SS : Sebuah Catatan Perjalanan (Part IV)

PART IV

HARI-HARI MENJELANG KEBERANGKATAN

 

            Tanggal 20 Januari di tahun 2011 gue ada janji dengan Rara. Rencananya kami akan bertemu di Pondok Labu lalu naik angkutan bareng ke Blok M buat menikmati hari yang bisa saja gue gak bakal kembali. Namanya naik gunung, pasti banyak resikonya, termasuk resiko terburuk mati. Oleh karena itu gue bermaksud menghabiskan waktu bersama kekasih gue, Rara yang mungkin ini kesempatan terakhir bersamanya sebelum mati. Apalagi hampir semua teman gak yakin kalau gue bisa balik dengan selamat. Musim badai, berdua pula, bagaimana bisa selamat? Mungkin itu pikir mereka, tapi gue yakin bahwa umur gue tidak berakhir di Sindoro ataupun Sumbing.

Jam 11 Rara sudah sampai di PL rupanya. Sementara gue masih diangkot. Kasihan dia harus menunggu pasti panas sekali di sana. Untungnya Rara orangnya sabar dan pengertian. Apa yang gue mau, Alhamdulillah dia selalu mengerti. Apalagi dengan rencana gue naik Sindoro dan Sumbing ini dia malah mendukung. Kebanyakan dari pacar, ngelarang hal-hal yang semacam ini, tapi dia gak, beruntunglah memiliknya. Meskipun dia gak cantik dan gak jelek juga kok. Biasa saja, tapi justru yang biasa-biasa saja itulah yang luar biasa. Kadang memang guenya saja yang dablek, kurang perhatian ke dia. Gak lama akhirnya gue sampai jugalah di PL dan bertemu dengannya. Dia pakai baju yang gue suka. Gue senanglah, apalagi sudah berapa hari kami gak bersua sekedar ngobrol atau bicara hati. Terakhir bertemu tanggal 17 yang lalu gue ajak dia jalan ke Cinere. Oh ya, gue lupa. Waktu hari jadi kami tanggal 1 Januari 2011 itu, pagi harinya gue ke rumahnya. Gue sempat memberikan dia sesuatu. Sesuatu yang gue buat sendiri. Jadi pas tanggal 1 Januari itu gue kasih gambar edelweiss buatan gue sendiri. Sepele sih memang, tapi dia senang dengan hadiah itu. Gambar itu gue kasih bingkai warna hitam berkesan elegan lalu gue bungkus kertas kado dan gue ikat dengan pita merah. Sederhana memang tapi harapannya tidak sesederhana itu. Melalui gambar edelweiss itu gue berharap suatu hari gue bisa mengajaknya melihat bunga edelweiss yang sesungguhnya. Ya, edelweiss si bunga keabadian. Oh romantisnya. Gue juga kepikiran kelak saat gue mendaki ke Sindoro dan Sumbing akan gue persembahkan foto edelweiss malah berharap bisa memetik bunganya meskipun gue tahu itu dilarang.

“Ra, gimana kabarnya?” kata pertama yang muncul menyambutnya dengan manis. Gak langsung bicara, Rara hanya tersenyum memandang gue. “Baik kok, kamu sendiri gimana?”.”Baik juga kok”, tambah gue. Sapaan semacam ini gue rasa perlu untuk menunjukan rasa perhatian. Dalam cinta, perhatian merupakan stimulus yang penting agar pasangan kita tidak merasa kurang diperhatikan, dan bakal membuatnya jadi malas dengan kita. Padahal sermua itu hanya basa basi yang sudah basi! Gue dan Rara jalan dan segera naik metro ke arah Blok M. Disepanjang jalan itu kami berbicara banyak, mulai cerita tentang liburannya yang dirumah saja, serta soal gue yang menitipkan urusan kuliah saat pendakian nanti. Setelah sekitar satu jam lebih akhirnya kami sampai di kawasan Blok M.

Tempat yang kami tuju adalah sinema 21 di Blok M Square. Rencananya gue akan nonton, meskipun gak tahu film apa yang ada di sana. Ternyata adanya hanya film horor lokal. Gue sudah hafal kalau film macam ini pasti isinya 33,3% menakutkan, 33,3% komedi, dan 33,3% sisanya bokep. Memang film horror lokal selalu seperti itu. Meski menjenuhkan tetap saja banyak yang nonton, termasuk gue. Pertunjukan film berlangsung sekitar satu setengah jam. Rara nampak menikmati sekali film yang sedang ditonton itu. Dia tertawa terpingkal-pingkal sesekali ketakutan dan kaget-kagetan sebagai efek music yang diseting seperti itu disemua film horror. Hingga sampai filmnya berakhir rasanya tidak ingin pulang. Bukan apa-apa, ini kan hari ‘terakhir’ bisa jalan sama Rara. Siapa yang tahu kalau nanti mati di Sindoro atau Sumbing. Gue bilang sama Rara, “Ra, nonton lagi yuk? Satu film lagi deh”. Sebenarnya gue cuma bercanda, eh Rara menanggapinya dengan serius. Akhirnya untuk kedua kalinya kami nonton. Film yang kami tonton selanjutnya berbeda genre. Kalau tadi dibuat tegang dengan efek music dan penampakan busuk itu, kini kami akan dibuat agak mellow. Maklum, film kedua bergenre romance jadi ya agak-agak gimana gitu. Awalnya biasa saja, dan tidak terjadi apa-apa, tapi lama-lama suasana hati kami berdua jadi agak sendu rupanya. Hingga film kedua yang kami tonton hampir berakhir. terjadilah sesuatu. Rara mencium pipi gue dari kursi sebelah kiri. Rasanya deg-degan bercampur  kaget. Mungkin muncul rasa takut kehilangan olehnya, karna ini hari ‘terakhir’ jalan. Tangannya memang menggenggam kuat tangan gue seakan gak mau melepas kepergian. Disaat detik-detik penghabisan film akhirnya gue beranikan diri untuk membalas ciumannya yang tadi. Gue cium keningnya dengan lembut. Kata orang, ciuman dikening itu pertanda sayang. Semoga ciuman itu bisa menenangkan kegelisahannya sebelum gue berangkat.

Selesai nonton kami masih terus berbincang-bincang panjang, lalu melanjutkan makan di salah satu tempat makan disana, kemudian pulang sekitar jam 5 sore naik metro seperti waktu berangkat tadi. Rencananya habis magrib gue akan bertemu Wedia, ketua GP yang sekarang untuk mengambil cariel Geo yang sesuai janjinya bakal dia balikin hari ini. Perjalanan bersama Rara bakal berpisah lagi di Pondok Labu nanti. Dia akan langsung pulang maklum orangtuanya termasuk yang susah menerima anak yang pulang malam. Menurut orangrtuanya Magrib adalah waktu masuk malam dan Rara harus segera pulang. Di sepanjang perjalanan pulang lagi-lagi kami benar-benar menikmati hari ini. Sore itu kami habiskan dengan perbincangan kasual sesekali bercanda dan tertawa. Oh indahnya. Tak lupa gue minta doanya demi kesuksesan rencana gue ke SS. Setibanya di Pondok Labu gue pisah dengan Rara dan gue akam menunggu Wedia di Toko Lauser sekalian mau beli barang. Apakah itu jalan kami yang terakhir? Entahlah hanya Tuhan yang tahu jawabnya. Gue antarkan dia hingga naik angkot yang mengarah ke rumahnya. Hingga angkotnya berangkat baru gue tinggalkan dia dan menutup kenangan manis hari itu bersamanya.

Sampailah gue di toko Lauser Pondok Labu. Kali ini gue gak mau berlama-lama gue pastikan harga gasmate. Ternyata harganya benar 125 ribu dan gak bisa kurang. Berhubung gue gak mau rugi, akhirnya gue tinggalkan toko Lauser, pindah ke toko outdoor yang dibelakang pasar. Apalagi Wedia lama sekali belum sms lagi. Jaraknya agak jauh juga sekitar 800meter dari toko Lauser. Capek juga jalan dari Lauser ke sini dalam hati gue dengan nafas setengah ngos-ngosan. Langsung gue masuk toko ini dan di dalam ada dua orang pramuniaganya. Toko ini agak kecil dan paling kecil diantara toko-toko outdoor yang sebelumnya gue kunjungi. “Gasmate berapa bang”, Tanya gue ke abangnya. “Kalo gasmate 125 mas, itu doang tapi tinggalan satu”. “Kalo trangia?”. “Trangia lagi kosong mas”. “Ada tuh paraffin.” Sialan abangnya gue nanya trangia sama gasmate malah ditawarin paraffin yang menyedihkan itu. “Yaudah deh bang nanya-nanya dulu aja”. “Oh iya silahkan gapapa,” ujar pramuniaganya.

Keluar dari toko itu HP bergetar. Gue lihat ternyata sms Wedia. “Gue dah sampe PL”. Cepat saja gue bales lagi, “Tunggu gue di Lauser”. “Oke kak”. Segera gue melengkah lagi 800 meter, balik ke toko Lauser. Di meter ke-480, gue berhenti sejenak ke ATM BRI samping pasar. Gue ambil lagi uang sebesar 200ribu untuk beli kompor. Selesai transasksi di ATM gue keluar dan melangkah 320 meter lagi sampai di toko Lauser. Dari luar sudah kelihatan motor Mio yang bawa cariel. Wah ini pasti wedia, ucap gue dalam hati. Tapi kok carielnya ditinggal begitu saja, orangnya pasti masuk toko. Benar saja dia ada di dalam lagi memilih-milih sandal gunung. “Carielnya itu di depan?” Tanya gue ke Wedia. “Iyaa yang itu, kenapa?”. “Sembarangan banget ditaro diluar gitu aja. Ada yang nyolong aja!” ujar gue sedikit menekankan. Sambil berkata demikian gue berjalan ke tempat kompor-kompor di pajang. “Bang minta gasmatenya deh satu. Bener gak bias kurang tuh 125?”. “Gak bisa mas, jadi nih?”, jawab abangnya sambil tersenyum.

Di toko Lauser ini ada juga seorang bapak berusia muda yang sedang mengajak anaknya untuk beli daypack. Oleh karena itu abang pramuniaganya juga cukup sibuk. “Coba dulu deh bang bias gak. Tapi yang masih di dalem kotak itu,” kata gue sembari menunjuk gasmate yang masih didalam kardus. “Bentar saya pasang dulu gasnya”. Setelah dipasang gasnya gak nyala malah berbau saja. Sepertinya kompornya rusak. Penasaran dengan hal itu abangnya tukar pakai gasmate yang dikotak lainnya. Setelah dicoba hasilnya sama saja. Kompor gak menyala. “Biasa mas, kalo gasmate memang suka kayak gini,” ujar si abang. “Yang tadi dipajang aja bang bias gak?” ucap gue. Dengan sigap abangnya langsung mencoba gas yang tadi sudah gak terbungkus. Ternyata malah nyala. “Yuadah yang itu aja bang gapapa. Selesai dicoba, kompor langsung dibungkus dengan covernya yang berwarna kuning. Gue serahkan uangnya 125 ribu dan dikembalikan 25 ribu karena gue gunakan tiga lembar uang 50 ribuan. Wedia turut menyaksikan transaksi kali ini.

“Gak sekalian gasnya mas?,” ujar si abang menawarkan gas bermerk wonderfuel. Sayangnya gue gak begitu sreg dengan merk wonderfuel. Gue lebih tertarik dengan merk hi-cook. Wonderfuel disini dipatok harga 14ribu gak bisa kurang. Sementara untuk hi-cook disini gak ada, tapi pas gue lihat di toko outdoor yang sebelumnya hi-cook ada tapi dikasih bandrol yang sama yaitu 14 ribu per botolnya. Padahal menurut si abang di Lauser, kalau kita beli gasnya di toko besar macam carrefour kita bisa dapat harga 12ribu selisih 2ribu dari harga toko outdoor. Berhubung gue malas berlama-lama akhirnya gue tetap lanjutkan jalan ke toko outdoor yang di belakang pasar tadi. Melihat motor si Wedia yang nganggur, yaudah gue nebeng saja ke toko yang tadi dari pada harus jalan kaki bikin lemas.

Sampai di toko outdoor tersebut langsung gue tawar 5 buah botol tadi seharga 60ribu, trapi sayang abangnya menolak. Dia juga gak bisa menurunkan harga, karena harganya sudah pas. Gak mau banyak bacot, akhirnya gue kasihlah uang 100 ribu dan dikembalikan dengan uang 23 ribu. Saat melakukan transaksi abangnya sempat menanyakan sesuatu. “Mau kemana emangnya mas? Belanja banyak banget gasnya,” ujar si abang. “Mau ke Sindoro Sumbing bang”. Wah nekat banget lo mas, temen gue aja kemarin dari sana kena badai. Berapa orang? dari kampus mana?”. “Engga bang kita dari temen SMA aja lagi pengen jalan. Berdua doang sih”. “Wah nekat lo bro musim badai begini. Gue pesen ati-ati aja deh disana”. Gue tinggalkan toko outdoor itu dan nebeng sama Wedia sampai gang depan yang ada angkotnya. Malam itu akhirnya gue pulang dengan kelengkapan alat yang hampir 90%. 10%nya lagi sepatu buat Geo belum ada. Wedia menyarankan sepatu yang satu lagi mungkin bisa pinjam dengan Nanan. Waktu pendakian ke Ciremai, gue memang menggunakan sepatu Nanan. Gue minta nomer Nanan sama Wedia, lalu kemudian pulang ke rumah.

Sekitar setengah jam gue sudah sampai rumah. Jalan di Cinere lebih lengang dari biasanya, makanya gue bisa sampai lebih cepat. Begitu di rumah, gue langsung sms Nanan menanyakan sepatu trekking miliknya. “Nan, lo ada sepatu trekking gak? Gue pinjem dong”. Agak lama Nanan baru balas lagi “Gue gak tau ki, yang terakhir make siapa? kayanya ada, tapi gue belom cari lagi di rumah, emang lo mau kemana?,” balas Nanan. “ Gue mau ke Sindoro Sumbing, lo mau ikut gak?,” balas gue lagi. “Kapan emangnya ling”. Nanan manggil gue caling. Caling adalah nama Gasakpala gue, singkatan dari calon anggota keeling. Nama itu dikasih oleh Bang Tolang waktu pendidikan dasar di GP dulu. “Senen berangkat Nan, makanya kalo bisa besok lu kabarin ada apa enggaknya, tolong banget ya. Gue gak tau harus pinjem kemana lagi sepatunya. Kalo ada besok gue ambil”. “Wah mendadak banget gue gak bisalah, yaudah besok lo sms gue lagi aja, nanti gue cari dulu,” balas Nanan seperti ada titik terang dari masalah sepatu. “Oke Nan, siplah, besok gue sms lagi,” ujar gue menutup komunikasi malam itu. Suasana keberangkatan semakin terasa. Persiapan semakin lengkap. Satu persatu masalah peralatan bisa diatasi.

Sepatu Busuk

Esok harinya gue sms Nanan lagi. Sekitar sore hari gue coba sms Nanan untuk menanyakan soal sepatunya. “Nan, gimana sepatu? Ketemu gak?,” Tanya gue lewat pesan singkat. Gak sabar rasanya ingin mendengar jawaban yang mnenyenangkan darinya. Tapi satu jam belum juga ada balasan. Saat seperti inilah gue mulai cemas. Gue rasa gue butuh plan B. Kalau sampai Nanan gak punya sepatu, sepatu siapa lagi yang bakal gue pinjam. Gue mulai membayangkan pendakian sebelum-sebelumnya. Saat di Ciremai Fany pakai sepatunya sendiri, sekarang sudah gue pegang. Andra pakai punya OB, tapi sekarang sudah hancur sepatunya, Mentari gue lupa pakai punya siapa, dia memang punya sepatu sendiri dan baru, tapi sekarang kan dia sibuk pendidikan di Bogor. Jadi Mentari gak mungkin meminjamkan. Lalu siapa lagi? Oh iya, gue baru ingat kalau Wedia pakai sepatunya ka Asih. Kalau saja sepatunya ada, boleh juga tuh jadi plan B-nya. Okelah, gue coba sms Wedia siapa tahu beneran masih ada. “Wed, ada sepatu trekking gak lo?,” kata gue. Lima menit dia langsung balas, “Ada, yang punya ka Asih itu, tapi kecil. Mau pinjem?,” tanyanya. “Iya deh, Nanan gak pasti soalnya. Nanti malem gue ambil deh ke Ciputat,” balas gue. “Yaudah nanti sms aja kalo mau ngambil. Eh iya sekalian ini ada titipan kak,” balas Wedia. “Titipan apa wed?”. “Titipan deh pokoknya,”tegasnya bikin sebal saja jadi penasaran. “Yaudah nanti sekalian gue ambil Wed”.

Hari menjelang sore hampir maghrib. Menjelang maghrib Nanan baru bales sms lagi. “Sori nih ling, tadi gue di bengkel gak bawa HP. Kayanya gak ada deh ling,” balas Nanan. Benar juga dugaan gue. Kayanya emang beneran gak ada. Ya sudahlah pinjam sama Wedia saja. Sekitar satu jam kemudian Nanan malah sms lagi “eh ling, ketemu nih spokatnya”. Belum gue sms wedia bilang jadi, eh dia sms duluan. “Yaudin, gue ambil sekarang dah ye?” balas gue. “Tapi kondisinya busuk. Parah banget, belom dicuci dari waktu di Ciremai setaun lebih. Lo tetep mau?” ujarnya. Gila juga kalau waktu di Ciremai kalo gak salah Mentari yang makai. Gue baru inget.Gak kebayang deh bentuk sepatunya sekarang kayak apa. Padahal Ciremai sudah berlalu hampir satu setengah tahun yang lalu. “ Yaudah deh Nan, abis maghrib gue cabut kerumah lo. Gue lupa persisnya rumah lo nanti pas sampe gue tunggu di Alfamart yang deket rumah lo itu”. Sip ling, entar sms aja kalo dah sampe”.

Seusai solat maghrib gue langsung pinjam motor kakak dan cabut ke rumah Nanan arah Legoso, Ciputat. Sebelum berangkat gue bilang sama Wedia gak jadi pinjam sepatu, dan akan mengambil titipan itu setelah dari tempat Nanan. Cabutlah gue menuju rumah Nanan. Jarak kalau naik motor gak begitu jauh, sekitar 15 menit gue sudah tiba di Alfamart yang gue maksud deket rumah nanan itu. Gue sms Nanan, dia bilang dia sudah jalan tapi kok sampai 10 menit belum nampak juga batang hidungnya. Gue jalankan motor ketempat yang gue rasa itulah gang rumahnya. Pas gue sms dia bilang dia di bukit amanah. Sontak gue bingung. Bukit Amanah dimana ya? Waktu gue Tanya orang dia bilang lurus sampai pertigaan belok kiri. Saat gue ikutin petunjuk itu orang dan benar kalau itu bukit amanah tapi Nanan kok gak ada. Padahal dia bilang di pertigaannya persis. Gue sms lagi, “Lo dimana deh nan? Gue di ruko Bukit Amanah”. “Lo balik arah ling, kata lo tadi di Alfa, sekarang gue di Alfa”. Yaaah ternyata dia malah di Alfa lagi sekarang. Gue langsung kea rah Alfa dan masih gak ada juga. HP gue tiba-tiba getar dan itu nomer Nanan. “Halo, apaan Nan?”. “Lo balik arah, gue dibelakang lo!”. Gue puter balik, Nanan terlihat menenteng bungkusan plastik warna putih.

“Ini ling pesenan lo, tapi lo liat aja deh kondisinya begini.” Kata Nanan memperlihatkan sepasang sepatu kotor dengan tanah kering yang menempel. Sepatunya kaku sekali saat gue coba pegang. Mungkin sudah berjamur. Bentuknya saja garing kayak kerupuk tinggal goreng. “Buset dah parah banget ini sepatu,” ujar gue. “Lah, bukannya lo yang make waktu di Ciremai?”. “Ah kayanya bukan kelakuan gue nih Nan, lupa gue”. Sebenarnya gue sendiri lupa antara gue atau mentari yang melakukan. Mau ngakuin juga gak enak sama Nanan. “Yaudah jadinya sepatu aja nih ling?”. “Iya nan, gue langsung ke tempat wedia dulu dah ada titipan. Makasih banyak ya Nan”. “Iye ling selow, yaudah ati-ati lo disono,” kata Nanan.

Jarak antara rumah Nanan dengan rumah Wedia dekat. Wedia letaknya di dekat fly over Ciputat, sementara Nanan di dekat legoso. Kira-kira 15 menit dari tempat Nanan, gue sampai di gang masuk rumah Wedia. Gue tunggu dia di Gang depan biar gak lama. Pas sampai di depan gang, gue langsung kasih kabar ke dia kalau gue sudah sampai. Wedia lama sekali, gue sudah sebel rasanya untuk nunggu dia yang gak muncul-muncul juga. Gue itungin satu-persatu orang yang keluar gang, berharap hitungan kesekian adalah dia. Jenuh menunggu gue sms terus biar dia segera ke mari. Akhirnya dia muncul juga dengan kantong plastik yang gue gak tahu isinya apa. “Ini titipannya? Dari siapa Wed?”. Belum sempat dia jawab, dia sudah memberikan kantong plastik itu ke gue. Gue longok ternyata isinya beberapa logistik yang lumayan. Isinya itu 1 botol lemon water, 1 botol orange water, 1 kotak choco chips,  1 bungkus biskuit togo, dan beberapa bungkus biskuit lainnya. “Wah, ini buat gue nih?,” tanya gue sambil tertawa. “Iya udah bawa aja sono lu pergi, ga usah banyak tanya”, jawab Wedia menyebalkan. “Beneran nih?” kata gue. “Iya, udah sana”. Wah gue gak nyangka si wedia nambahin logistik. Barang semacam ini memang gue butuhkan untuk menghemat biaya konsumsi. “Lo mau nitip apa?”, tanya gue. “ Mercandhise aja kak, apa kek terserah lo deh, emblem juga boleh,”kata Wedia. “Oh, yaudah kalau ada ya..”. “Iya kak, ati-ati lo disana”. “Yaudah gue cabut wed, makasih ya”. Iya sama-sama”.

Sebenarnya gue juga kepikiran apa maksud dia dengan memberikan ini semua. Mungkin dia khawatir karna gue nekat naik berdua di musim ini. Masalahnya, wedia itu mantan gue juga. Gue sama dia pernah berhubungan waktu gue kelas 3 SMA dulu. Semoga saja dia gak ada perasaan apa-apa ke gue, murni karena iba melihat nasib gue ini.Amin. Kalau saja Rara tahu soal gue ketemu mantan gue ini, sampai dikasih titipan makanan segala, pasti dia bakal cemburu. Jadi lebih baik gue diam-diam saja ke Rara. Meskipun gue tahu gue gak ada perasaan apa-apalagi ke Wedia. Suatu hari kalau Rara tahu, mungkin dia akan marah. Semoga saja gak sampe marah. Lagi pula gue juga gak macam-macam.

Tiba dirumah gue langsung bersihkan sepatu Nanan itu. Sepatunya harus disol terlebih dahulu karena beberapa bagian sudah copot lemnya. Karena besok adalah hari keberangkatan, jadi gak mungkin sempat untuk nyuci sepatu dulu. Otomatis gue hanya bisa mengelapnya sebersih mungkin. Rencananya besok pagi sepatunya bakal disol di Pondok Labu. Sekalian belanja logistik bareng Geo. Kayanya besok bakal borong banyak. Malam ini akan jadi malam ‘terakhir’ di rumah. Besok pagi gue dan geo belanja. Siang harinya packing, dan sore berangkat. Wonosobo, I’m coming. Aaaah.. Sindoro, Sumbing

Hari Ini Kita Berangkat

Entah semalam mimpi apa, gue gak nyangka bahwa hari ini gue bakal berangkat ke Wonosobo untuk mendaki dua gunung sekaligus Sindoro dan Sumbing bersama rekan sekaligus sahabat gue, Geovani Suryajaya. Seharusnya hari ini adalah hari yang paling gue nantikan, tapi tampaknya pagi ini gue malah bermalas-malasan. Bangunpun sudah kesiangan. Jam 8 gue baru mandi lalu bersiap jemput Geo ke rumahnya lalu packing di rumah gue. Gak lama gue langsung meluncur kerumahnya. Sebelumnya gue sudah sms supaya dia tunggu di depan rumahnya. Sesampainya dirumahnya, Geo menyambut gue dengan senyumnya. Bajunya nampak rapih, dengan  menggunakan tas selempangan dan terselip jaket warna hitam. Sementara dia juga membawa tas gendol berwarna hitam. Gue membalas senyumnya namun agak sedikit tertawa. “Nih jaket yang lo pesen, gue bawa dua,” ucap geo memberikan jaket putih kusam. “Yaudah lo pegang aja, nanti di rumah aja,” kata gue mengembalikan jaket itu.

Dengan bersemangat dan yakin tak ada yang tertinggal gue tancap langsung menuju rumah gue. Kira-kira sekitar satu kilometer, geo menyuruh gue berhenti. “Tunggu ki!” Geo menepuk punggung gue. Segera gue hentikan laju motor dan menepi. “Kepnapa coy? Ada masalah?,” gue gak mengerti maksud Geo apa. Geo terdiam sejenak lalu balik bertanya. “Pas tadi kita jalan, lo ngeliat gue bawa jaket dua kan?”. “Kayanuya sih, tapi gue lupa”. Geo mulai menunjukan kepanikan. “Wah gawat kayanya jaketnya jatoh. Soalnya seinget gue tadi gue bawa jaket item yang gue selipin di tas”. “Jadi, maksud lo, jaket lo jatuh pas lagi jalan barusan, gitu?”. “Kayanya, yaudah coba kita balik lagi kita sisir jalanan siapa tahu masih ada”.

Bergegas gue putar arah. Kali ini agak ngebut, maklum diburu waktu. Mata terus menatap tajam setiap sudut-sudut jalan. Barang kali ada seseorang yang mengambilnya lantas melihat kita lagi akan dikembalikan. Gue gak yakin ada orang sebaik itu. Pasti kalaupun ada yang melihat, akan diambil untuk dibawa pulang. Sekarang ini kan jarang ada orang baik seperti itu. Sampai gue ke titik semula berangkat, pencarian tidak menemukan hasil sama sekali. “Coba lo periksa di dalem rumah lo, siapa tau ketinggalan,” ujar gue. Lima menit kemudian Geo muncul lagi. Dia mulai kesal karena di dalampun tak ia temukan. “Udahlah yo, ikhlasin aja. Bukan milik lo mungkin. Udah beli baru aja, duit banyak juga”, ucap gue tersenyum memberi harapan. Yaudah deh kita lewat jalan yang tadi aja ki, siapa tau masih ada harapan ketemu. Kalo gak ada baru kita beli aja nanti. Yang jelas hari ini kita berangkat, dan kita harus menyambutnya dengan suka cita tanpa beban pikiran”. Geo kembali naik motor perjalanan berlanjut kerumah gue tanpa menemukan jaket itu.

Pagi-pagi sudah sial, apalagi yang akan terjadi nanti. Sepertinya bakal banyak kesialan di hari ini. Pikiran-pikiran itu merasuk dan menakuti setiap langkah. Apalagi perjalanan mulai hari ini akan dimulai. Kalau kami tak selamat di Sindoro atau Sumbing nanti bagaimana. Rasa takut semacam itu menjadi momok yang membawa kebimbangan. Di rumah gue Cuma sebentar untuk naruh barang Geo saja. Setelah itu bawa sepatu Nanan yang busuk itu untuk di sol di pasar. Sekarang saatnya belanja. Geo langsung menitipkan sepatu tersebut ke abantg-abang sol. Tololnya dia malah Tanya harga duluan. Abangnya langsung matok harga dua puluh ribu. Malah ditawar sepuluh ribu gak dapet, jadinya lima belas ribu. Padahal saat gue ngesol sepatu disitu bayar sepuluh ribu saja. Masalahnya waktu itu gue bayar pas diakhir setelah solan jadi. Payah deh si Geo.

Sambil menunggu sol sepatu selesai gue dan Geo belanja di salah satu swalayan besar di Pondok Labu. Logistik yang gue kami borong banyak sekali, minuman dari kopi, the susu, gula masih banyak lagi. Air mineral 3 botol besar dan minuman pulp jeruk kami beli ukuran besarnya. Tidajk ketinggalan makanan pokok seperti minyak goreng, sayuran, baso, ikan teri. Ikan teri adalah makanan favorit kami saat mendaki. Berbagai snack kami beli hingga total belanjaan hampir dua ratus ribu untuk dua orang. Puas sekali kami belanja. Meskipun sadar bahwa uang yang dipakai uang rakyat, uang beasiswa bidikmisi. Menyesal tapi butuh.

Usai belanja gue ke pasarnya untuk cari kantong sampah besar, kertas nasi, dan plastik kecil. Sementara itu Geo langsung mengambil sepatu yang sudah disol. Kembali bertemu di parkiran kami lanjut pulang untuk packing. Rencananya usai packing, kita akan berangkat. Tiba dirumah sudah lebih zuhur. Sepertinya kami akan terlambat. Target awal kita ke terminal Lebak Bulus setelah ashar, tapi kenyataannya selepas solat zuhur kami baru mulai packing. Bahayanya, kalau sampai kemaghriban belum tentu kita dapat bis ke Wonosobo. Masalahnya kita belum pesan tiket. Packing dimulai, semua barang bawaan digelar dan satu persatu dimasukan, ditata seperti apa yang telah diajarkan saat pendidikan pecinta alam.

Sedang sibuk-sibuknya packing, Mang Gele dating. Panggilan gue kepada paman gue itu. Dia juga seorang pendaki. Sudah banyak gunung yang ia daki di Indonesia. “Bawain gue edelweiss ya!”ujarnya agak memaksa. Sebetulnya hasrat ingin membawakan edelweiss untuk Rara saja sudah membawa kebimbangan bagi gue, sekarang malah ditambah satu pesanan lagi. Astaga, idealisme melawan kebutuhan lagi-lagi terjadi. “Yaudah liat nanti aja deh Mang”,jawab gue. Gue gak berani menolak permintaan itu. Di bidang naik gunung, dia lebih tahu banyak dibanding gue. Berusaha memecahkan suasana, gue ajak ngobrol soal medan Sindoro Sumbing. Menurutnya kalau kami bias mencapai keduanya itu cukup hebat.

Medan Sindoro dan Sumbing sangat berat. Untuk mencapai kedua puncaknya, kita harus melewati jalan yang sangat curam dan berbatu tidak jauh berbeda dengan Ciremai. Dia katakana bahwa rencana kami agak nekat. Masalahnya ini musim hujan. Sudah beberpa minggu hujan terus membasahi bumi. Musim hujan tidak begitu bagus untuk mendaki. Besar kemungkinan kami akan menemukan badai gunung yang kerap terjadi di musim penghujan. “Kalau lo mau cepet ya lo lewat jalur lama saat di sumbing nanti. Jalannya langsung bablas lurus tapi curam” nasihatnya mendoakan supaya kami semua selamat.

Adzan ashar pertanda gue harus menyelesaikan packing ini. Gue bantu geo menata beberapa barang yang sulit dimasukan ke dalam cariel. Dengan senang hati akhirnya packing beres setengah jam dari waktu ashar. Solat ashar, mandi, kemudian gue dan Geo pamit kepada orangtua gue. Mereka tidak bisa menahan keinginan gue untuk naik gunung. Mereka hanya bisa berpesan agar kami berhati-hati. Terutama nyokap gue khawatir dengan kondisi cuaca buruk. “Banyak-banyak doa, dzikir ya nak”, kata-kata terakhir nyokap gue sebelum gue tinggalkan rumah. Akhirnya setelah semua beres, rencana yang gue sudah nantikan belakangan ini tercapai juga. Gue berangkat ke Sindoro dan Sumbing untuk mendaki bersama seorang kawan gue Geo. Selamat tinggal rumahku.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: