Empang

Empang : Kearifan Lokal Yang Terlupakan
Oleh : Rizky Ramadhani, 1006700072

Kota Jakarta seringkali dikatakan sebagai kota dengan kehidupan yang keras. Berbagai etnis dengan latar belakang berbeda berbaur membentuk kebudayaan baru yang kemudian disebut sebagai kebudayaan urban. Setiap orang dituntut untuk mampu bertahan hidup. Cara masyarakat urban bertahan hidup sangat beragam diberbagai bidang, salah satunya di bidang perikanan. Masyarakat betawi misalnya, memiliki cara sendiri dalam memanfaatkan lahan untuk pembudidayaan ikan air tawar, yaitu dengan membuat empang.

Empang adalah ekosistem buatan tempat pembudidayaan ikan air tawar konsumsi seperti ikan mas, nila, gurami, lele, patin, dan lain-lain. Dari segi lokasi, empang pada umumnya dibuat di bagian cekungan kontur wilayah, atau lembahan yang umumnya dialiri sungai. Air sungai tersebut kemudian diarahkan ke empang melalui saluran irigasi. Empang biasanya dibuat tidak hanya satu tetapi beberapa buah dalam satu kawasan yang sama. Ukuran empang beragam disesuaikan luas dan kontur tanah. Dalam menjaga stabilitas pH air, empang dilengkapi dengan sistem sirkulasi air yang baik. Artinya, ada grojogan (semacam pancuran) air masuk, dan saluran air keluar, sehingga kualitas kesehatan air tetap terjaga.
Selain sebagai lahan mata pencaharian yang ekonomis, tanpa disadari empang ternyata merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat betawi. Empang yang semula hanya berfungsi sebagai tempat pembudidayaan ikan saja, kini di sadari memiliki fungsi sebagai penampung air saat musim hujan. Ketika air sungai meluap air akan dialirkan melalui saluran irigasi ke empang. Sehingga kelebihan kapasitas air di sungai dapat dipecah dan beban sungai menurun. Kondisi ini akan mengurangi kemungkinan terjadinya banjir yang kerap terjadi di wilayah Jakarta terutama saat musim hujan.

Tidak hanya berfungsi sebagai penampung air, empang juga kini memiliki fungsi rekreasi. Empang saat ini dikembangkan sebagai lahan pemancingan. Bagi para penggiat mancing, sarana pemancingan merupakan sarana yang efektif menghilangkan kepenatan sehari-hari. Tidak heran, saat akhir pekan pemancingan dipenuhi oleh para pemancing. Tentu saja hal itu menambah nilai ekonomi tersendiri pemilik empang.

Empang merupakan bentuk nyata upaya masyarakat betawi memahami dan memanfaatkan lingkungannya. Sayangnya, empang saat ini mulai terlupakan oleh masyarakat. Empang kini semakin tergusur oleh pembangunan pemukiman yang sangat pesat. Empang semakin sulit ditemui di kota Jakarta, hanya beberapa saja yang masih dipertahankan di daerah penyangga seperti Depok, Bekasi dan Tangerang. Itupun dengan kondisi yang memprihatinkan. Pasalnya, empang yang masih bertahan pada umumnya dibuat diatas tanah yang telah dijual kepada pengembang perumahan. Empang yang tersisa sudah bukan milik masyarakat sekitar sendiri, sehingga sudah dapat dipastikan cepat atau lambat juga akan tergusur berganti dengan bangunan perumahan minimalis baru.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: