SS : Sebuah Catatan Perjalanan (Part III)

Terbangun di pagi hari

Disiuli genit burung dan mentari

Pantai indah telah menanti, mengiringi buih ombak yang menari

Resah hilang, hadapi hari ini, hapus mimpi yang tak pasti

Lepas sudah rapuhnya diri ini langkah bebas bersemi

Di pantai ini ku menari (tak mungkin ku mampu lupakan)

Di pantai ini ku menyanyi (terngiang-ngiang indah pantai)

Di pantai ini ku menari (disini Senggigi lagi)

Tak ingin ku berhenti …

Berlari telanjang kaki, laut biru tersenyum nelayan riuh menepi

Terbaring dipasir putih, amati langit ini kepak camar pun melambai

Angin bernyanyi, menepiskan lamunan kesombongan diri ini

Senja kan datang membelai pikiran tentang mimpi di awan

Di pantai ini ku menari (tak mungkin ku mampu lupakan)

Di pantai ini ku menyanyi (terngiang-ngiang indah pantai)

Di pantai ini ku menari (disini Senggigi lagi)

Tak ingin ku berhenti …

Mentari siap menepi segera menandai hari akan berganti

Lembayung di sore hari sudah siap cumbui mimpi manis malam hari

Marangsang hati untuk bisa lupai kepiluanku ini

Harapkan datang peri siap temani menantiku malam ini

( Lirik Lagu Pas Band “Pantai Abis” )

Lagu Pas Band  “Pantai Abis” pagi itu seakan membanguni mimpi manis malam tadi. Memang tak ada burung camar, tak ada ombak, atau pantai yang indah seperti lagi itu, tapi hari ini begitu cerah secerah perasaan gue yang senang karena rencana ke SS akan segera jadi kenyataan paling tidak bersama Geo. Pagi ini gue akan jemput Geo dari rumahnya untuk hunting barang-barang yang akan dibawa. Waktu menunjukan pukul delapan lebih tiga puluh menit, mandi sudah, tinggal berangkat ke rumahnya. Hari ini memang benar-benar indah. Tanggal 17 sudah di depan mata, dan bayang-bayang kedua gunung kembar itu akan segera berubah menjadi kenyataan. Wonosobo, kota yang kata orang memiliki udara yang sejuk dan pemandangan yang indah akan segera kami kunjungi. Gambaran Sindoro dan Sumbinga gak ada habisnya bgue baying-bayangi.

Berdasarkan gambaran cerita artikel yang gue temukan, gunung Sindoro dan Sumbing adalah dua gunung yang seperti kembar, hanya dipisahkan oleh jalan utama Wonosobo-Temanggung. Memiliki udara yang segar. Di kaki kedua gunung itu umumnya masyarakat bermata pencaharian sebagai petani. Mereka bertani secara tumpang sari. Tanaman yang ditanam antara lain kubis, daun bawang, tembakau, jagung, kembang kol, dan beberapa tanaman sayur lainnya. Tanah di sana sangat subur. Hampir setengah bagian gunung tersebut konon merupakan ladang penduduk sebagai gambaran betapa luasnya lading mereka.

Gunung Sindoro dan Sumbing merupakan gunung yang sangat menantang untuk didaki. Sindoro memiliki ketinggian 3136 meter diatas permukaan laut, memiliki beberapa puncak bayangan, dan kawah yang cukup besar. Jalur pendakian gunung Sindoro ini dapat ditempuh dari beberapa lokasi, tapi yang paling umum adalah melalui Desa Kledung, Temanggung Jawa Tengah. Sementara itu untuk Sumbing sendiri dapat ditempuh melalui Desa Butuh, Dusun Garung, Wonosobo, Jawa Tengah. Desa Kledung dan Desa Butuh adalah trek tektok gunung Sindoro dan Sumbing. Kedua posnya dipisahkan jarak sekitar satu kilometer, dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama setengah jam saja. Kaki gunung Sindoro dan Sumbing memiliki pemandangan alam yang cukup eksotis, beberapa lokasi wisata juga terdapat di sana. Keindahan panorama alam disana ditambah dengan hiasan perkebunan seluas mata memandang.

Secara umum kondisi jalur pada musim panas sangat kering dan berdebu. Untuk Sindoro, tidak terdapat sama sekali mata air di jalur pendakian. Sementara itu, untuk sumbing hanya terdapat mata air dibeberapa lokasi tapi tidak ada kepastian akan adanya air terutama saan musim kemarau. Oleh karena itu, air harus tersedia dari basecamp. Dari segi kontur jalur pendakian, Sindoro memiliki sudut kemiringan 30-70 derajat, sedangkan Sumbing lebih curam yakni 40-80 derajat. Kedua gunung ini memiliki trek berbatu yang cukup melelahkan. Trek berbatu lebih dominan di Sumbing dari pada Sindoro. Tiket masuk sendiri dari yang diceritakan cukup murah yakni sebesar dua ribu rupiah saja. Harga yang tidak cukup untuk beli segenggam bawang di Jakarta. Kedua gunung ini sepertinya belum dikelola baik oleh pemerintah daerah setempat. Sayang kalau gunung yang Indah seperti itu tidak dijadikan sebagai Taman Nasional. Padahal kalau dijadikan Taman Nasional paling tidak peran pelestarian hutan dan perlindungan satwa dapat ditingkatkan. Apalagi kedua gunung ini sempat beberapa kali mengalami kebakaran hutan.

Gue sampai dirumah geo pukul sepuluh lebih beberapa menit saja. Gue sms supaya dia cepet keluar dan bawa beberapa peralatan utama pendakian seperti  cariel dan segala macam isinya. Malah dia bawa obat-obatan P3K  lengkap yang boleh gue bilang isinya sampah semua. Isinya obat-obatan kimia yang nama-namanya aneh. Menurut gue obat semacam ini gak akan dibutuhkan karena gue gak kenal obat-obat yang diajarkan oleh Aranyacala itu. Obat yang dibawa Geo itu termasuk obat keras semua yang Geo juga gak tahu dosis penggunaannya bagaimana. Ini adalah hal tolol. Buat apa obat bsemacam itu dibawa kalau pada akhirnya gak digunakan juga. Siapa juga yang mau minum obat yang keras seperti itu. Buat gue, P3K yang paling cocok untuk pendakian macam ini sederhana yaitu Tolak Angin, dan obat luka macam betadine, serta perlengkapan lain seperti kasa, alkohol, gunting. Tolak Angin itu memiliki peran yang ganda dan praktis, dapat mengobati masuk angin, pusing, mual, dan kandungan jahenya dapat berguna saat kondisi hipotermia. Beberapa peralatan P3K itu memang kalah jauh dibandingkan yang diajarkan Mapala atau institusi Pecinta Alam lainnya, tapi gue yakin cuma obat-obatan itu yang paling cocok untuk tipe badan macam gue.

“Berangkat nih?” Tanya gue bercanda. “Berangcut daah!”, sahut geo menambahkan. Peralatan itu sengaja dibawa ke rumah gue untuk dititipkan samapai keberangkatan ke Sindoro Sumbing. Kalau Geo berangkat dari rumahnya pakai cariel maka akan dipertanyakan oleh orang tuanya. Untung carielnya masih di pinjam Wedia dan belum dikembalikan jadi bias diambil nanti. Kali ini Geo akan bohong lagi dengan orangtuanya. Dia bilang dia mau ke Jawa, ke tempat rumah temannya teman Geo. Jadi maksudnya dia akan bilang kepada orangtuanya kalau dia akan berlibur ke rumah temen gue yang di Wonosobo itu, alias ke rumah Faqih, bukan naik gunung. Oleh karena itu, semua barangnya akan dititipkan di rumah gue dulu. Gue dan dia langsung cabut balik ke rumah gue dulu, baru kemudian hunting barang. Tapi naik angkot saja.

Belanja Keliling Jakarta

Barang Geo gue taruh di rumah, kemudian gue dan dia cabut untuk hunting barang pukul sebelas siang. Agak panas memang jam-jam segini. Tempat tujuan hunting barang yang akan kami kunjungi pertama adalah toko barang pendakian di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Nama tokonya Lauser. Tokonya agak kecil tapi isinya lumayan lengkap. Di sini gue hanya melihat cariel. Harganya relatih lumayan mulai dari 300 ribuan sampai 800 ribuan. Terlalu jauh dari duit yang gue punya. Padahal cariel yang punya merk emang harganya minimal segitu. Untuk cariel yang memang gue butuh banget disini rata-rata tipe bogabo dihargai 400 ribuan. Ada juga 300 ribuan tapi gak sesuai kriteria.Tinggal bagaimana caranya untuk mengatur  keuangan supaya dapat barang tapi gak langsung bangkrut.

Bagaimanapun, barang kegiatan outdoor itu harganya luar biasa semua. Jujur, inilah pertama kali gue ke toko outdoor. Sepanjang hidup gue di Gasakpala dulu gue emang gak pernah modal. Setiap kali naik, gue cuma modal dengkul. Cariel yang gue pakai, punya alumni, tenda ya inventaris GP, sepatu pinjam-pinjam seadanya, kalau tali-temali banyak, peralatan macam kompor, nesting, matras, di GP ada semua. Di antaranya banyak yang gak terpakai. Kalau sudah mentok, baru pinjam alumni atau teman. Sekali-kalinya gue modal hanya kompor parafin dan tali webbing.

Sayang, pinjam-meminjam seperti itu jadi gak enak semenjak insiden kehilangan tenda bagong seharga 500 ribuan, dan kehilangan figure of eight seharga 100 ribuan yang belum gue ganti karena uangnya yang minim. Soal tenda bagong sebenarnya tenda itu gue yang mengizinkan untuk meminjamkan ke organisasi pecinta alam MAN 4 Jakarta. Waktu itu mereka pinjam tenda dan beberapa barang lainnya. Pas waktu mereka kembalikan, gue gak cek ulang kondisi barang yang bekas mereka pinjam. Mungkin karena 6 botol pocari sweat yang dijadikan sogokannya, gue sampai lupa buat mengecek lagi. Sampai suatu ketika bagong nanya tendanya kemudian di cek ternyata sudah gak ada playsutnya lagi. Habislah gue dimaki-maki. Tiap ketemu ditanyakan terus. Sampai gue apal pasti dia bakal bahas tenda. Sekarang malah jadi bahan cak-cakan kalau membicarakan itu. Kalau figure, hilang habis latihan climbing di tower sekolah. Gue rasa ada yang nyolong. Semua hal tadi jadi alas an kenapa gue enggan pinjam barang ke GP.

Untuk pendakian kali ini banyak barang yang harus dibeli. Di toko lauser gue juga sempat nanya harga kompor gas. Gasmate di sini dibandrol dengan harga 125.000 rupiah. Sementara untuk trangia mini berbahan bakar spirtus dibandrol dengan harga 400 ribuan. Sementara untuk ukuran besar yang biasanya terdiri dari teflon, panci, dan teko disini gak ada. Kalau sepatu trekking disini di bandrol rata-rata 300 ribuan. Sementara Geo tampaknya sedang lihat-lihat kaos dan celana serta pisau lipat dan barang-barang gak begitu vital lainnya. Hari memang belum begitu siang, tapi panas rasanya karena Geo mulai bawel karena ke pincut oleh trangia. “Haduh gimana ya, soal kompor gue pokoknya cuma mau pakai trangia, habis gue kapok kalau pakai parafin males deh gue” ujarnya bercanda. Gue tertawa saja, pasti ini orang lagi teringat masa-masa diklatnya. “Kenapa emang yo? Bau penderitaan ya?” Tanya gue sambil setengah tertawa. “Iyalah, nanti bisa gak enjoy di sana tersiksa. Udah bau diklat, apinya ga bisa diatur, bikin nesting gosong, masak nasi jadi kerak doing” ujarnya mengeluh. “Gue juga mau deh punya trangia, tapi harganya coy, selangit!” jawab gue. “ Tunggu dulu yo, jangan kebawa nafsu, kita liat di tempat lain dulu, siapa tahu lebih murah” tegas gue meneruskan. Soal harga gue harus teliti. Apalagi melihat dompet yang tipis emang gak punya duit selain duit bidikmisi sebesar 1.500.000 rupiah. Akhirnya gue putuskan untuk mengecek di toko yang lain. Tempat tujuan berikutnya adalah tempat biasa anak GP belanja.

Lokasi tokonya di Mayestik, Kebayoran Baru, nama tokonya Outdoor Station. Anak Gasakpala paling sering belanja di sini. Toko ini paling dekat dari SMA 46. Saat Geo mau pendidikan pertama dia juga belanja di sini. Dari toko Lauser, gue lanjut ke Outdoor Station menumpang metro mini 610. Melewati SMA 46 lalu turun di Barito. Sesampainya di barito gue lanjutkan berjalan kaki sekitar 500 meter ke arah Pasar Mayestik. Outdoor Station terletak di sisi kiri jalan barisan ruko sebelum Taman Puring. Ini pertama kali gue tahu Outdoor Station. Gue pikir tokonya macam apa, ternyata toko khusus peralatan hiking, climbing, adanya di lantai 2. Sementara lantai 1 bukan Outdoor Station melainkan toko perlengkapan diving sejenisnya tapi sudah berbeda bagian. Di hp gue lihat jam  sekitar pukul satu siang. Untung tokonya ber-AC jadi adem-adem saja. Dibanding toko Lauser, di sini tokonya lebih besar. Pilihannya lebih beragam. Di dinding sebelah kiri digantung daypack berbagai merk dengan harga yang mantap. Paling murah 150 ribu tapi paling mahalnya gak sampai satu juta. Di sini tokonya lebih tertata bersih.

Dibawah dinding sebelah kiri gue temukan tenda! Tapi kata abangnya tendanya cuma ada itu saja soalnya lagi kosong. Ada sekitar 8 tenda yang diletakan disitu masing-masing masih rapih di dalam tasnya. Gue kaget, gue pikir harganya gak sampai 500ribu ternyata lebih padahal itu untuk ukuran yang kecil satu orang saja. Sementara ukuran standar 4 orang, ada tapi harganya 800 ribuan. Sisanya ukuran  besar harga diatas 1 juta. Kecuali 2 tenda eiger ukuran 2 orang. Tipe stormer dihargai 480 ribu sedangkan tipe Transformer harga pas 400 ribu. Sebenarnya yang gue cari tenda ukuran 4 orang biar kalau gue suatu hari mau naik lagi gak usah pinjam tenda lagi karena sudah muat.

Di dinding paling kanan digantung cariel berbagai ukuran mulai 60liter, sampai 100liter. Harganya gak jauh beda dibanding di Luser sekitar 400 ribuan-1 jutaan. Tapi disini gak ada yang 300 ribuan.  Di antara dinding kiri dan kanan ditengahnya dibatasi berbagai macam pilihan sepatu trekking, matras sampai sleeping bag. Trekking paling murah 300 ribuan tapi rata-rata 400 ribu. Matras gak sampai 50 ribu, untuk sleeping bag harga mulai 60 ribu ukuran kecil sampai 100 ribuan. Lama-lama berada di toko ini gue gak betah. Bukan karena temnpatnya gak nyaman, tapi kalau cuma lihat-lihat bikin kepengen doang beli tapi ya gak bisa duit terbatas.  Geo masih sibuk dengan ngidam trangia dan pisau-pisau lipatnya itu. Sebenernya geo pernah bilang dia sudah punya pisau lipat tapi sekarang sudah rusak beberapa komponennya. Kalau trangia disini harganya 650 ribu. Trangia mini 400ribu. “Ge, kayanya kita coba cek harga di tempat lain aja dulu yuk, gue tahu toko outdoor lainnya”ujar gue yang mulai capek lihat-lihat doang. “Yaudah terserah tapi gue pengen banget nih pisau lipatnya tapi lebih dari gocap”, sahut Geo yang gampang tergoda barang bagus dikit. Akhirnya gue putuskan buat coba lihat barang di toko selanjutnya. Target tempat berikutnya adalah Tandikey di daerah Kebayoran Lama.

Hampir jam dua siang gue lanjut ke Tandikey. Dari depan Outdoor Station gue naik 69 jurusan Ciledug tentu saja tanpa satu barangpun yang dibeli. Tandikey terletak persis di perempatan jalan Seskoal. Posisinya di sebrang jalan. Di sini Cuma 1 lantai saja. Baru mau masuk saja disini sudah disambut pramuniaganya yang banyak banget itu. Mungkin ada sekitar 6 orang. Suasananya jadi tridak nyaman. Kalau masalah harga semuanya mahal-mahal sekali. Cariel saja paling murah 600 ribuan untuk ukuran 80 liter, merk memang karrimor tapi mirip punya temen gue dan itu gak nyaman berdasarkan pengalaman. Trangia harganya sama saja. Tenda mahal sekali. Gak ada ukuran 4 orang sementara yang 1-2 orang harganya diatas satu juta. Gila! Pramuniaga disini bawel-bawel sekali gak begitu ramah. Kayanya untuk tenda, di Outdoor Station sudah paling murah. Memang kata abangnya Tenda eiger yang tipe itu paling laris dibeli di musim ini. Mungkin harganya bakal naik.

Gue dan Geo putuskan untuk balik lagi ke Outdoor Station. Untung jaraknya gak begitu jauh. 30 menit gue sudah sampai di depan Pasar Mayestik. Sekarang gue jadi bimbang, kalau beli tenda ini harganya 400 ribuan, Geo minta talangin dulu, soal patungan nanti belakangan. Dengan berat hati akhirnya kaki ini melangkah mencari Bank BRI. Dimanakah BRI berada? Gue jalan puter-puter sekitar Pasar Mayestik tapi gak ketemu, hanya ada Bank Mandiri, mau gak mau ya gue ke ATM Bank Mandiri akhirnya. Lima menit saja duit sudah keluar sebesar 600 ribu. Gawat! Hati rasanya maknyus banget duit beasiswa bidikmisi untuk pertama kalinya gue pakai untuk rencana ini. Nurani bergejolak apakah yang gue lakukan ini salah? Mana ortu gak tahu uangnya gue pakai. Gue gak mau berlama-lama dalam kegelisahan ini. Masalahnya uang bidikmisi itu sudah diwanti-wanti my mom and my dad supaya jangan dipakai. Oh shit!

Keluar ATM gue langsung nyebrang dan masuk ke Outdoor station lagi. Gak mau berlama-lama gue langsung milih tenda. Pilihan ada 2, antara Stormer yang kelihatannya safety dari badai dengan harga 480 ribu, atau Transformer  harga 400 ribu ada teras nya tapi kecil. Keduanya bermerk Eiger kapasitas 2 orang. Sempat bingung harus milih yang mana. Tapi gue pikir yang ada terasnya bisa jadi ukuran besar kalo ditambah embel-embel lainnya. Kelebihan lainnya sepatu bisa ditaruh diluar.  Khirnya setelah berdiskusi agak lama dengan Geo gue putuskan memiolih transformer 400 ribu pas. Gue coba tawar gak bisa ini harga pas semua kata abangnya. Yaudah fiks dengan transformer gue cek kondisi itu tenda, kondisinya oke, cara masangnya sudah gue mengerti, gue masukin lagi ke dalam tasnya. Pengecekan dibantu sama dua orang pramuniaganya. Selesai pengecekan gue bayar deh tuh kontan 400 ribu. Gue juga sempet tertarik dengan rain cover. Disini dibandrol 45 ribu merk avtech, tapi anehnya pas di bayar harganya hanya 35ribu mungkin diskon karena sudah beli tenda. Total belanja di Outdoor Station jadi Rp.435.000. Gue ambil stiker bonus langsung cabut bersama Geo ke destinasi berikutnya, Pasar Senen!

Berangkat dari Outdoor Station menuju Pasar Senen pukul setengah tiga. Padahal sudah cukup sore tapi agak maksa juga. Padahal Pasar Senen jam empat sore saja sudah mau bubar semua. Namanya juga niat, pantang pulang sebelum padam ibarat pemadam kebakaran. Sebenarnya gue agak was-was juga. Gue bilang dengan geo kalau gue agak ragu tetap ke sana. Pasti sudah sepi di sana, apalagi gue dan Geo dari Mayestik jalan kaki menuju terminal Blok M berharap hemat ongkos padahal jarak Blok M-Mayestik lumayan jauh. Jalan kaki ditambah nunggu P67 menghabiskan waku setengah jam barulah meluncur menuju Senen. Waktu tempuh sekitar satu jam.  Melewati Senayan, Karet, Setiabudi, Bundaran HI, berbelok ke Diponegoro sampai fakultas sebelah ke kiri dan lurus sampai Senen. Turun di bawah jembatan penyebrang lalu menyebrang dan masuklah ke Pasar Poncol bursa barang bekas murah. Uniknya, nyari pakaian disini bisa dapat yang harga seribuan. Sumpah gue gak bohong!

Benar saja di Pasar Poncol sebagian mulai tutup lapak.  Target pertama adalah cari cariel. Cariel di sini biasanya dijual di took perlengkapan tentara, polisi dan seragam PNS lainnya. Langsung gue dan geo naik ke lantai dua di sini. Nampak para pedagang sibuk membereskan barang dagangannya. Hanya beberapa toko yang masih sibuk melayani pembeli. Ada juga yang tokonya sepi-sepi saja. Gue ubek-ubek lantai dua, memang banyak yang jual perlengkapan TNI termasuk tas yang loreng-loreng itu. Ada juga cariel ukuran kecil sampai yang besar. Belanja harus teliti, maka dari itu gue lihat-lihat semua dulu yang jual cariel took mana saja. Gak tahan lama-lama mutar-mutar disitu akhirnya gue dan geo putuskan untuk memilih salah satu toko untuk tanya-tanya harga. Pertama kali gue lihat bentuk cariel yang kotak. Gue tertarik bentuknya. Soalnya, cariel bentuk kotak seperti box ini kapasitasnya lebih gede disbanding cariel bulet pada umumnya.  Dia pertama kali ngasih harga 300 ribu. Mbaknya pikir gue bego kali ya gak tau harga barang, yaudah gue tawar aja setengahnya. “150 ribu gimana?,” tawar gue sedikit merayu mbaknya biar luluh. “Dari sananya sudah mahal mas,” ujar mbaknya. Dalam hati gue tertawa. Sepertinya gak ada alasan lain buat para pedagang selain ‘dari sananya sudah mahal’ atau bilang kalau segitu belum dapet untungnya’. Gue gak berani nawar lagi setelah gue perhatikan bahannya agak cacat. Dari talinya saja sudah terlihat mudah putus, Gue piker ini gak Safety. Gue bisik-bisik sama geo berkomentar soal cariel kotak itu.

“Gimana yo? Gue demen nih cariel tapi talinya jelek banget tempelan doang, gampang putus!,”bisik gue  ke Geo. “Eh, coba lihat yang sebelahnya gedean kayanya bagus,” jawab Geo yang Nampak mulai kusam dan kecapekan. “Kalau yang ini berapa bu?,” Tanya gue ke mbak-mbaknya. “Kalo itu 350 ribu mas, yang itu bahannya beda lebih gede, bagus yang itu mas,” tawar mbaknya yang maunya dapet lebih banyak. Gue udah males berlama-lama gue tawar 150 ribu, mbaknya gak mau katanya 300ribu. Gak maulah gue, ini kan barang imitasi. Meskipun merknya Eiger punggungnya pakai busa plus ada framenya gue ngotot 150 ribu sampai akhirnya gue minta maksa 200 ribu. Gue sama geo kalo soal nawar lebih demen Geo, bukan karena dia jago nawar, tapi kalau dia sudah kepincut ngomong sama orang bisa lama. Gue senggol aja deh pantatnya biar dia sadar. “Coy udah kita pake trik lain aja” ujar gue pelan setengah berbisik. “Gimana?,”Tanya Geo. “Kayak biasa, kita pura-pura cabut dulu, pasti dia minta balik lagi,” sahut gue tertawa. “Yaudah mbak, gak jadi,” ujar gue ke mbak-mbaknya sembari mulai melangkah mundur meninggalkan toko itu. Belum ada tujuh langkah mbaknya manggil lagi. Wah, benarkan apa yang gue duga. “Oke, 200ribu deh tuh bawa sekalian ini mau tutup jugalah saya kasih saja,” sahut mbaknya memang dari awal gue sudah yakin pasti dapat 200 ribu. Akhirnya sekian tahun ikut pecinta alam punya cariel juga walaupun abal, betapa senangnya. Cariel langsung dibungkus plastik gede. Ada insiden waktu gue mau bayar cariel. Gue lupa duitnya tinggal 165 ribu, astaga! Panik juga gue, padahal sudah fiks 200 ribu taunya duitnya kurang, sialan. Gue rogoh-rogoh semua kantong sampai akhirnya gue minjem Geo dulu buat nalangin. Untung dia juga ada duit, meskipun kantong terkuras habis semua.

Usai gue bayar, langsung gue cabut buat cari ATM. Gue cari dari yang paling dekeat disebelah, Senen Jaya. Gue dan Geo putar-putar sampai lemas bak puasa saja. Mana belum minum, rasanya tenggorokan kering sekali. Mau beli minum tapi tanggung. Ingat, pantang pulang sebelum padam. Camkan itu baik-baik. Di Senen Jaya juga gak terdapat ATM BRI. Hari sudah mulai senja, lalu lintas di depan pasar Senen terlihat mulai padat merayap. Itu nampak jelas terlihat saat gue melintas jembatan penyebrangan. Sesaat sebelum menyebrang Geo melihat radio portable, saat gue lihat nampaknya memang bagus soalnya channelnya kelihatan banyak. “Sabar yo, emang giliran lo belom belanja,yang penting kita cari ATM dulu,” ujar gue kepadanya. “Yaudah deh, tancap ke atrium dulu pasti ada di sana” jawab Geo yang semakin lemas. “Kita tandai aja dulu di sini nanti kalau sudah ada duitnya kita balik lagi,” sahut gue yang juga semakin kehausan dan kelaparan.

Gue puter-puter lagi Atrium Senen buat cari ATM BRI tapi gak ada juga. Adanya ATM BCA, Mandiri, Danamon, DKI, dan beberpa ATM lainnya. Gue jalan pelan;-pelan dari sisi timur ke sisi barat Atrium. Akhirnya gue putuskan narik dari ATM Bersama dari tempat ATM Danamon.Gue ambil 100 ribu lagi sekarang saldo beasiswa tinggal 900 ribu. Makin galau saja menghadapi duit beasiswa yang berat dipakai. Terimakasih Mendiknas yang sudah berbaik hati memberikan beasiswa kepada gue. Keluar ATM gue balik lagi ke tukang radio tadi. Sebenernya radio itu kebutuhan tersier saja. Gak begitu penting tapi kalau naiknya berdua jadi sangat penting buat menghilangkan kesepian. Pasalnya kalau gak pake musik sama sekali bisa-bisa iseng apalagi kalau suasananya jadi hening saat di hutan nanti.

Ketemulah gue sama pedagang radio portable itu. Nampaknya belom ada yang beli dari tadi. Sebenarnya gue agak sungkan untuk memulai penawaran. Gue surulah si Geo untuk memulai buka harga. “Ge, lo aja deh yang nanya”. “Yaudah gue, eh tapi harga beginian biasanya berapa?”. “Kalo dulu sih sekitar 35ribuan, gak tau kalau sekarang, tawar aja dulu dibawah gocap!”, tandas gue meyakinkan. “Bang ini berapa?”, ujar Geo sembari menunjuk salah satu radio portable yang dipajang. Radio itu memang Nampak paling oke diantara yang lain. Selain punya banyak pilihan channel, ukurannya juga lebih praktis wajar kalau Geo memilih radio jenis ini nuntuk penawaran pertamanya. “Kalo yang itu 80 ribu mas”, jawab pedagang. “30 ribu aja deh bang”. Gila juga si Geo nawarnya langsung bawah, tapi masuk akal juga sih. “Wah gak bisa mas, paling ini saya kasih 60 itu juga udah pas, gak banyak untungnya”.”Ah yang bener bang, udah deh 40 aja bang”. “Belum dapet mas kalo segitu, cari di tempat lain aja, gak bakal ada yang jual harga segitu”. Gue dan geo jadi berpikir oleh kata abang-abangnya itu. Apa benar 60 itu sudah paling murah? “45 aja deh bang mentok dah tuh”, tegas Geo. Abangnya diam saja, mungkin capek melayani tawaran yang menurutnya gak logis itu. Geo dicueki abangnya lalu memohon-mohon supaya dapat 45. “Ayolah bang, plis” ujar Geo semakin memelas separuh merayu. Rayuan itu sepertinya gak banyak membantu si pedagang.

“Ky, gimana nih?. “Kayak biasa deh tinggal aja, paling juga nanti dipanggil sama abangnya”. Mendengar kata-kata gue Geo-pun mengiyakan saja. Pergilah gue dan dia meninggalkan pedagang itu dengan hati separuh mengeluh sambil berharap abangnya manggil kembali. Satu dua langkah abangnya gak bereaksi sama sekali, sampai lima meter berjalan juga gak ada reaksi. “Aduh gue udah jatuh hati nih sama radionya, tapi mahal banget kalo 60”. “Yah, sabar yo, kita cari yang lain aja siapa tau ada yang lebih murah, apalagi kita belum beli kompor yang lebih penting”. “Oh iya juga ky apa yang lo bilang”. Langit sepertinya mulai gelap. Kami benar-benar kelelah belanja sana-sini. Ditambah haus dan lapar akhirnya gue putuskan untuk makan dulu. Kebetulan di samping pasar ada tukang nasi goreng semakin menambah rasa lapar yang sudah tak tertahankan sejak tadi. Gue pesan nasi goreng dua porsi dengan telur didadar tanpa acar. Lahap sekali kami makan, maklum sudah dari pagi belum makan lagi. Saat makan gue membicarakan soal rencana selanjutnya dengan Geo. Diskusi ini agak santai dan menghasilkan rencana baru yaitu next destinasion. Pondok Labu adalah tujuan berikutnya, di sana rencananya bakal cari barang lagi. Senter, kompor, radio portable adalah sasaran utamanya.

Selesai makan gue langsung capcus ke terminal Senen dilanjutklan naik kopaja P20 jurusan Lebak Bulus. Rute yang ditempuh adalah Senen – Gambir – Tugu tani – Cikini – Menteng – Kuningan – Mampang – Buncit – Ragunan – TB Simatupang – Lebak Bulus. Saat melewati JatI Padang gue sempet bilang sama Geo kalau lusa kita bakal balik lagi lewat sini dalam suasana yang berbeda. Tentu saja dalam perjalanan ke tempat ngetem Sinar Jaya yang di Pasar Minggu. Senang sekali rasanya hari ini bisa belanja peralatan. Melewati jalan ini semakin menambah rasa deg-degan terbayang-bayang lusa akan berangkat. Gue sendiri senang naik bus malam, naik bus malam buat gue memiliki feel yang beda dan sensasi yang luar biasa. Wajar kalau gue terus terbayang-bayang saat berangkat melewati jalan ini, ke Pasar Minggu, dan naik bus malam.

Turun dari P20, kami melanjutkan menumpang angkot D02 ke arah Pondok Labu. Suasana jalanan lumayan ramai. Setelah beberapa menit ditempuh akhirnya tiba juga di daerah pondok labu. Turun angkot gue langsung memulai hunting lagi. Target pertama adalah senter. Di dekat toko AB biasanya banyak pedagang kaki lima yang menjajakan perkakas. Mungkin di sanalah kami dapat menemukan barang yang kami cari. Benar saja, di depan toko AB terlihat dua pedagang yang menjual perkakas mulai dari aneka obeng, tang, gergaji, palu, kran, lampu, batrai, dan pastinya senter. Mampirlah kami ke pedagang itu. Mulai melihat-lihat secara mendetail barang yang dijual. Di pedagang ini, Geo hanya tertarik pada beberapa jenis senter yakni senter mekanik yang putar-putar kemudian nyala, satu lagi senter kecil. Nah, kali ini dia kepincut sama senter mekanik. Sebenarnya masih banyak model-model senter lainnya, saying, senter-senter itu harus di charge. Senter charge memang hemat biaya karna gak perlu beli batrai tapi masalahnya senter macam itu tidak akan berguna di Gunung kelak. Mau nge-charge dimana nanti? Apalagi kebutuhan kami untuk perjalanan hampir seminggu.

Untuk senter mekanik akhirnya geo langsung memulai penawaran perdana. Senter itu ditawarkan abangnya dengan harga Rp. 15.000. Geo langsung menawar dengan harga 8 ribu. Saat itu gue diam saja sambil memperhatikan barang-barang yang lain. Tidak hanya kami yang sedang bertransaksi di pedagang itu, makanya abangnya sibuk meladeni pembeli lainnya. Oleh karena itu tawar menawar dengan Geo jadi setengah hati. “lapan rebu ye bang..” ,tawar geo. “Yaudah pat belas deh” jawab si abang. “Yah sepuluh deh bang”. “Gak bias dong sepuluh mah gak dapet”. “ Ayolah bang sepuluh, yaa”, sahut geo. Abangnya langsung diam saja, sampai geo terus merayu tanpa henti supaya dapat sepuluh ribu, akhirnya muncullah kata-kata si abang agak membentak. “Dibilang gak bias, kalau mau sepuluh yaudah, kalau gak cari aja ditempat lain”. Dalam hati gue tertawa saja, tapi nyebelin juga tuh si abang-abang. “Cabut aja yo, males gue lama-lama, abangnya ngebetein” ujargue pelan. Meskipun gue sudah bilang seperti itu masih aja si Geo megang-megang itu senter. “Ayolah cabut”. “Duh gimana ya, gue udah jatuh cinta sama itu senter ki”. “Ntar aja di depan pasti masih ada selow yo”. “Yaudah deh cari disebelah aja ki”.

Berjalan sekitar 200 meter dari tempat tadi, ada lagi pedagang perkakas macam tadi disini Nampak lebih seru, abangnya ramah, dan terang benderang lampunya. Pedagang perkakas macam ini biasanya memang buka mulai sore sampai malam, lampunya dibikin terang supaya menarik perhatian orang. Nah disinilah kami dipertemukan barang yang pas. Lebih lengkap dari yang tadi. “Ada senter yang gak dicas gak bang?”. “Bentar saya cari dulu, ini ada yang kaya gini”. Ternyata yang dikeluarkan si abang malah headlamp. Wah kebetulan banget ini lebih bagus dalem hati gue. “Ini berapa bang?”, tanya gue. “Dua puluh aja mas”. “lima belas aja ye bang”, tawar gue. “yaudah bawa aja deh lima belas gak apa”, sahut si abang. Langsung senang banget tuh si Geo mendengar kata-kata si abang yang menyepakati harga RP.15.000. “Coba aja mas biar keliatan”, ujar si abang.

Okelah, Geo dengan bersemangat langsung menyalahkan headlamp itu. Selesai dicoba, gue juga sempat beli batrai ukuran A2 dan A3 beberapa pack. Kebetulan ada pisau lipat, gilanya disini dikasih harga 4 ribu saja. Gak banyak cingcong Geo langsung beli 2buah. Walaupun harganya murah ternyata kualitas ketajamannya gak kalah. “Bang kalo radio ada gak?”, Tanya Geo yang memang lagi nyari radio. “Wah gak ada tuh de, ini aja nih 150 deh”, sahut si abang sembari menunjukan speaker mp3 ukuran 8x20cm. “Kalo yang ini bisa dicas, tinggal colok USB bisa langsung nyala, suaranya kenceng loh”, tambah si abang sambil menyalahkan speaker itu dengang volume penuh. “Yah, kalo itu gak deh bang, kita nyari yang gak dicas soalnya. Kalau ada yang pake batre  boleh deh”. Yah, kalau batre jaman sekarang udah jarang mas, dicas semua sekarang mah”. “Nah justru itu masalahnya bang” sahut Geo. Gue dan Geo tersenyum-senyum saja teringat tawaran radio 4 channel seharga 60 ribu yang ditawarkan di Senen tadi. “Sial yo, tau begini tadi beli aja yang di Senen, nyesel kan akhirnya sekarang” keluh gue main salah-salahan. “Ah lo sih ngajak buru-buru ki”. “Ya abis gue pikir 60 juga kemahalan taunya beneran gak ada yang kayak tadi”. “Yaudahlah, apa perlu nih kita balik lagi ke Senen?”. “Gila lo yo, udah malem coy, yang lalu biarlah berlalu, udeh kita cari ditempat yang lain aja” ajak gue. “Oklelah kalo begitu”.

Batrai dan headlamp dibungkus lalu kami cabut meninggalkan dagangan itu langsung ke toko Lauser yang tadi siang dijamah. Sialnya toko Lauser sudah tutup, padahal niatnya di Lauser mau beli kompor. Kalau dihitung-hitung secara matang menggunakan kompor gas lebih menguntungkan. Berhunung tokonya tutup akhirnya biar gak bolak balik gue coba putuskan gunakan kompor gas portable bedanya dengan gasmate yang dijual di Lauser, kompor gas portable ukurannya lebih besar dan beratnya juga lebih berat. Gue coba cari di toko sebelah. Toko barang elektronik dan peralatan tumah tangga. Sayangnya gak ada gas portable disana. Begitupun radio juga gak ada, ada ukuran besar, tapi kami gak butuh yang seperti itu.  Gue coba cari di toko elektronik yang lain p[as di depan pasarnya. Barang yang kami cari ternyata ada disini. Untuk radio akhirnya deal jatuh dengan harga 60 ribu meskipun gak lebih bagus dari yang ditemukan di Senen. Sementara gas dikasih harga diatas 200ribu. Gue sudah malas buat nawar gue piker lebih bagus gasmate, jadi gue mengurungkan niat untuk beli gas portable. Kami putuskan untuk mengakhiri belanja hari ini. Barang yang belum dapat bakal dicari esok hari. Akhirnya kami pulang dengan kelelahan. Setibanya dirumah sudah pukul sebelas malam. Gue anter Geo pulang pakai motor. Rencananya besok akan melengkapi alat yang masih kurang seperti nesting, sepatu, dan kompor. Balik ke rumah langsung mandi. Habis mandi gue sms wedia buat Tanya soal nomor HP fany yang baru. Fany kan punya sepatu trekking. Setelah dapat nomornya, gue langsung sms Fany buat pinjam sepatunya, dan minta tolong besok pagi ia bawakan ke GP. Malam ini gue tertidur lelap hingga pagi akhirnya datang.

Malam telah berlalu begitu cepat dan mengganti pagi bersama embun di pekarangan rumah. Gue bangun setelah gak lama hp bergetar pertanda ada sms masuk. Sayup-sayup mata gue lihat sms dari Geo. “Ki, hari ini gue harus ke aranyacala dulu, soal barang yang kurang lo cariin dulu deh, soal duit gampang nanti gue ganti”. Membaca sms itu gue agak males kalau harus cari barang sendirian. Sepertinya gue melemah dalam idealism untuk gak pinjam barang ke GP, kalau kondisinya begini, mungkin gue akan pinjam juga ke GP. Beli nesting pasti habis gocap, kompor 125 ribu, belum lagi sepatu belum buat Geo belum ada. Sementara sepatu yang gue mau pinjam ke Fany besok akan diambil di sekretariat GP. Sialnya hari ini. “Yaudah lo ke Aranyacala dulu, nanti kalau udah ke rumah gue aja. Niatnya hari ini gue paling pinjem alat ke GP”, balas sms gue. Gak lama geo bales lagi “Yaudah oke, oh ya, ambil sekalian cariel gue yang masih sama Wedia. Nanti sepulang dari Aranyacala gue ke tempat lo ki,” .“Oke ge”.

Sekitar jam sepuluhan gue berangkat dari rumah ke sekretariat GP di SMA 46. Hampir satu setengah jam perjalanan dari rumah ke GP. Sesampainya disana gue bertemu dengan pengurus dan beberapa anggota lainnya. Sekretariat GP tampak berantakan seperti biasa. Barang-barang berserakan dimana-mana. Gue Tanya sama Wedia soal titipan sepatu dari Fany, lalu gue diambilkan sepatu titipan itu. “Nih sepatunya yang tadi Fany titipin, udah cuma ngambil sepatu aja?” tanya Wedia. “Ya kalo boleh pinjem nesting, jerigen sekalian”. “Lo cari aja tuh di pojokan kalo ada”. Gue ubek-ubek nesting yang agak bagus gue pilih, jerigen gue ambil di atas yang ada tulisan ‘kamtie’, ini pasti punya mentari yang gak diambil-ambil. Gak sengaja gue lihat ada GPS alm. Bang Malih. “Wed, GPS nya gue pinjem sekalian ya?”. “Bawa aja tapi nanti kalau udah semua balikin ya, catet dulu barang yang lo pinjem apa aja”. “Oke”.  Wah, beruntung di GP lagi gak ada alumni-alumni yang agak tuaan, kalau ada bisa-bisa gue dikomentarin soal barang ilang lagi. Senangnya dalam hati. Akhirnya barang hampir lengkap, tinggal sepatu satu lagi sama cariel Geo yang belum gue ambil. “Wed, cariel Geo yang waktu itu lo pinjem mana? Gue mau ambil sekarang. Orangnya nanyain, soalnya gue jadi berangkat,” ujar gue ke Wedia. “Yah, lo gak bilang dari kemaren, carielnya ada dirumah gue. Jadinya sama siapa aja?”. “Sama geo doang berdua wed, terus carielnya gimana dong?” Tanya gue ke Wedia. “ Gue paling ambil dulu tapi gak bisa sekarang. Gila lo kak nekat banget kalo berdua doang”. “Mau gimana lagi, gak ada yang bias ikut. Yaudah pas waktunya tiba gue sms lo kalo gue jadi. Setelah ngambil sepatu gue pulang langsung. Mala mini rencananya Geo bakal ke rumah gue buat kepastiannya dia bisa atau gak.

Penentuan

Lebih dari satu jam akhirnya gue tiba dirumah dengan kelelahan. Seperti yang dijanjikan Geo harusnya malam ini dia sudah kembali ke rumah gue. Sekarang hampir jam sepuluh malam tapi belum ada sedikit kabarpun dari dia. Waktu-waktu ini gue menjadi resah menanti kedatangannya. Gue cemas kalau-kalau dia nanti berubah pikiran lagi. Orang seperti dia pasti akan mudah tergoda malaikat dari Aranyacala yang akan membujuknya untuk tetap ikut pendidikan. Gue sangat khawatir kalau akhirnya dia membatalkan rencana pendakian Sindoro Sumbing esok hari. Barang sudah banyak yang dibeli. Uang sudah dikeluarkan ratusan ribu hamper satu juta. Andai saja gagal rencana ini, maka semuanya menjadi sia-sia. Tentang rencana mendaki sendirian, itu sangat sulit sekali. Tidak ada pengalaman solo karir. Apalagi dua gunung sekaligus. Belum lagi ini kan musim badai. Mungkin gue gak akan diizinkan orangtua kalau situasinya sendirian. Menit demi menit terus bergulir. Hati jadi serba salah. Mau melakukan apa saja serasa hampa. Makan sudah, mandi sudah, nonton tv juga sudah, tapi belum ada kabar dari geo juga. Padahal gue sudah berharap banyak dengan Geo soal rencana ini. Habislah gue kalau kembali ke plan B. Gue berdoa dalam hati semoga ada harapan lagi untuk tetap berangkat bersama teman, dan harapan itu tinggal Geo. Sampai kegelisahan itu membawa gue pulas tertidur di kursi ruang tamu yang banyak nyamuknya. Tidur saat ini semakin meresahkan saja, tidak ada ketenangan sama sekali.

Waktu berjalan terasa sangat lambat. Meskipun mata terpejam tetap saja setengah hati berpikir, badan berkeringat menanti kabar yang masih belum dating. Kecuali pada pukul sebelas lebih hp gue bergetar, firasat gue ini pasti Geo. Kalau memang ini geo gue harap kata-kata yang bagus yang muncul dilayar hp. Biar bagaimanapun, rencana mendaki Sindoro Sumbing menjadi tidak berhasil kalau gak ada Geo. Padahal rencana keberangkatan sudah tinggal besok. Hanya logistik saja dan sepatu untuknya yang besok harus disiapkan, kemudian berangkat. Semoga getaran HP ini pertanda baik. Cepat saja gue buka HP dan ternyata benar. Ini sms dari Geo! Kabar yang ditunggu akhirnya datang juga. Dia sms menggunakan nomer temannya. “Gue masih bicara soal ini sama teman gue, sekarang gue di kosan teman gue di Grogol,Gue kayaknya bener-bener gak bisa ikut lo besok deh ki”, begitulah sms-nya yang spontan membuat gue kaget, deg-degan, dan pastinya lemes banget baca smsnya yang seperti itu. Ibarat petir disiang bolong yang memecahkan telinga. Gue agak shock membacanya sampai gue coba menarik nafas dalam-dalam agar sedikit lebih tenang. Terbayang uang yang sudah keluar begitu banyak, tenaga, pikiran, dan harus menerima ini semua begitu saja. Tidak mungkin, bagaimanapun caranya gue gak boleh terbenam dan padam sampai disini. Sekali layar terkembang maka pantanglah kita berlabuh sebelum tujuan dicapai.

Gue gak bisa langsung bales gitu aja sms ‘menyakitkan’ itu. Setelah beberapa menit sampai gue merasa sedikit lebih tenang dan terkendali akhirnya gue bales sms nya itu. “Yaudah soal rencana kita nanti kita obrolin aja setelah lo sampe rumah gue. Sekarang lo selesain diskusi lo bersama teman-teman Aranyacala lo itu. Kalo memang akhirnya seperti itu gue gak mau maksa lo yo! Tapi tetep aja rasanya nyesek, barang gue udah siapin semua tinggal sepatu buat lo,”  balas gue ke Geo. Gak lama dia balas lagi “Oke, gue juga abis ini tetep jadi ke rumah lo. Nanti gue ceritakan deh, HP gue lowbat,” balas sms Geo ke gue. Sebenarnya ada yang nampak aneh dari sms nya. Kesannya dia agak tertekan gak seperti biasanya. Lagi pula ini pukul sebelas malam, Mana ada angkutan yang bisa mengantarkannya ke rumah gue. Gue rasa paling ini orang hanya akan membual, pasti dia datang ke sini besok pagi juga. Gak lama setelah balas sms dia gue tertidur lagi masih di kursi ruang tamu. Malam yang ganjil dan penuh kehampaan meskipun sudah sedikit tenang mencoba mengendalikan emosi.

Mungkin kali ini gue jauh lebih tenang dari sebelumnya setelah gue sms Rara, kekasih gue. Gue ceritakan kepada Rara lewat sms bahwa Geo sepertinya gak jadi dan rencana ke Sindoro Sumbing gagal total. Rara ternyata masih bias bales sms gue. Gue pikir dia sudah tidur. Dalam hal ini gue berpikir kok mau-maunya ya tengah malam gini dia balas sms gue. Benar-benar mau diajak susah juga nih orang. Padahal sms gue gak penting begini. Dalam hidup, tidak selamanya apa yang kita rencanakan itu sesuai dengan yang kita inginkan, pasti ada hambatan. Tapi Tuhan punya rahasia, pasti ada jalan yang tidak kita ketahui. Manusia hanya bisa berusaha, tapi Tuhan juga yang menentukan, dan kita harus ikhlas menerima apa adanya dengan penuh lapang dada. Itulah jalan terbaik menghadapi kenyataan yang sulit. Gak terlalu lama gue sms-an dengan Rara. Rasa lelah yang luar biasa membawa gue benar-benar tertidur pulas. Mencoba melupakan soal si Geo yang katanya akan datang, tentang rencana mendaki Sindoro dan Sumbing, atau tentang barang-barang yang sudah dibeli itu

Sampai ketukan piuntu dari depan rumah sayup-sayup terdengar di telinga, barulah gue mulai sadar kalau ada yang datang di luar rumah. Gue gak begitu jelas melihat jam pukul berapa sekarang karena lampu memang sengaja dimatikan biar gak panas. Setelah lampu menyala baru gue tahu saat ini pukul 02.00 pagi. Segera gue ke arah pintu dan mengintip siapa dibalik pintu. Mungkin saja tukang ronda, atau pocong yang berkeliaran malam-malam. Keyakinan gue yang kali ini datang pasti si Geo. Baru mau ngintip saja baunya sudah tercium, ternyata benar ini si Geo. Gila juga nih orang. Gue pikir dia gak bakalan datang malam ini. Ini kan tengah malam yang hampir pagi! Bagaimana bisa dia sampe di rumah gue tanpa ada angkutan umum. Kampusnya kan trisakti yang di Grogol. Gue buka kunci pintu rumah lantas mempersilahkannya masuk. “Masuk deh lo, cuci kaki cuci muka dulu sana, ceritanya nanti aja,” Sambut gue sebelum dia banyak berbicara karena sejak tadi menahan perasaannya yang tertekan itu.

Gue duduk di kursi ruang tamu sampai si Geo muncul dari kamar mandi. “Wah gila nih ki, aduh gimana ya gue gak enak banget nih ama lo kalo sampe batal. Masalahnya tadi gue disana diadain musyawarah gitu sehubungan dengan mundurnya gue dari ikut Aranyacala lantaran gue yang mau ke SS ini”. “Terus tadi gimana yo?”. “Jadi tadi gue dikumpulin sama senior-senior disana ditanya lo mau milih mana ikut Aranyacala atau ikut ke SS! Gak mungkin gue milih keduanya karena untuk ikut pendidikan harus dipersiapkan dan itu dilaksanakan disaat kita lagi di SS. Sumpah gue bingung banget,” cerita Geo kepada gue dengan wajah yang sangat serius, tegang ditambah bimbang. Saat itu gue malah tersenyum dan berkata, “Udah selow aja, gue punya beberapa plan sederhana. Jelas rencana besok pasti BATAL! kalo lo tetep ikut Aranyacala ya silahkan. Buat rencana ke SS kalo lo tetep mau ikut gue undur jadi berangkat tanggal 24 supaya perjalanan lebih nikmat. Kalo berangkat tetep besok percuma, perjalanan bakal gak enak, lo masih emosional. Lu inget deh kita udah belanja segitu banyaknya dan segitu mahalnya. Masa lantas kita batalkan begitu aja? Tapi itu balik lagi ke lo deh terserah maunya gimana,” ujar gue menambah bimbang Geo.

Sepertinya kata-kata gue mulai ampuh meracuni dia supaya dia tetap jadi ke Sindoro Sumbing. Geo malah tersenyum seperti keledai. Gue tertawa dalam hati. “Jadi gimana ge? Lo tetep Aranyacala apa ikut gue? Lo di Aranyacala juga pasti gak nikmat, yang ada di sana hanya disiksa. Sepuluh hari loh. Lo pasti gak boleh sama nyokap lo. Kalo ikut gue kan Cuma seminggu. Lo pertimbangin lagi lah,”. Rupanya semakin ngefek itu kata-kata. “Bener juga ki yang lo bilang. Gue sih lebih condong ikut rencana lo. Tapi disisi lain gue gak enak sama senior gue, sama temen sekelompok gue, dan pastinya malu sama cewek yang didiklat pertama itu”. Yaudah terserah lo. Lo pikir-pikir dulu aja yo. Yang penting kalo udah milih salah satunya ya lo harus ikhlas yo, itu kuncinya!”.”Aduh lo bikin gue makin tambah bingung aja deh ki”. “Yaudahlah seterah lo aje, gue mau tidur dulu, besok dipikirin. Kalo emang lo mau ikut aranyacala ya silahkan tapi coba deh lo pikir-pikir lagi. Sepuluh hari bro! lo gak bakal boleh sama mamih lo!,”tegas gue meyakinkan Geo yang dilanda bimbang. Kesannya saat itu gue adalah iblis yang mencoba menggoyahkan imannya.

“Oke, kita sekarang tidur dulu aja, lo juga pasti capek banget Yo. Soal lo jadinya ikut gue atau Aranyacala itu bergantung besok aja. Percuma kita omongin malem-malem gini gak pake logika pasti. Wong wis kesel kok”. “Okelah, dari pada pusing-pusing, mending kita tidur dulu dah ki..!” Malah bercanda. Malam yang penuh kebimbangan dan tegang karena rencana kembali terhadang akhirnya kami tutupdengan tidur. Tidur merupakan cara alamiah untuk me-refresh otak yang sumpek dan gak bisa mikir. Semoga terbangun dengan hasil fiks yang sempurna. Jangan sampai rencana yang kepalang tanggung harus dibatalkan dengan mengorbankan barang-barang yang sudah dibeli itu.

Akhirnya..

Terbangun pukul setengah tujuh gue langsung membangunkan Geo. Pagi ini harusnya kami berangkat sesuai rencana, tapi harus menerima kenyataan bahwa rencana batal dan kami gagal berangkat. Tentu saja dengan rasa berat dan agak gak ikhlas. Bagaimana tidak? Tenda sudah dibeli, radio, cariel, pisau lipat, dan masih banyak lagi. Hanya kompor, gas, konsumsi dan beberapa logistik kecil yang memang baru disiapkan saat sebelum berangkat. Mau bagaimana lagi? Mungkin Tuhan belum mengizinkan kami berangkat hari ini. Gue berpikiran positif saja, mungkin Tuhan tahu kalau kami berangkat sekarang akan ada sesuatu yang kurang baik yang menimpa kami. Jadi gue mencoba ikhlas saja. Lantas memikirkan kembali apa hasil akhir, apakah diundur atau batal bergantung pada Geo.

“Ge sudah sana cepet lo mandi, cuci muka kek. Lo mau balik kaan?,” kata gue yang sedang mencoba membangunkan makhluk yang satu itu. “Hhmm, ntar dulu boy, ngantuk banget nih” jawabnya tanpa melek sama sekali. Menyebalkan sudah jam segini gak mau bangun juga. Padahal dia kan harus sudah pulang pagi ini sesuai perintah nyokapnya. “Hmm iya iyaa gue bangun deh,” geo kucek-kucek mata kembali menatap dunianya yang suram selalu. “Gue dah mandi nih, lo mandi atau cuci muka sana, biar langsung gue anter lo balik”. Segera Geo ke kamar mandi lalu cuci muka dan minum teh hangat. “Jadi sekarang gimana nih yo. Sesuai yang gue bilang semalem. Lo jadinya ikut Aranyacala atau mau tetep ikut rencana kita?”. “Setelah gue pertimbangkan dalam-dalam sepertinya Gue ikut lo aja deh. Bener yang lo bilang, nyokap gue juga pasti ngelarang diklat yang sepuluh hari itu. Lagian gue gak rela kalo batal, sayang banget barang yang udah kita beli dengan perjuangan itu. Jadi gue ikuk rencana awal, kita berangkat ke Sindoro Sumbing,” pungkasnya.

Mendengar kata-kata itu sejenak badan terasa lemas, gue gak bisa membayangkan setelah sekian banyak kendala yang menghadang akhirnya rencana ini bakal jadi juga. Padahal gue sudah hampir putus asa dan gak mau berharap banyak tentang rencana ke SS ini. Gue benar-benar senang mendengar kabar ini, dan berharap segera berangkat secepatnya. “Wah gue gak nyangka lo bakal memilih ikut rencana kitra ini. Thanks banget deh lo dah memilih jalan ini. Gue tau dengan lo memilih ini berarti lo batal ikut Aranyacala dan gagal dilantik. Lo memang sahabat yang bisa dihandalkan bro!,” kata gue terharu. “Kalo gitu fikslah kita berangkat hari senin tanggal 24 Januari. Berangkat sorenya, tapi paginya kita harus belanja dulu yo”. “Oh iya ki, gue belom ada sepatu gimana dong?”. “Yaudah nanti gue coba cari siapa tau anak GP ada yang punya”. “Hari H gue kerumah lo lagi deh ki bawa barang-barangnya. Kita packing di rumah lo aja sekalian belanja logistik”. “ Baiklah gue nanti lo tanggal 24. Akhirnya gue antarkan Geo pulang sampai rumahnya. Dan bersiap menanti hari keberangkatan yang seminggu lagi akan tiba. Thanks God!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: