanya geo ragu, soal uang kalau harus membeli. “Ada sih tapi gak banyak, paling kalau mau beli ya kita patungan aja yo”, jawab gue berharap geo yang biasanya punya banyak duit membantu. Geo itu orang yang ga kesuylitan duit. Dia pernah bilang kalo masalah duit mah gampang. Tiap kali dia bilang gitu gue tertawa dalam hati. Geo emang soal jumlah duit gampang, tapi yang gak gampang itu soal kalau dia lagi pelit atau hitung-hitungan. Bisa berantem itu kalau masalah macam itu. Apalagi kembalian, gak percayaan banget sama temennya. Mungkin ini akibat dia merasa sering dibodohi saat masih jamannya ngeband dulu. Biasanya setiap selesai ngeband kadang Geo dikerjain dapat jatah bayar lebih banyak, maka dari itu sekarang dia selalu menaruh curiga kalau sudah patungan.

Hari mulai menjelang sore dan bersiap akan berganti malam. Sore itu gue dan Geo sepakat besok akan pergi mencari barang-barang yang dibutuhkan untuk pendakian nantinya. Barang-barangnya mungkin agak banyak. Gue coba daftarkan beberapa barang sebelum akhirnya gue antarkan Geo pulang ke rumahnya pakai motor bokap gue. Di sepanjang perjalanan pulang kerumahnya gue dan dia panjang lebar membahas soal perjalanan yang akan ditempuh. Gue bilang kalau Sindoro Sumbing ini sepertinya lebih sulit dari Ciremai apalagi Gede, jadi persiapan fisik harus dilakukan. Geo mengaku kalau sekarang-sekarang ini dia rajin jogging buat melatih fisiknya. Dia gak mau kalau di SS kelak dia malah tepar gak kuat. Selesai mengantarkan dia, gue balik ke rumah dan tidur.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: