Kearifan Lokal Masyarakat Nusantara

Pada kuliah umum kebudayaan Indonesia Tanggal 15 September 2011, Prof. DR. Aris Munandar membahas secara lugas mengenai kearifan lokal. Dalam paparannya itu, kearifan lokal merupakan segala sesuatu yang baik yang dilakukan dan terus dilestarikan dalam suatu kebudayaan di masyarakat. Beliau menjelaskan bahwa kearifan lokal berawal dari masa prasejarah, yang kemudian menjadi semakin nyata ketika ada pengaruh asing. Keraifan lokal bersifat positif dan terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Kearifan lokal tumbuh dan berkembang di masyarakat, serta sangat berkenaan dengan berbagai aspek kebudayaan. Pada dasarnya kearifan lokal memiliki tiga prinsip dasar yakni, berlangsung dalam sejarah yang cukup panjang, terbukti positif dan ada manfaatnya, serta secara sadar kemudian dilestarikan.

Di Indonesia sendiri, kearifan lokal ada di dua bidang yakni maritim, dan agraris. Ragam kearifan lokal diantaranya dalam pertanian, etika sopan santun pergaulan, hidup berumah tangga dalam masyarakat, pemerintahan, kesenian, mata pencaharian, kesehataan atau pengobatan, dan lain-lain. Sifat kearifan lokal mencegah perbuatan yang tidak baik secara norma adat karena kearifan lokal merupakan pedoman dalam berprilaku masyarakat. H.G. Quaitch dalam kutipannya mengemukakan konsep lokal genius, “seperangkat karakter kebudayaan yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat akibat dari pengalaman kehidupannya selama ini”. Menurutnya, lokal genius memiliki dua elemen yaitu, pertama: segala nilai, konsep, dan teknologi yang telah dimiliki oleh suatu bangsa sebelum mendapat pengaruh asing, kedua: daya yang dimiliki suatu bangsa untuk menyerap menafsirkan. Jadi proses lokal genius kebudayaan penerima berawal dari kebudayaan asing lalu menghasilkan perpaduan.

Menurut J.L.A.Brandes mengemukakan tentang kepandaian penduduk Nusantara masa prasejarah sebelum datangnya pengaruh asing, bahwa penduduk nusantara memiliki tujuh kepandaian. Kepandaian penduduk Nusantara tersebut antara lain, telah dapat membuat figur boneka, mengembangkan seni hias, mengenal pengecoran logam, melaksanakan perdagangan barter, mengenal instrumen musik, memahami astronomi, menguasai teknik navigasi dalam pelayaran, menggunakan tradisi lisan dalam menyampaikan pengetahuan, menguasai teknik irigasi, serta telah mengenal tata masyarakat yang teratur. Pendapat ini kemudian diterima oleh para ilmuan karena Brandes melakukan penelitiannya tidak hanya pada satu daerah di Nusantara tapi beberapa daerah di Jawa serta Sumatra.

Masih dalam ruang lingkup kearifan lokal, Prof. Aris Munandar dalam kuliah umumnya juga membahas mengenai kebhinekaan. Menurutnya, kebhinekaan dapat terjadi karena beberapa hal. Faktor lingkungan, jarangnya komunikasi antar etnik, perbedaan akulturasi dengan budaya luar, dan perbedaan sejarah politik merupakan penyebab terjadinya kebhinekaan. Sementara itu, berbicara tentang kesinambungan budaya, beliau memaparkan bahwa lestarinya suatu kebudayaan itu memiliki tiga sifat yakni, disadari sebagai anasir kebudayaan yang penting untuk dipertahankan, tidak disadari melainkan terus diminati tanpa disadari oleh pendukung kebudayaan, dan kesinambungan yang disadari dan dianjurkan atau terpaksa.

Isu yang kemudian berkembang dewasa ini berkaitan dengan kearifan lokal adalah pencarian karakter bangsa dan pekerti bangsa. Saat ini bangsa Indonesia memiliki permasalahan yang sangat banyak. Banyak Anggota masyarakat yang berpaling dari tradisi kebudayaan warisan nenek moyangnya. Bentuk karakter dan pekerti bangsa sejatinya tersimpan dalam kearifan lokal. Sementara itu, kini budaya global terus menerjang tanpa bisa ditahan. Sebenarnya jawaban permasalahan itu dapat diselesaikan dengan mengembalikan abstraksi karakter dan pekerti bangsa yang kini mulai pudar. Ada sembilan abstraksi karakter dan pekerti bangsa yakni, sumber nilai: nilai adat bersumber dari nilai agama, nilai dasar hidup: malu serta tidak boleh dipermalukan, tertib sosial: keseimbangan dan harmonis, tenggang rasa, hubungan dengan sistem sosial, kehormatan diri, kepemimpinan: panutan dan keteladanan, etos kerja, sikap terhadap kelopok (orientasi kesukuan).

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: