SS : Sebuah Catatan Perjalanan (Part V)

PART V

WONOSOBO I’M COMING

            Gelisah, was-was, takut, bercampur senang mengawali perjalan kami ke Wonosobo, kota terdekat gunung Sindoro dan Sumbing. Rencananya kami akan bertemu Rara terlebih dahulu di Pondok Labu untuk sekedar memberi salam perpisahan. Dari rumah kami naik Angkot 61 menuju Pondok Labu. Perjalanan biasa-biasa saja. Hanya saja rasa gelisah dan takut tersebut membawa banyak pikiran negatif. Benar saja, begitu kami turun angkot, firasat buruk tersebut jadi nyata. “Kiri bang,” meminta pak supir berhenti. Tiba-tiba seorang polisi datang dan menilang angkot yang kami tumpangi. Wah, kok jadi begini? Dalam hati gue. Rupanya angkot tidak boleh berhenti ditempat tersebut alhasil supirnya kena tilang. Kami tak tega dengan pak supir. Gara-gara kami minta turun supirnya harus kena tilang. Tak seberapa dibanding ongkos yang kami bayar.

Belum selesai perkara supir angkot ditilang, berjalan sekitar lima langkah tiba-tiba tali cariel putus. “Braaak”, beban sekitar setengah berat badan gue langsung terasa lantaran tumpuan tali tinggal satu sisi. Posisi yang berada ditengah jalan karena akan menyebrang, membuat gue kualahan. Belum lagi soal kendaraan yang mengklaksoni kami. Geo rupanya ingin membantu tapi malah jadi ribet. Gue coba angkat cariel dengan cara memeluk, kemudian gue letakkan di tepi jalan tepat di tempat Rara menunggu gue. Nafas gue cukup ngos-ngosan. Degup jantung berdetak cepat bercampur rasa gelisah akan pikiran-pikiran negatif yang terus menghantui. Apalagi yang bakal terjadi setelah ini? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat gue merasa tidak nyaman. Bahkan gue tidak begitu memperhatikan Rara yang sudah menunggu gue sekitar setengah jam. Rencana untuk melepas kepergian dengan bahagia malah jadi perasaan sial yang tak kunjung sirna.

Rara mendekati kami mencoba membantu apa yang kami perlukan. Sepertinya Rara bingung dengan apa yang sedang terjadi. Niatnya untuk membantu gue malah gue balas dengan bentakan-bentakan kecil yang membuatnya sebal. Padahal dia sudah jauh-jauh hari mempersiapkan pelepasan kepergian gue tentu dengan izin orangtuanya yang sulit itu. Jelas saja gue bentak, suasana saat itu memang cukup emosional. Cariel putus, itu adalah gambaran terburuk perjalanan. Masalahnya cariel yang gue pakai itu cariel murahan dengan merek abal, mana bisa kuat? Bagaimana kalau saat pendakian besok talinya putus lagi atau bahkan yang lebih parah dari itu? Itu akan lebih berbahaya.

Dengan sigap gue langsung buka bagian head cariel gue. Di dalam head memang gue sudah persiapkan survival kit, semacam peralatan darurat saat kondisi survival. Jarum, benang sudah barang tentu termasuk bagian dari survival kit. Pelan-pelan gue coba jahit bagian tali yang putus tadi meskipun jahitannya tidak sempurna. Jahitannya sementara saja, niat gue saat di bis nanti akan gue jahit lebih kuat lagi. Rara dan Geo hanya bisa memandangi gue dengan cemas, sembari membicarakan soal kronologis kejadian tadi. Sementara gue sibuk menusuk-keluarkan jarum jahit diantara tali dan bagian bawah cariel.

Setelah gue rasa jahitan cukup kuat, gue harus segera melanjutkan titik poin keberangkatan yaitu Terminal Lebak Bulus. Tentu saja dengan pertimbangan jam keberangkatan bis yang mungkin saja sudah berangkat. Belum sempat berbicara panjang dengan Rara tapi gue harus mengakhiri pertemuan ini. Sore ‘terakhir’ bersama Rara harus segera diakhiri. Meskipun pertemuan ini hanya diisi oleh rasa emosi yang menyebalkan, tetap saja rasanya kami tak ingin berpisah. Sebelum berangkat, kami berjabat tangan. Tidak seperti biasa, tangannya menggenggam lebih erat, seakan tak ingin melepaskan kepergian gue itu. Gue gak bisa banyak bicara lagi. “Hati-hati yah”, pesan terakhir yang terucap dari mulutnya. “Iya sayang, doakan aku ya semoga bisa balik lagi dengan selamat, amin”, gue melanjutkan. Pertemuan itu akhirnya kami tutup. Gue dan geo segera naik angkot D02 yang kosong kemudian berangkat ke Lebak Bulus meninggalkan Rara yang melambaikan tangannya diakhir waktu perpisahan.

Di angkot gue masih terus kepikiran hal-hal negatif. Malah rasanya gue jadi ragu tentang perjalanan ini. Terpikir juga kalau rencana ini tidak jadi saja. Apalagi setelah kejadian cariel tadi semakin meyakinkan gue bahwa sial itu akan mengikuti terus perjalanan kami. Gue tertawa bercanda dengan Geo soal hal itu. Gue rasa Geo pembawa sial. Sambil tertawa dalam hati. Melintasi jalan T.B. Simatupang terasa sangat lancar, hanya sekitar 15 menit kami sudah tiba di terminal pemberangkatan, terminal Lebak Bulus. Turun di jalan masuk pemberangkatan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Geo sepertinya bingung, tergambar dari raut wajahnya yang linglung. Di sana kami disambut beberapa calo tiket yang menanyai akan kemana kami pergi. Gue hanya diam tidak mau menjawab. Sebelumnya, gue dan Geo sempat berkompromi soal kalau ada calo yang menawari tiket. Kami memilih diam sembari jalan terus ke arah tempat pembelian tiket resmi.

Kami hanya tertuju pada agen bus Sinar Jaya sesuai saran Fakih dan orangtua gue. Mungkin Sinar Jaya armadanya lebih banyak dan terpercaya. Kebetulan kali ini yang kami temui karyawan Sinar Jaya jadi kami langsung diantarkan ke tempat pembelian tiketnya. “Mau kemana mas?” tanya seorang wanita petugas penjualan tiket. “Wonosobo, mba. Yang AC masih ada?”, berharap yang AC masih tersedia. “Wah kalo yang AC baru aja berangkat. Tinggal ekonomi, berangkat jam tujuh malam. Bis terakhir!”. Gue dan Geo saling pandang, agak kecewa karena bisnya tidak AC. “Berapa harganya mba?”. “60 ribu aja mas”. Tanpa berpikir panjang lagi gue langsung bayar. Hemat 10 ribu, kalau naik AC harganya diatas 70 ribu. Tapi ya sudahlah yang penting masih ada bus.

Kami langsung diantarkan ke bus yang dituju. Yang membuat gue bingung kami memesan tiket untuk bus Sinar Jaya tapi kenapa petugasnya mengarahkan ke bus DMI. Jangan-jangan kami telah ditipu. Sebelah bus kami memang sederetan bus Sinar Jaya tujuan Kebumen dan sebelahnya lagi tujuan Pekalongan.Perasaan kami semakin menjadi tidak enak karena kami adalah penumpang pertama. Di dalam bus hanya ada supir, kondektur dan beberapa rekannya. Seorang cewek kami lihat berada diantaranya. Entah itu pacarnya atau siapa? Yang jelas mereka tertawa bersama-sama. Mereka nampak asik merokok malah bagian depan bus penuh oleh asap rokok yang mereka hisap. Mungkin saja mereka mabuk, entahlah gue harus buang pikiran negatif itu jauh-jauh. Meskipun demikian kami masih berpikir kenapa DMI.

Dengan beban cariel di punggung kami memilih bangku yang paling depan di sekitar bangku mereka berkumpul. Salah seorang dari mereka menyarankan kami untuk pindah di belakang saja. “Mas, duduknya dibelakang saja ya, soalnya itu nanti buat duduk sopir pengganti” Ujar seorang berambut gondrong, mukanya agak seram. Kami jadi was-was. Lagu dangdut mengisi ruang bus yang masih kosong itu. Sebenarnya saran Fakih kami naik bus Sinar Jaya dari Pasar Minggu bukan Lebak Bulus, tapi karena berangkatnya tadi telat, orangtua gue menyarankan dari Lebak Bulus saja karena armada di Lebak Bulus lebih banyak.

Cariel gue dan Geo langsung gue letakkan di tempat tidur sopir, bagian belakang bus secara bergantian. Hari memang masih terang tapi duduk di belakang lebih gelap karena sinar matahari terhalangi bus sebelah. Gue berbincang-bincang dengan Geo tentang ketakutan kami itu. Mumpung cahaya masih ada, gue manfaatkan untuk menjahit jahitan yang tadi belum sempurna. Pelan-pelan gue jahit dengan benang warna merah, sementara carielnya warna hitam jadi agak kontras antara jahitan dan tali. Sampai matahari benar-benar tenggelam belum ada seorang penumpangpun yang naik. Seorang berambut gondrong yang menyarankan kami pindah ke belakang menghampiri kami. “Mas, pintu belakangnya gak bisa dibuka ya, soalnya kemaren engselnya lepas jadi gak bisa ngonci”, kata mas gondrong itu. “Tapi gak ada motor disebelahnya kan mas? Sahut gue mencoba mengajak ngobrol. “Ya untungnya gak copot, mana lagi kenceng. Sekarang jadinya dikonci aja ini, biar gak bisa dibuka sekalian aja”, jawab mas gondrong.

Wah kebetulan sekali dalam hati gue. Gue pengen tanya deh soal DMI ini. “Kok kita dikasihnya bis DMI sih mas? Kan mesennya tadi Sinar Jaya?”. Oh itu, DMI itu anak perusahaan dari Sinar Jaya. Jadi ya sama aja naek Sinar Jaya sama DMI. Sinarnya udah abis soalnya”. “Oh kirain kenapa takutnya kita dibohongin aja”. “Enggak lah mas, jadi waktu dulu ada aturan perusahaan maksimal harus memiliki sekian bus, karena peminat Sinar Jaya cukup banyak, jadi supaya aman, perusahaan bikin perusahaan dengan nama beda”. “Oh gitu, tapi aman kan duduk dibelakang gini?”. Maksudnya aman?”. Ya misal rampok atau apa gitu?”. “Enggak mas santai aja pasti aman, kalian tinggal duduk santai aja nikmatin perjalanan kita, pasti kita anter ke tempat tujuan.Saya berani jamin” Obrolan itu lebih terasa wawancara, tapi Geo mencoba mengajak bercanda soal bahasa jawa dengan mas berambut gondrong itu. Rupanya orangnya asik juga gak seseram penampilannya.

Mas gondrong itu pergi meninggalkan kami menuju bagian depan bus. Gue kembali menyibukkan diri memperbaiki jahitan dengan penerangan senter yang gue bawa. “Yo, piso yang tadi mana?” tanya gue. “Ambil aja di head cariel gue”. Gue buka resletingnya, gue ambil pisau itu lalu gue kasih Geo agar pisau itu dikantonginya. “Yo, ini lo pegang aja. Buat jaga-jaga. Kalau ada yang macem-macem, tusuk aja!” perintah gue. “Hah, beneran lo?” Geo malah tertawa, begitupun gue.  Jahitan gue selesaikan, survival kit dan senter kembali gue masukkan ke tempat yang mudah diambil.

Herannya, setiap kali gue akan pergi jauh pasti selalu dibimbangi rasa ingin kencing. Yaudah, gue langsung cabut ke WC umum yang ada di terminal. Gue tinggalkan Geo sendirian. HP yang sejak tadi mati supaya menghemat baterai, akhirnya gue nyalakan, mencoba mengontak Rara. Di WC agak ramai juga, maklum masih maghrib jadi masih banyak yang mondar-mandir mengambil air wudhu.  Gue ingin solat, tapi berhubung ini sudah mau pukul tujuh, gue takut ditinggal bis. Jadinya galau sendiri. Hati jadi tidak tenang karena belum solat.Kembali lagi gue masuk ke dalam bus. Geo sepertinya masih asik dengan musiknya sendiri. Meskipun speaker bus dibagian depan mendendangkan lagu dangdut, di gak mau kalah dengan speaker kecil komputer yang dihubungkan dengan i-pod nya. Lagunya tidak lain adalah agu pesenan gue sebelum berangkan. Mulai dari steven and coconut trees, sampai the beatles menemaninya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: