Filologi di Indonesia

Filologi di Indonesia

Oleh : Rizky Ramadhani, 1006700072 ( Mahasiswa Program Studi Jawa, Universitas Indonesia )

Rangkuman dari buku Pengantar Filologi Jawa oleh Karsono H. Saputra, Widya Sastra

 

  • Filologi di Indonesia merupakan bidang ilmu yang mempelajari tentang naskah dan teks lama. Kajian filologi terbagi menjadi dua bagian yakni kodikologi dan tekstologi. 
  • Kodikologi merupakan ilmu yang mempelajari  tentang wujud fisik naskah seperti alas tulis, sampul, tinta, rubrikasi, iluminasi, aksara dan lain-lain yang sifatnya dapat dilihat, diraba, dipegang, atau dirasakan. 
  • Tekstologi adalah kajian ilmu yang mempelajari tentang kandungan isi teks dari suatu naskah yang dinyatakan dalam bahasa atau tanda lain yang sesuai dengan jenis wacananya. 
  • Naskah dan teks merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Naskah merupakan wadah sedangkan teks berupa isi.
  • Untuk membaca suatu teks, seseorang harus menguasai tentang aksara serta ejaannya, memahami bahasa yang digunakan, memiliki pengetahuan budaya sehingga tidak terjadi kesalah pengertian isi teks. 
  • Antara teks tulis teks lisan dan karya seni lainnya kadang kala memiliki hubungan intertekstual. 
  • Teks ditulis berkemungkinan berpangkal dari teks lisan kemudian ditulis kemudian dilisankan kembali atau sebaliknya dari teks tulis kemudian dilisankan, kemudian ditulis kembali, dan seterusnya.
  • Perbedaan antara naskah dan buku terletak pada keberadaannya sebagai wujud suatu benda. Naskah bersifat khas dalam pengertian tidak ada duanya karena setiap naskah tidak ada yang sama persis meskipun dengan penulis dan jenis naskah yang sama.
  • Pengertian naskah dalam kajian sastra lama mengandung matra khas dan lama. Pengertian lama mengacu pada ketradisonalan wujud naskah yaitu terkait alas tulis, aksara, proses produksi yang memiliki matra jarak waktu dan jarak budaya. Istilah matra lama juga memiliki pengertian bahwa naskah berupa peninggalan tertulis
  • Perbedaan naskah dan prasasti sebagai peninggalan tertulis :
  • Naskah  beralas tulis yang umumnya mudah lapuk, berkemungkinan direproduksi, isinya kemungkinan berpanjang-panjang, kebanyakan bersifat fiksi, dan memiliki mobilitas yang cukup tinggi
  • Prasasti menggunakan alas tulis berupa benda keras seperti batu, tidak pernah digandakan, isinya pendek, biasanya berisi suatu perkara, isi merupakan fakta yang benar-benar terjadi, relative berada dilokasi semula kecuali keperluan tertentu
  • Alas tulis merupakan bahan yang ditulisi pada suatu naskah. Teknik pembuatan alas tulis beragam tergantung bahan dan teknologi yang dikuasai oleh masyarakat.
  • Bahan alas tulis yang umum digunakan dalam pernaskahan di Nusantara antara lain: daun nipah, rontal, bambu, kulit kayu, daluang atau dluwang.
  • Kertas eropa mulai digunakan di Nusantara setelah VOC masuk. Penggunaan kertas Eropa di Nusantara berkembang karena faktor kepraktisan dalam penyedian, proses penulisan, serta penjilidannya. 
  • Pada masa Jawa kuna tradisi pernaskahan juga mengenal karas dan pundak sebagai alas tulis.
  • Aksara, selain sebagai alat bantu komunikasi juga dapat menjadi sarana perekam cara berpikir, adat, norma, dan unsur budaya, yang dapat menjadi sarana dokumentasi budaya. Aksara naskah-naskah nusantara memiliki nuansa kedaerahan karena masing-masing aksara mewakili suatu daerahnya sendiri
  • Keragaman bahasa yang digunakan turut memperkaya tradisi pernaskahan Nusantara. Dengan memperhatikan bahasa yang digunakan suatu naskah, kita dapat memperkirakan dari lingkup mana serta dari masa kapan teks tersebut berasal.
  • Objek komunikasi suatu naskah adalah teks, dan bersifat searah. 
    • Pemahaman aksara diperlukan dalam membaca teks. Bentuk aksara, alfabet, ejaan yang digunakan suatu naskah berkemungkinan berbeda dengan saat ketika naskah dibaca. Kekhasan gaya dan corak penyalinan atau penulisan naskah turut memperkaya keragaman tradisi pernaskahan.
    • Bahasa merupakan sarana ungkap teks Sistem suatu bahasa berkemungkinan berbeda terkait sifatnya yang dinamis dari masa ke masa. Sehingga dibutuhkan adanya pemahaman bahasa dalam memahami teks.
    • Prosodi sastra juga dibatasi oleh ruang dan waktu, pemahaman kaidah sastra akan membantu pemahaman suatu teks. 
    • Pembaca teks masa lalu harus memahami konvensi budaya ketika teks tersebut diciptakan, sehingga  pembaca akan memahami isi teks secara utuh.
    • Teks pada dasarnya mengandung rekaman unsur budaya, serta memiliki keanekaragaman kandungan isi.
    • Pengelompokan isi teks berbeda-beda tergantung sudut pandang yang digunakan.
  • Pengetahuan mengenai kapan suatu teks ditulis membantu menafsirkan makna teks bersangkutan, atau malah sebaliknya.
  • Umur naskah dapat diketahui dari alas tulis, kolofon, dan kelopak naskah. Selain itu bisa juga dengan analisis kimiawi meskipun lebih sulit.
  • Umur teks dapat dicari dari manggala, tafsiran nama dan peristiwa sejarah yang termaktub, atau melalui perbandingan aspek kebahasaan.
  • Naskah nusantara banyak tersebar diberbagai negara di dunia, penyebabnya antara lain, perdagangan, hadiah kepada pihak tertentu, pemaksaan atau perampasan, atau bahkan penggabungan sebab-sebab tersebut.
  • Katalog merupakan daftar naskah yang disimpan oleh suatu lembaga. Informasi awal mengenai suatu naskah didapat dari katalog. Semakin luas informasi suatu katalog semakin baik pula katalog tersebut. 
  • Mata rantai proses penciptaan suatu teks berkemungkinan dari teks lisan kemudian menjadi teks tulis kemudian menjadi teks lisan lagi, kemudian menjadi teks tulis, dan seterusnya atau kebalikannya. 
    • Tujuan penciptaan suatu teks disesuaikan dengan situasi budaya ketika ketika suatu teks ditulis.
    • Teks kemungkinan ditulis untuk mencatat peristiwa yang terjadi pada saat itu. Selain itu kemungkinan juga ditulis atas perintah penguasa, persembahan, atau akumulasi dari berbagai alasan itu.
    • Penyalinan naskah atau reproduksi naskah menyebabkan suatu teks terawetkan.
    • Tradisi penyalinan teks terbagi menjadi dua jenis yaitu penyalinan terbuka dan penyalinan tertutup. Penyalinan terbuka adalah proses penyalinan yang dilakukan yang sifatnya tidak setia terhadap naskah induk yang disalinnya. Sementara itu, penyalinan tertutup adalah proses penyalinan yang ditulis sama persis dengan naskah induknya, meskipun berkemungkinan terjadi dittografi.
    • Alasan suatu naskah disalin yaitu untuk melestarikan teks dari suatu kepunahan, ingin memiliki teks, atas perintah pihak lain, atau alasan ekonomi.
    • Skriptorium adalah tempat berlangsungnya suatu penciptaan teks. Skriptorium terbagi menjadi dua bagian yaitu, skriptorium keraton dan skriptorium luar keraton. Skriptorium luar keraton contohnya pesantren dan mandala.
    • Skriptorium bersangkut paut pada unsur-unsur naskah dan isi teks, serta terkait pada umur naskah dan umur teks.
    • Pengarang adalah orang yang melahirkan suatu teks atau orang yang melahirkan karya pertama kali. Pengarang, dalam tradisi pernaskahan jawa disebut juga sebagai pujangga.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: